BUGALIMA - Sebuah peristiwa bersejarah dan penuh makna spiritual baru saja menyentuh tanah Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara Timur. Dua relikui yang berasal dari Basilika Santo Petrus di Vatikan kini telah tiba dan disambut dengan penuh suka cita dan devosi oleh ratusan umat di Stasi Santo Petrus Rasul Lewouran, Kecamatan Ile Bura. Kehadiran relikui ini bukan sekadar sebuah peristiwa biasa, melainkan sebuah penanda eratnya persekutuan antara Gereja lokal di Flores Timur dengan Gereja Universal, sekaligus membawa harapan baru bagi masyarakat setempat.
Kedatangan dua relikui ini merupakan buah dari perjalanan dan kerinduan mendalam Romo Markus Solo Kewuta, SVD, atau yang lebih akrab disapa Padre Marco. Sebagai seorang imam asal Lewouran yang kini bertugas di Dikasteri untuk Dialog Antaragama Tahta Suci di Vatikan, kepulangan Padre Marco ke kampung halamannya disambut dengan haru luar biasa. Sejak memasuki kawasan desa, ratusan umat telah berjejer di sepanjang jalan menuju Gereja Stasi Santo Petrus Rasul. Dengan berlutut dan menundukkan kepala, mereka menyambut imam yang telah mengabdi di pusat Gereja Katolik dunia itu, sambil menghormati relikui yang dibawanya dari Roma. Suasana semakin khidmat ketika para tetua adat mengenakan kain tenun khas Flores Timur kepada Padre Marco, serta menyerahkan sirih pinang dan minuman tradisional sebagai tanda penghormatan, penerimaan, dan sukacita atas kepulangan putra daerah yang kini melayani Gereja Universal.
| Sumber: Pixabay |
Relikui yang dibawa Padre Marco terdiri dari dua benda suci: pertama, tanah dari makam Santo Petrus Rasul; dan kedua, pecahan batu dari Pintu Suci (Porta Sancta) Basilika Santo Petrus di Vatikan. Masing-masing relikui ini disertai dengan sertifikat autentikasi resmi dari Vatikan, memastikan keaslian dan kesuciannya. Hal ini menegaskan betapa berharganya dua benda ini sebagai peninggalan dari tokoh sentral dalam sejarah Gereja Katolik.
Makna Relikui dalam Tradisi Katolik
Fenomena kehadiran relikui di Flores Timur ini tentu memunculkan pertanyaan mendasar bagi banyak orang: apa sebenarnya makna relikui dalam tradisi Gereja Katolik? Perlu dipahami bahwa dalam tradisi Gereja Katolik, relikui bukanlah objek penyembahan. Sebagaimana ditegaskan oleh Padre Marco sendiri, relikui adalah "tanda nyata yang menghubungkan kita dengan kehidupan, iman, dan kesaksian para kudus.". Relikui adalah peninggalan barang-barang atau jasad dari orang-orang yang telah dinyatakan kudus oleh Gereja.
Sejarah penghormatan terhadap relikui sudah ada sejak zaman para rasul. Umat Katolik meyakini bahwa tubuh manusia adalah kenisah Roh Kudus. Oleh karena itu, tubuh para kudus, yang semasa hidupnya menjadi tempat kediaman Allah Tritunggal Maha Kudus, juga akan dimuliakan di surga. Menghormati relikui berarti menghormati kesaksian hidup para kudus tersebut dan juga menginspirasi umat untuk meneladani mereka dalam menjalani kehidupan iman. Relikui menjadi pengingat akan kekudusan para santa dan santo, kesediaan mereka untuk bekerja sama dalam karya Allah, serta menjadi perantara doa bagi kita kepada Tuhan.
Relikui sendiri dibagi menjadi tiga kelas. Kelas pertama adalah bagian tubuh dari para kudus, seperti tulang, gigi, atau rambut. Kelas kedua adalah benda-benda yang dimiliki dan sering digunakan oleh para kudus, seperti rosario, salib, atau buku, serta atribut yang berkaitan dengan kemartiran mereka. Kelas ketiga adalah benda-benda yang disentuhkan pada relikui kelas pertama atau kedua. Dalam kasus relikui Santo Petrus ini, tanah dari makamnya masuk dalam kategori relikui kelas pertama, sementara pecahan batu dari Pintu Suci bisa dikategorikan sebagai benda yang memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi terkait dengan Basilika Santo Petrus.
Persekutuan dan Harapan Baru untuk Flores Timur
Kedatangan relikui Santo Petrus di Lewouran ini bukan hanya sekadar seremoni keagamaan, melainkan sebuah simbol yang mempererat ikatan antara Gereja lokal di Flores Timur dengan Gereja Katolik universal. Kehadiran relikui ini juga menghidupkan harapan agar Gereja Stasi Santo Petrus Lewouran dapat berkembang menjadi pusat doa dan ziarah. Hal ini sejalan dengan upaya menjadikan Flores Timur sebagai salah satu destinasi ziarah Katolik yang penting di Indonesia.
Bagi Padre Marco, membawa relikui ke kampung halamannya adalah sebuah kerinduan yang telah lama ia pendam sejak bertugas di Vatikan. Ia ingin kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa sesuatu yang memiliki makna rohani mendalam bagi umat. Keinginan ini terwujud setelah ia berkonsultasi dengan seorang kardinal di Basilika Santo Petrus dan mengajukan permohonan resmi kepada Tahta Suci Vatikan.
Penerimaan umat yang luar biasa, ditambah dengan upacara adat yang hangat dari para tetua, menunjukkan betapa berartinya momen ini bagi masyarakat Flores Timur. Penjabat Kepala Desa Persiapan Lewouran, Sterly Watokola, mengungkapkan kebanggaannya atas kepulangan Padre Marco, yang dianggap sebagai putra daerah yang telah mengharumkan nama Lewouran dan menjadi kebanggaan karena dipercaya mengabdi di Vatikan.
Kehadiran relikui Santo Petrus di Flores Timur diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi iman, penguatan spiritual, dan berkat bagi seluruh umat. Ini adalah momen penting yang menegaskan bahwa iman Katolik terus bertumbuh dan mengakar di berbagai penjuru nusantara, terhubung erat dengan pusat Gereja Katolik di Roma. Dengan adanya relikui ini, umat di Flores Timur memiliki pengingat fisik yang kuat akan warisan iman para rasul dan teladan para kudus, yang senantiasa mendorong mereka untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan.
Source: vaticannews.va
#Flores Timur #Santo Petrus #Vatikan