BUGALIMA - Di tengah upaya pemulihan pasca-gempa bumi dahsyat yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Flores, masih ada pekerjaan besar yang menanti. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) melaporkan bahwa hingga Minggu (16/8/2026), dari total 794 *site* pemancar telekomunikasi (BTS) yang terdampak, 683 di antaranya telah berhasil dipulihkan. Namun, angka yang lebih menggarisbawahi tantangan di lapangan adalah masih adanya 111 *site* pemancar yang hingga kini masih dalam proses pemulihan. Ini adalah gambaran nyata tentang betapa rapuhnya infrastruktur kita saat bencana datang menerpa, dan betapa gigihnya upaya yang harus dilakukan untuk mengembalikan konektivitas yang menjadi urat nadi kehidupan modern.
Dilema Konektivitas di Ujung Timur Indonesia
| Sumber: Pixabay |
Pulau Flores, dengan bentang alamnya yang indah namun juga rentan terhadap bencana, kembali menjadi sorotan pasca-gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Gempa yang berpusat di laut lepas pantai Flores ini tidak hanya merusak infrastruktur fisik seperti pelabuhan dan bandara, tetapi juga melumpuhkan jaringan telekomunikasi. Bayangkan saja, di era serba digital ini, terputusnya akses komunikasi bisa berarti terisolasinya sebuah wilayah, terhambatnya informasi, bahkan terganggunya upaya penyelamatan dan bantuan.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyampaikan bahwa dari 794 *site* pemancar yang teridentifikasi terdampak di 11 kabupaten/kota, sebanyak 683 *site* telah pulih. Pemulihan ini terfokus di tiga kabupaten: Alor, Lembata, dan Timor Tengah Utara. Sementara itu, 111 *site* yang tersisa masih dalam tahap perbaikan. Lokasi-lokasi ini tersebar di delapan kabupaten/kota lain, yaitu Manggarai Timur, Manggarai, Nagekeo, Ende, Ngada, Sikka, Manggarai Barat, dan Flores Timur.
Perlu kita garis bawahi, angka 111 ini bukanlah sekadar statistik. Di balik angka itu, ada ribuan, bahkan jutaan, cerita masyarakat yang terputus komunikasinya. Ada keluarga yang cemas karena tidak bisa menghubungi kerabatnya, ada pelaku usaha yang kesulitan bertransaksi, ada siswa yang terhambat akses belajarnya, dan ada pula petugas penanggulangan bencana yang menghadapi tantangan lebih berat karena sulitnya koordinasi.
Akar Masalah: Listrik dan Akses yang Sulit
Mengapa pemulihan 111 pemancar telekomunikasi ini memakan waktu? Menteri Meutya Hafid menjelaskan bahwa gangguan utama yang terjadi adalah pada pasokan daya listrik dan jaringan transmisi. Ini adalah masalah klasik yang selalu muncul ketika bencana melanda. Infrastruktur kelistrikan yang rusak secara otomatis akan mematikan menara-menara pemancar, bahkan jika perangkat BTS itu sendiri tidak rusak parah.
PT PLN (Persero), seperti yang diberitakan, memang telah bekerja keras memulihkan sistem kelistrikan di Flores pascagempa. Sebagian besar gardu induk telah pulih, namun masih ada 29 desa yang terisolir karena akses yang terbatas akibat longsor dan kerusakan infrastruktur. Kondisi inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi tim pemulihan telekomunikasi. Bagaimana mungkin menara pemancar bisa beroperasi jika pasokan listriknya belum stabil, atau bahkan belum sampai ke lokasi?
Ditambah lagi, akses menuju beberapa lokasi menara pemancar yang rusak bisa jadi sangat sulit. Gempa dan longsor seringkali merusak akses jalan, memutuskan jembatan, atau membuat medan menjadi tidak bisa dilalui kendaraan. Hal ini tentu menghambat mobilitas tim teknis untuk melakukan perbaikan dan penggantian perangkat yang rusak. Seperti yang diungkapkan oleh Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, tim terus mencari akses terbaik agar bisa segera masuk dan melakukan perbaikan.
Solidaritas Digital: Peran Operator dan Komunitas
Di tengah kesulitan ini, solidaritas digital menjadi sangat penting. Operator telekomunikasi seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Axiata, sebagaimana dilaporkan, langsung bergerak cepat melakukan perbaikan. TelkomGroup, misalnya, mengerahkan tim teknis dan sumber daya yang diperlukan untuk mempercepat perbaikan jaringan. Mereka juga mengaktifkan genset cadangan untuk menjaga operasional perangkat jaringan yang masih bisa diselamatkan.
Selain itu, Telkom Group juga memberikan bantuan langsung kepada masyarakat terdampak. Ini termasuk menyediakan akses internet gratis di posko-posko pengungsian, memberikan kartu perdana dan kuota data gratis, serta paket darurat dengan harga terjangkau. Inisiatif-inisiatif semacam ini menunjukkan bahwa di balik layar teknologi, ada manusia-manusia yang peduli dan berupaya keras agar konektivitas dapat segera pulih.
Namun, kita juga perlu belajar dari peristiwa ini. Bencana alam seperti gempa di Flores seringkali mengingatkan kita akan pentingnya membangun infrastruktur yang lebih tangguh dan tahan bencana. Perlu ada strategi jangka panjang untuk memastikan bahwa jaringan telekomunikasi, yang semakin vital perannya, memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap guncangan alam. Mungkin perlu dipertimbangkan penggunaan sumber energi alternatif yang lebih mandiri, atau desain menara pemancar yang lebih kokoh.
Upaya pemulihan 111 pemancar telekomunikasi ini adalah gambaran miniatur dari perjuangan sebuah bangsa untuk bangkit kembali pasca-bencana. Ini bukan hanya soal memperbaiki tiang dan kabel, tetapi juga soal memulihkan harapan, merajut kembali komunikasi yang terputus, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun sudut negeri ini yang tertinggal dalam era digital. Perjuangan ini masih berlangsung, dan kita semua patut memberikan apresiasi kepada para pekerja di lapangan yang terus berjuang tanpa kenal lelah.
Source: Kompas.id
#Flores #Telekomunikasi #Bencana Alam