Flores Timur Panen Raya Inpari 32: Benih Unggul dan Pendampingan, Kunci Sukses Pertanian Berkelanjutan

BUGALIMA - Di ujung timur Pulau Flores, tepatnya di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kabar gembira itu datang dari sawah. Para petani di Desa Pepageka, Kecamatan Kelubagolit, Kelompok Tani Waibolen, baru saja merayakan keberhasilan panen padi varietas Inpari 32. Lahan seluas 3,5 hektare yang menjadi bagian dari program Luas Tambah Tanam (LTT) Reguler Tahun 2026 ini telah memberikan hasil yang memuaskan. Ini bukan sekadar cerita panen biasa, ini adalah bukti nyata bagaimana kombinasi antara benih unggul dan pendampingan intensif bisa menjadi kunci sukses dalam mewujudkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

Kegiatan panen ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Flores Timur, Ignas Uran Boli. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah penegasan komitmen pemerintah daerah terhadap sektor pertanian. "Varietas Inpari 32 ini pilihan yang baik karena setelah panen masih dapat dijadikan benih kembali. Berbeda dengan padi hibrida yang tidak bisa digunakan kembali sebagai benih," ujar Wakil Bupati Ignas. Pernyataan ini sangat penting. Petani seringkali dihadapkan pada dilema ketersediaan benih berkualitas dan biaya yang terus meningkat. Dengan Inpari 32, mereka mendapatkan solusi ganda: produktivitas tinggi dan kemampuan untuk menyimpan benih sendiri, yang secara signifikan mengurangi biaya produksi di musim tanam berikutnya.

Sumber: Pixabay

Keberhasilan ini tidak datang begitu saja. Di balik bulir-bulir padi yang menguning keemasan, ada kerja keras dan sinergi yang luar biasa. Pemerintah Desa Pepageka turut berperan aktif dengan membantu penyediaan benih berlabel bagi petani. Ini adalah jawaban atas kesulitan yang selama ini dihadapi petani dalam mengakses benih berkualitas. Seringkali, benih yang beredar di pasaran tidak memiliki label atau kualitas yang terjamin, yang pada akhirnya berdampak pada hasil panen yang kurang optimal.

Selain dukungan penyediaan benih, faktor krusial lainnya adalah pendampingan intensif dari Penyuluh Pertanian, Boro Bebe Riantobi. Beliau memastikan bahwa penerapan teknologi budidaya dan pengelolaan tanaman berjalan sesuai dengan kaidah yang benar. Mulai dari penyiapan lahan, pemupukan yang tepat, hingga pengendalian hama dan penyakit, semua dipantau dan dibimbing. Pendampingan seperti inilah yang seringkali menjadi pembeda antara petani yang stagnan dengan petani yang terus berkembang. Pengetahuan dan keterampilan yang terus diperbarui melalui pendampingan membuat petani lebih percaya diri dalam mengelola lahannya.

Tentang Varietas Inpari 32: Si Unggul yang Berdaya Guna

Mari kita bedah sedikit tentang Inpari 32. Varietas ini bukan produk kemarin sore. Dirilis pada tahun 2013, Inpari 32 merupakan hasil persilangan antara Ciherang dan IRBB64. Ia dikenal memiliki produktivitas yang mengesankan, dengan potensi hasil mencapai 8,42 ton per hektare gabah kering giling (GKG) dan rata-rata hasil sekitar 6,30 ton per hektare GKG. Tingginya mencapai sekitar 97 cm, dengan daun bendera yang tegak.

Keunggulan Inpari 32 tidak berhenti di situ. Varietas ini juga memiliki ketahanan terhadap beberapa penyakit penting pada tanaman padi, seperti hawar daun bakteri (kresek) dan blas. Ketahanan ini sangat berharga, terutama di daerah yang rentan terhadap serangan penyakit tersebut. Bayangkan saja, berapa banyak kerugian yang bisa dihindari petani berkat sifat tahan penyakit ini. Selain itu, seperti yang disampaikan Wakil Bupati Ignas, Inpari 32 memiliki kemampuan untuk dijadikan benih kembali, menjadikannya pilihan yang ekonomis dan berkelanjutan.

