BUGALIMA - Berita duka datang dari tanah Papua Selatan. Seorang pahlawan tanpa tanda jasa, guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), bernama Polikarpus Lewohala Hayon, ditemukan meninggal dunia di Kelurahan Kepi, Distrik Obaa, Kabupaten Mappi, Papua Selatan, pada Senin pagi (8/6/2026). Penemuan jenazahnya yang dalam keadaan tertelungkup menyisakan tanya dan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Polikarpus, yang mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa di daerah terpencil, meninggalkan kampung halamannya di Pulau Solor, Flores Timur, untuk mengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Upin, Kampung Upin, Distrik Minyamur, Mappi. Ia diketahui mengikuti tes PPPK pada tahun 2022 dan ditempatkan di wilayah yang membutuhkan tenaga pendidik. Perjuangan para guru di daerah seperti Papua seringkali tidak hanya dihadapkan pada tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas, tetapi juga ancaman keamanan yang mengerikan.
| Sumber: Pixabay |
Kisah Polikarpus ini mengingatkan kita pada tragedi serupa yang pernah menimpa para pendidik di tanah Papua. Beberapa waktu lalu, Rosalina Barek Sogen, seorang guru asal Flores Timur lainnya, juga tewas secara mengenaskan akibat serangan kelompok bersenjata di Yahukimo, Papua Pegunungan. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan mendalam dan pertanyaan tentang keamanan para tenaga pendidik di wilayah tersebut.
***
Kepingan Ingatan dari Kampung Halaman
Jauh di timur Indonesia, di Pulau Solor, Flores Timur, kesedihan menyelimuti keluarga besar Polikarpus. Ibunda tercinta, Mina Fernandez, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. Ia terakhir kali berkomunikasi dengan putranya pada Sabtu (6/6/2026), dua hari sebelum penemuan jenazahnya. Dalam percakapan itu, Polikarpus menyampaikan kerinduannya untuk pulang kampung. Sudah lima tahun ia tidak pernah kembali ke tanah kelahirannya, dan ia berencana pulang pada minggu depan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-21. Rencana yang indah itu kini tinggallah kenangan pahit.
Mina Fernandez memiliki harapan besar agar jenazah putranya dapat dimakamkan di kampung halaman. "Orang-orang di Papua mau mayatnya dimakamkan di Papua, saya tidak mau karena selama ini anak saya tidak bersama dan belum pulang kampung. Jadi biar apa pun terjadi dia harus pulang ke Solor," ujarnya dengan nada pilu. Keinginan seorang ibu untuk memeluk putra tercinta untuk terakhir kalinya ini sungguh mengharukan.
***
Tantangan Pendidikan di Ujung Negeri
Kasus tewasnya Polikarpus Lewohala Hayon di Papua Selatan menambah daftar panjang tragedi yang menimpa para pahlawan pendidikan di Indonesia Timur. Keberanian dan dedikasi para guru seperti Polikarpus patut diapresiasi setinggi-tingginya. Mereka rela meninggalkan kenyamanan keluarga demi mengemban tugas mulia mencerdaskan anak-anak bangsa di daerah yang seringkali luput dari perhatian.
Kondisi keamanan di Papua Selatan, khususnya di wilayah Mappi, menjadi sorotan penting. Insiden ini terjadi di tengah situasi yang dilaporkan kurang kondusif, bahkan ada laporan mengenai warga yang mengungsi akibat gejolak keamanan yang dipicu oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Keberadaan KKB di wilayah Papua memang telah lama menjadi ancaman serius, tidak hanya bagi aparat keamanan, tetapi juga bagi masyarakat sipil, termasuk para pendidik.
Refleksi dan Harapan
Kematian Polikarpus Lewohala Hayon harus menjadi momentum bagi kita semua untuk merefleksikan kondisi pendidikan dan keamanan di daerah terpencil, terutama di Papua. Pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk memastikan keselamatan para pendidik yang bertugas di wilayah-wilayah rawan. Perlindungan maksimal harus diberikan kepada mereka, agar tragedi serupa tidak terus berulang.
Pemerintah Daerah Mappi, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat, memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk mengusut tuntas penyebab kematian Polikarpus. Selain itu, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan keamanan di Papua untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua pihak, termasuk para guru yang menjalankan tugas negara.
Perjuangan para guru PPPK seperti Polikarpus adalah cerminan nyata dari pengabdian tanpa pamrih. Mereka adalah aset bangsa yang harus dilindungi dan dihargai. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik tugas mulia mengajar, ada nyawa yang dipertaruhkan demi masa depan generasi penerus bangsa. Source: https://news.detik.com/berita/d-7370436/guru-pppk-asal-flores-timur-tewas-di-papua-selatan
#Guru PPPK #Papua Selatan #Flores Timur