Flores Timur Dulu: Berjuang Demi Sinyal HP, Kini Era Digital Tiba

BUGALIMA - Masih ingatkah Anda masa-masa ketika sebuah ponsel harus diperlakukan seperti antena portabel raksasa? Bukan, ini bukan cerita fiksi ilmiah, melainkan realitas pahit yang pernah dialami oleh sebagian besar warga Flores Timur. Ya, Anda tidak salah baca. Demi mendapatkan seberkas sinyal untuk sekadar berkomunikasi atau terhubung dengan dunia luar, ponsel harus rela "nangkring" di jendela, bahkan di atas pintu. Sebuah pemandangan yang mungkin kini terdengar absurd di telinga generasi Z yang hidup di era serba instan.

Dahulu, aktivitas *online* bukan sekadar kata kunci, melainkan sebuah perjuangan. Bayangkan, setiap kali ada kebutuhan mendesak untuk mengirim laporan, data penting, atau sekadar menyapa kerabat di kota lain, warga Flores Timur harus rela menempuh perjalanan berkilo-kilometer. Tujuannya? Mencari titik di mana sinyal telekomunikasi berbaik hati untuk singgah. Sebuah ironi di tengah kemajuan teknologi yang konon semakin mendekatkan jarak.

Sumber: Pixabay

Kondisi ini, seperti yang diungkapkan oleh Kadis Kominfo Flores Timur, Silvester Suban Toa Kabelen, dalam acara Bakti Media Connect 2026, merupakan kendala utama pemerintah daerah dalam mengakses informasi. "Pemerintah daerah membutuhkan informasi yang cepat untuk diteruskan ke tingkat provinsi, kementerian, maupun sebagai pertimbangan pengambilan keputusan. Namun, itu menjadi kendala utama kami saat itu," ungkapnya. Betapa krusialnya konektivitas bagi roda pemerintahan dan pembangunan. Tanpa akses informasi yang memadai, setiap keputusan yang diambil berisiko tertinggal zaman, bahkan salah arah.

Namun, cerita ini tidak berakhir suram. Ibarat fajar yang merekah setelah malam panjang, kini Flores Timur mulai merasakan terang era digital. Berkat upaya pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang digalakkan, kondisi tersebut perlahan tapi pasti berubah. Kabar gembira datang dari Kadis Kominfo Flores Timur sendiri, yang menyatakan bahwa kini telah terbangun 6 menara *Base Transceiver Station* (BTS) dengan 262 titik akses internet yang tersebar di berbagai penjuru. Mulai dari perkantoran pemerintah, perkampungan desa, fasilitas pendidikan, hingga layanan kesehatan, semuanya kini mulai terjangkau.

Sebuah lompatan besar jika dibandingkan dengan masa lalu. Dulu, jangankan mengirim data, sekadar melakukan panggilan telepon saja butuh perjuangan ekstra. Kini, dengan adanya 6 BTS dan 262 titik akses internet, komunikasi menjadi jauh lebih lancar. Bayangkan saja, di masa lalu, beberapa warga bahkan harus memanjat pohon tinggi atau berjalan ke bukit demi mendapatkan sinyal ponsel. Sebuah pengorbanan yang luar biasa hanya untuk sebuah koneksi.

Dampak Positif Transformasi Digital di Flores Timur

Perubahan ini tentu membawa dampak positif yang signifikan bagi kehidupan masyarakat Flores Timur. Di sektor pendidikan, misalnya, ketersediaan akses internet yang memadai telah sangat membantu aktivitas belajar mengajar. Konrardus Kudarto dari SMAN 1 Titehena mengakui bahwa sebelum ada akses internet, sekolahnya menghadapi kesulitan besar dalam melaksanakan kegiatan berbasis komputer. Kini, semua proses administrasi sekolah dan tes kompetensi guru dapat dilakukan secara daring tanpa kendala konektivitas.

Tak hanya itu, di masa-masa sulit seperti saat terjadinya erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, jaringan internet BAKTI terbukti sangat membantu warga yang mengungsi. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan keluarga menjadi lebih mudah, memperlancar koordinasi dalam penanganan korban bencana.

Di sektor kesehatan, Kepala Puskesmas Ilebura, Yohanes Noda Kwuta, menekankan betapa internet telah memperbaiki sistem pelaporan data medis secara drastis. Sistem pelaporan yang terintegrasi melalui aplikasi digital kini membutuhkan konektivitas yang cepat dan stabil. Mulai dari pendaftaran pasien hingga pelaporan kasus *stunting*, semuanya dapat berjalan lebih efisien.

Tantangan Geografis dan Peran BAKTI

Memang tidak bisa dipungkiri, kondisi geografis Flores Timur yang berbukit-bukit dan kepulauan yang terjal, telah lama menjadi tantangan besar bagi pengembangan telekomunikasi. Daerah terpencil dan sulit dijangkau membuat pembangunan infrastruktur menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat. Namun, program BAKTI Komdigi hadir sebagai solusi, mempercepat pembangunan infrastruktur digital di wilayah tersebut.

Pembangunan infrastruktur digital di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) seperti Flores Timur, tidak cukup hanya dengan menghadirkan jaringan internet. BAKTI menyadari hal ini dan menerapkan empat prinsip penting: keberlanjutan masyarakat, kualitas layanan, skalabilitas UMKM, dan keberlanjutan industri. Dengan empat kaki penyangga yang kokoh ini, BAKTI berupaya memastikan bahwa pembangunan infrastruktur digital dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Masa Depan Konektivitas di Flores Timur

Meskipun telah ada kemajuan yang signifikan, upaya perlu terus dilakukan. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menjaga infrastruktur komunikasi yang ada di setiap desa dan memperluas jangkauan ke area-area terpencil yang masih minim akses. Peningkatan kualitas dan kapasitas jaringan BAKTI juga diharapkan terus berlanjut demi mendukung kemajuan pendidikan dan sektor lainnya di Flores Timur.

Kisah warga Flores Timur yang harus menaruh HP di jendela demi sinyal, kini menjadi pengingat akan pentingnya konektivitas. Ini adalah bukti nyata bahwa akses digital bukan lagi kemewahan, melainkan sebuah kebutuhan mendasar yang dapat membuka pintu kemajuan dan kesejahteraan. Perjuangan itu telah terbayarkan, dan era digital di Flores Timur telah tiba, siap membawa perubahan yang lebih baik.

Source: cnbcindonesia.com



#Flores Timur #Konektivitas Digital #Pembangunan Infrastruktur

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama