BUGALIMA - Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan duka mendalam dan luka fisik bagi ribuan warganya. Di tengah kepedihan dan ketidakpastian, hadir secercah harapan melalui kehadiran tim kesehatan dari Polres Flores Timur (Flotim). Kehadiran mereka bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan wujud nyata kepedulian dan kemanusiaan yang menyentuh relung hati para pengungsi yang terdampak musibah.
Sentuhan Kemanusiaan di Tenda Pengungsian
| Sumber: Pixabay |
Pada Rabu, 19 Agustus 2026, suasana di tenda pengungsian Kelurahan Mbay 1, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, terasa berbeda. Di tengah keterbatasan dan keprihatinan, tim kesehatan dari Polres Flores Timur tiba membawa semangat baru. Dipimpin oleh Aiptu Oskar A. Lobo, bersama Bripda Johanis Neuman Raga dan Bripda Inosensius Djawa, mereka bergabung dengan petugas Sidokkes Nagekeo untuk memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada para pengungsi.
Kegiatan ini merupakan bentuk respons cepat dan empati Polres Flores Timur terhadap musibah yang menimpa saudara-saudara mereka di Nagekeo. Kapolres Nagekeo bersama sejumlah pejabat utama Polres Nagekeo turut hadir mendampingi, memberikan dukungan moril sekaligus memastikan pelayanan kesehatan berjalan optimal. Kehadiran tim kesehatan ini sangat krusial, mengingat gempa bumi M 7,7 yang berpusat di Mbay, Kabupaten Nagekeo, telah menyebabkan kerusakan parah. Data mencatat 10 orang meninggal dunia dan 26 orang luka-luka, bahkan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Kerusakan infrastruktur juga tak terhindarkan, termasuk kantor pemerintahan dan rumah dinas.
Pelayanan Komprehensif: Lebih dari Sekadar Pemeriksaan
Pelayanan kesehatan yang diberikan tim dari Polres Flotim tidak hanya sebatas pemeriksaan medis biasa. Mereka hadir untuk memastikan para pengungsi mendapatkan penanganan yang memadai selama berada di lokasi pengungsian sementara. Ini mencakup pemeriksaan umum, pemberian obat-obatan, hingga penanganan keluhan kesehatan yang mungkin timbul akibat stres pascagempa atau kondisi pengungsian.
Kasi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer A. Kalelado, menjelaskan bahwa keterlibatan personel Polres Flotim adalah bentuk kepedulian jajarannya. "Kehadiran anggota di tengah pengungsi diharapkan membantu memberikan pelayanan, rasa aman, serta dukungan moril bagi warga terdampak," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan bencana, di mana aspek kesehatan fisik dan psikologis sama-sama mendapat perhatian. Sinergi antara Polri, tenaga kesehatan, dan unsur terkait memang menjadi kunci dalam menangani kebutuhan warga terdampak secara cepat dan efektif.
Respons Cepat dan Sinergi Lintas Wilayah
Tindakan Polres Flores Timur mengirimkan tim kesehatannya ke Kabupaten Nagekeo menunjukkan adanya sinergi yang kuat antarwilayah dalam menghadapi bencana. Ini bukan kali pertama jajaran kepolisian menunjukkan kepeduliannya. Sebelumnya, Polres Ngada juga dilaporkan mendampingi pengungsi memulihkan trauma gempa, sementara Polres Manggarai Timur membagikan makanan untuk pengungsi pascagempa. Hal ini membuktikan bahwa penanganan bencana di NTT adalah upaya bersama, melibatkan berbagai elemen dari berbagai daerah.
Peran aktif kepolisian dalam penanganan bencana memang sangat vital. Mulai dari membantu evakuasi, memberikan rasa aman, hingga memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Seperti dilaporkan oleh RRI.co.id, pada Agustus 2026, BNPB bersama Kementerian Sosial telah bekerja sama menyiapkan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan para pengungsi. Selain itu, BNPB juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk menambah tenaga kesehatan.
Mengatasi Kebutuhan Mendesak di Tengah Krisis
Gempa bumi di Nagekeo tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan berbagai persoalan turunan. Salah satu yang paling mendesak adalah ketersediaan air bersih. Laporan dari Kompas Regional menyebutkan bahwa akses air bersih terputus akibat tanah longsor yang dipicu gempa, memaksa warga harus membeli air dengan harga tinggi. Di sisi lain, Polsek Riung Polres Ngada juga telah menyalurkan bantuan 5.000 liter air bersih kepada warga terdampak gempa yang mengalami kesulitan air bersih. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar seperti air bersih menjadi prioritas utama dalam penanganan pascagempa.
Selain kebutuhan fisik, pemulihan psikologis juga menjadi perhatian penting, terutama bagi anak-anak. Upaya trauma healing dan penyediaan perpustakaan keliling telah dilakukan di posko pengungsian GOR Samador, Kabupaten Sikka, untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan dan mengurangi kecemasan.
Semangat Pengabdian yang Tak Padam
Tindakan Polres Flores Timur mengirimkan tim kesehatannya ke Nagekeo adalah cerminan dari semangat pengabdian Polri kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan peringatan Hari Juang Polri yang menekankan komitmen pelayanan publik dan penguatan pengabdian. Dalam situasi bencana, peran aparat keamanan tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam memberikan pertolongan dan dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk kepolisian, pemerintah daerah, dan badan penanggulangan bencana, sangat krusial untuk mempercepat pemulihan pascagempa. Koordinasi yang kuat antarinstansi, seperti yang disampaikan oleh Ketua Pemuda Bulan Bintang NTT, Rian Hidayat, menjadi kunci agar seluruh kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi secara terencana dan akuntabel. Dengan adanya sinergi dan kepedulian, diharapkan masyarakat Nagekeo dapat segera bangkit dari keterpurukan dan kembali menata kehidupan mereka.
Source: RRI.co.id
#Pelayanan Kesehatan Gempa #Polres Flotim Peduli #Pengungsi Nagekeo