BUGALIMA - Perubahan itu keniscayaan, terutama dalam tata kelola lembaga pemasyarakatan yang kian dituntut modern, transparan, dan akuntabel. Di ujung timur Pulau Flores, tepatnya di Rutan Larantuka, sebuah langkah revolusioner tengah disiapkan. Bukan sekadar wacana, tapi sebuah kesiapan nyata untuk beralih ke sistem transaksi non-tunai bagi seluruh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Sebuah gebrakan yang patut diapresiasi, sejalan dengan semangat reformasi birokrasi dan digitalisasi yang digaungkan pemerintah.
Langkah ini bukan datang tiba-tiba. Pada Senin, 8 Juni 2026, Rutan Larantuka menunjukkan keseriusannya dengan menggelar koordinasi bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pertemuan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah fondasi awal untuk pengadaan kartu Brizzi, alat transaksi elektronik yang akan menjadi nadi pergerakan ekonomi di dalam rutan. Kepala Subseksi Pelayanan Tahanan Rutan Larantuka, Harianto Agusto Lanus, bersama perwakilan BRI, membedah tuntas mekanisme penerbitan hingga penggunaan kartu tersebut. Tujuannya jelas: seluruh kebutuhan harian WBP, mulai dari makanan, minuman, hingga kebutuhan pokok lainnya di koperasi rutan, akan beralih ke sistem *cashless*.
| Sumber: Pixabay |
Inisiatif ini bukan sekadar tren mengikuti zaman, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk menjawab berbagai persoalan klasik yang kerap membayangi lembaga pemasyarakatan. Salah satu yang paling krusial adalah peredaran uang tunai. Keberadaan uang tunai di dalam rutan ibarat bara api dalam sekam; potensi penyalahgunaan, pungutan liar (pungli), hingga praktik ilegal lainnya selalu mengintai. Dengan sistem non-tunai, peredaran uang fisik tersebut akan dieliminasi. Pengawasan transaksi menjadi jauh lebih mudah, efektif, dan minim celah untuk praktik-praktik menyimpang. Ini adalah langkah konkret untuk mewujudkan *zero pungli* dan menciptakan lingkungan rutan yang lebih bersih dan tertib.
Revolusi Transaksi untuk Keamanan dan Akuntabilitas
Peralihan ke transaksi non-tunai ini memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar memudahkan pembelian kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, ini adalah sebuah revolusi dalam tata kelola keamanan dan akuntabilitas di Rutan Larantuka. Dengan menggunakan kartu elektronik seperti Brizzi, setiap transaksi akan tercatat secara digital. Ini berarti, pihak rutan memiliki jejak audit yang jelas untuk setiap pengeluaran dan pemasukan. Transparansi menjadi kunci utama, meminimalkan potensi manipulasi dan penyalahgunaan wewenang.
Bayangkan saja, ketika semua transaksi tercatat secara digital, akan sangat mudah untuk melacak aliran dana, mengidentifikasi pola pengeluaran yang mencurigakan, dan bahkan mencegah potensi praktik pencucian uang atau penyelewengan dana lainnya. Ini bukan hanya tentang mengamankan WBP dari potensi eksploitasi oknum tak bertanggung jawab, tetapi juga tentang membangun sistem yang kokoh, yang mampu memberikan pertanggungjawaban penuh kepada publik.
Membangun Kemandirian dan Literasi Keuangan WBP
Selain aspek keamanan dan akuntabilitas, penerapan sistem transaksi non-tunai ini juga memiliki potensi besar dalam membina kemandirian dan literasi keuangan bagi WBP. Ketika mereka terbiasa bertransaksi menggunakan kartu elektronik, secara tidak langsung mereka telah dilatih untuk mengelola keuangan secara modern. Ini adalah bekal berharga ketika mereka nanti kembali ke masyarakat.
Dalam dunia yang semakin digital, kemampuan mengelola transaksi non-tunai bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Dengan terbiasa menggunakan kartu Brizzi di dalam rutan, WBP akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi di luar sana. Mereka akan memiliki pemahaman dasar tentang bagaimana menggunakan alat pembayaran elektronik, bagaimana mengontrol pengeluaran, dan bagaimana menjaga keamanan transaksi digital mereka.
BRI sendiri menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh program ini. Mulai dari edukasi hingga aktivasi kartu, semua akan difasilitasi. Implementasi akan dilakukan secara bertahap, memastikan bahwa seluruh WBP dapat memahami dan beradaptasi dengan mekanisme transaksi yang baru. Pendekatan bertahap ini sangat penting untuk menghindari kebingungan dan memastikan kelancaran transisi.
Menuju Tata Kelola Pemasyarakatan yang Modern
Inisiatif Rutan Larantuka ini merupakan bagian integral dari upaya yang lebih besar untuk mewujudkan tata kelola pemasyarakatan yang modern. Sebagaimana diungkapkan dalam berbagai kajian, termasuk yang membahas tentang transformasi tata kelola transaksi non-tunai dalam rangka pencegahan pungutan liar di Lapas/Rutan, sistem ini mendorong inovasi digital dan transparansi dalam layanan keuangan warga binaan. Dengan sistem non-tunai, perputaran uang di dalam rutan dapat dimonitor secara akurat.
Meskipun belum ada regulasi nasional yang secara spesifik mengatur penggunaan transaksi non-tunai di lingkungan pemasyarakatan, semangat untuk mewujudkan layanan yang transparan, akuntabel, dan bebas pungli terus digaungkan. Inisiatif seperti yang dilakukan Rutan Larantuka ini menjadi contoh nyata bagaimana lembaga pemasyarakatan dapat berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi demi menciptakan lingkungan yang lebih baik.
Kepala Rutan Larantuka, Jaka Putra, sebelumnya juga telah menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas. Langkah penerapan transaksi non-tunai ini sejalan dengan semangat Pemasyarakatan yang mengedepankan pelayanan prima serta memberikan manfaat nyata bagi publik. Ini menunjukkan bahwa Rutan Larantuka tidak hanya fokus pada aspek keamanan, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup dan pembinaan WBP.
Tentu saja, implementasi sistem baru seperti ini tidak lepas dari tantangan. Resistensi dari sebagian pihak, baik petugas maupun WBP yang mungkin belum terbiasa, bisa saja muncul. Namun, dengan sosialisasi yang intensif, edukasi yang memadai, dan dukungan penuh dari pihak perbankan serta internal, hambatan tersebut dapat diatasi. Kerjasama dengan pihak perbankan seperti BRI menjadi kunci utama, memastikan ketersediaan infrastruktur, keamanan, dan kemudahan penggunaan.
Pada akhirnya, Rutan Larantuka tengah menapaki jalan menuju era baru pelayanan pemasyarakatan. Dengan kesiapan menerapkan sistem transaksi non-tunai, mereka tidak hanya berupaya menciptakan lingkungan yang lebih aman, tertib, dan bebas pungli, tetapi juga membekali WBP dengan keterampilan yang relevan untuk masa depan. Ini adalah langkah maju yang patut didukung, sebuah bukti bahwa inovasi dapat hadir bahkan di tempat yang paling tidak terduga sekalipun.
Source: https://rri.co.id/regional/2026/06/09/rutan-larantuka-siapkan-sistem-transaksi-non-tunai-bagi-wbp/
#Rutan Larantuka #Transaksi Non Tunai #Warga Binaan