BUGALIMA - Kabar duka kembali menyelimuti tanah Flores Timur. Kali ini, berita duka datang dari tanah pengabdian di ujung timur Indonesia, Papua Selatan. Polikarpus Lewohala Hayon, seorang putra terbaik Flores Timur yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik, ditemukan meninggal dunia di Kabupaten Mappi, Papua Selatan. Kepergiannya yang mendadak ini tidak hanya menyisakan luka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menambah daftar panjang para guru asal Flores Timur yang gugur dalam tugas di tanah Papua.
Mina Fernandez, ibu dari almarhum Polikarpus, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan detik-detik terakhir sebelum mendengar kabar duka tersebut. "Tadi kami dengar berita dia meninggal tadi pagi dalam keadaan tertelungkup. Jadi kami tidak tahu alasan apa. Kami juga tidak tahu kondisinya bagaimana," tuturnya pilu. Polikarpus, yang berstatus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), mengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Upin, Kampung Upin, Distrik Minyamur. Ia telah mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa di daerah terpencil sejak tahun 2022, setelah mengikuti tes PPPK dan ditempatkan di sana.
| Sumber: Pixabay |
Bagi Mina dan keluarga, kehilangan Polikarpus terasa begitu menyakitkan. Terlebih lagi, almarhum baru saja menelepon ibunya pada Sabtu (6/6/2026), mengungkapkan kerinduannya untuk pulang kampung. Lima tahun tak pernah kembali ke Flores Timur, Polikarpus berencana pulang minggu depan untuk merayakan ulang tahunnya yang jatuh pada tanggal 21 Juni 2026 bersama sang ibu. "Dia mau minggu depan (pulang kampung) untuk merayakan ulang tahunnya pada tanggal 21 Juni 2026 bersama saya ibunya," terang Mina dengan suara bergetar. Sayangnya, rencana indah itu kini tinggal kenangan.
Perjuangan Pendidik di Tanah Papua
Kisah Polikarpus bukanlah cerita tunggal. Masih banyak putra-putri Nusa Tenggara Timur, khususnya dari Flores Timur, yang memilih jalan pengabdian sebagai guru di daerah-daerah terpencil di Papua. Mereka meninggalkan kenyamanan kampung halaman demi mencerdaskan anak bangsa di wilayah yang seringkali minim fasilitas dan akses. Polikarpus adalah salah satu dari mereka. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Yogyakarta, ia tidak memilih jalur karier yang lebih mudah di kota besar. Sebaliknya, ia memilih berangkat ke Papua untuk menjadi guru honorer, sebelum akhirnya diangkat menjadi PPPK.
Dedikasi dan semangat juang Polikarpus patut diapresiasi. Ia mengajar di SD Negeri Upin, sebuah sekolah yang berlokasi di daerah yang jauh dari keramaian dan fasilitas pendidikan memadai. Namun, bagi Polikarpus, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah panggilan hidup. Ia dikenal sebagai pribadi yang sederhana, ramah, dan memiliki semangat besar untuk mendidik anak-anak di wilayah terpencil.
Harapan Terakhir Sang Ibu
Di tengah kesedihan yang mendalam, Mina Fernandez memiliki satu harapan terakhir yang sangat besar: agar jenazah putranya dapat dipulangkan ke tanah kelahirannya di Flores Timur. "Saya ingin anak saya kembali ke pangkuan saya. Rahim saya yang melahirkan, saya ingin memeluknya untuk terakhir kali sebelum dimakamkan. Tolonglah saya. Bantulah kami supaya anak saya bisa dipulangkan ke Flores Timur," pinta Mina dengan penuh harap.
Permohonan Mina ini bukan tanpa alasan. Ia ingin memeluk putranya untuk terakhir kalinya di kampung halaman, dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang yang mencintainya. Namun, keinginan ini dihadapkan pada kenyataan pahit. Pihak keluarga di Papua dikabarkan ingin agar jenazah dimakamkan di sana, namun Mina berkeras agar putranya bisa dimakamkan di Solor, kampung halamannya. "Orang-orang di Papua mau mayatnya dimakamkan di Papua, saya tidak mau karena selama ini anak saya tidak bersama dan belum pulang kampung. Jadi biar apa pun terjadi dia harus pulang ke Solor," tegas Mina.
Sayangnya, pemulangan jenazah dari Papua Selatan ke Nusa Tenggara Timur bukanlah perkara mudah. Keterbatasan biaya dan berbagai proses birokrasi yang harus ditempuh menjadi kendala utama. Hal ini menambah beban duka bagi keluarga yang sedang berduka.
Tragedi yang Berulang
Kepergian Polikarpus Hayon bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Sejarah mencatat beberapa kasus serupa, di mana para guru asal Flores Timur maupun daerah lain di NTT meninggal dunia saat bertugas di tanah Papua. Beberapa tahun lalu, seorang guru bernama Rosalina Rerek Sogen juga menjadi korban serangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Yahukimo, Papua. Peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam dan menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan para tenaga pendidik di daerah konflik.
Tragedi seperti ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan semua pihak terkait. Perlu ada upaya konkret untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan para guru yang bertugas di daerah-daerah terpencil dan rawan konflik. Perlindungan hukum, peningkatan fasilitas, serta dukungan moril dan materil menjadi kunci agar para pendidik ini dapat menjalankan tugasnya dengan tenang dan aman.
Kisah Polikarpus Hayon adalah pengingat akan pengorbanan luar biasa para guru di pelosok negeri. Doa dan harapan terbaik menyertai keluarga yang ditinggalkan. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan semoga semangat pengabdiannya terus menginspirasi generasi penerus. Permohonan keluarga untuk pemulangan jenazah agar dapat segera terwujud, memberikan ketenangan terakhir bagi sang pahlawan tanpa tanda jasa ini. Source: Kompasiana.com
#Pendidikan #Papua #Flores Timur