Di berbagai daerah di Indonesia, Inpari 32 telah membuktikan diri sebagai varietas yang diadopsi luas. Di Indramayu, Jawa Barat, misalnya, Inpari 32 bahkan telah menggeser dominasi varietas Ciherang. Produktivitasnya yang tinggi mampu memberikan keuntungan finansial yang lebih baik bagi petani. Di Kalimantan Selatan, petani di Tapin juga melaporkan peningkatan gabah hingga 15 persen berkat penggunaan Inpari 32 HDB, dengan rata-rata hasil 5,9 ton per hektare, lebih tinggi dari Ciherang yang rata-rata 5 ton per hektare.

Sinergi Tiga Pilar: Petani, Pemerintah, dan Penyuluh

Keberhasilan panen di Flores Timur ini adalah cerminan dari sinergi yang kuat antara tiga pilar utama pembangunan pertanian: petani sebagai pelaku utama, pemerintah sebagai fasilitator dan regulator, serta penyuluh sebagai pendamping teknis.

Para petani di Kelompok Tani Waibolen telah menunjukkan semangat juang yang tinggi, mau belajar, dan menerapkan teknologi baru. Mereka adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dengan kondisi lapangan.

Pemerintah Daerah Flores Timur, melalui Wakil Bupati Ignas Uran Boli dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, telah menunjukkan dukungan nyata. Mulai dari penyediaan benih, memfasilitasi kegiatan, hingga memberikan apresiasi dan motivasi. Kebijakan yang pro-petani seperti ini sangat krusial untuk mendorong sektor pertanian.

Penyuluh Pertanian, seperti Boro Bebe Riantobi, adalah jembatan antara ilmu pengetahuan dan praktik di lapangan. Keberadaan mereka memastikan bahwa program-program pemerintah berjalan efektif dan petani mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan. Tanpa penyuluh, teknologi secanggih apapun akan sulit diadopsi oleh petani.

Kehadiran Anggota DPRD Kabupaten Flores Timur, Basir Kebesa Raya, serta perwakilan dari Kecamatan Kelubagolit dan Babinsa Kecamatan Kelubagolit, juga menunjukkan adanya dukungan lintas sektoral. Ini memperkuat keyakinan bahwa pertanian adalah tanggung jawab bersama.

Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Panen Inpari 32 di Flores Timur ini bukan sekadar akhir dari sebuah siklus tanam, melainkan sebuah awal dari upaya berkelanjutan untuk mewujudkan ketahanan pangan. Hasil panen yang melimpah diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan ketersediaan beras, memperkuat ketahanan pangan masyarakat, dan mendukung pencapaian target swasembada pangan secara nasional.

Kisah sukses ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi kelompok tani lainnya di Flores Timur maupun di daerah lain. Bahwa dengan benih unggul yang tepat, didukung oleh pendampingan yang intensif dan kemitraan yang solid antara petani, pemerintah, dan penyuluh, sektor pertanian dapat terus berinovasi dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian bangsa.

Perjalanan menuju swasembada pangan memang tidak selalu mulus, namun dengan semangat kolaborasi dan pemanfaatan teknologi pertanian yang tepat guna, mimpi tersebut semakin terasa dekat. Flores Timur telah membuktikan, benih unggul dan pendampingan adalah kunci yang membuka pintu menuju panen yang sukses dan masa depan pertanian yang lebih cerah.

Source: https://tabloidsinartani.com/berita/flores-timur-sukses-panen-inpari-32-benih-unggul-dan-pendampingan-jadi-kunci.html



#Flores Timur #Inpari 32 #Ketahanan Pangan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama