BUGALIMA - Gemuruh dentuman keras mengoyak keheningan pagi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Gunung Lewotobi Laki-laki, sang raksasa tidur di Pulau Flores, kembali menunjukkan amarahnya dengan letusan dahsyat yang disertai suara menggelegar. Peristiwa ini sontak membuat warga sekitar berhamburan keluar rumah, diliputi kecemasan sekaligus kekaguman akan kekuatan alam yang tengah bergolak.
Letusan Spektakuler dengan Kolom Abu Setinggi Langit
| Sumber: Pixabay |
Pukul 08.30 Wita menjadi saksi bisu dimulainya erupsi spektakuler Gunung Lewotobi Laki-laki. Dari puncak gunung yang menjulang setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut, membubunglah kolom abu vulkanik yang memecah langit. Ketinggiannya mencapai 2.500 meter di atas puncak, atau sekitar 4.084 meter di atas permukaan laut. Kolom abu yang tebal dan berwarna kelabu ini bergerak dominan ke arah barat daya dan barat, membawa serta material vulkanik yang siap menebar teror dan kekaguman.
Rekaman seismogram menunjukkan aktivitas luar biasa dari perut bumi. Amplitudo maksimum tercatat sebesar 47,3 milimeter dengan durasi letusan selama dua menit lima detik. Angka-angka ini bukan sekadar data, melainkan representasi dari energi dahsyat yang dilepaskan oleh Gunung Lewotobi Laki-laki. Dentuman keras yang menyertai letusan ini tak ayal menimbulkan kepanikan di kalangan warga. Banyak yang mengira terjadi gempa, seketika berhamburan keluar rumah mencari tempat aman. Maria, seorang warga Desa Kringa, Kecamatan Talibura, menceritakan kepanikannya saat mendengar suara dentuman itu, "Kami panik keluar rumah, pikir gempa, karena dentuman keras," ujarnya.
Status Siaga, Ancaman Tetap Nyata
Saat ini, Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada status Level III atau Siaga. Status ini bukan sekadar label, melainkan peringatan serius bagi seluruh masyarakat yang berada di sekitar gunung berapi aktif ini. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan imbauan tegas: tidak ada aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Jarak ini merupakan zona aman yang harus dihormati demi keselamatan bersama.
Imbauan ini sangat penting, terutama mengingat sejarah kelam letusan Gunung Lewotobi Laki-laki. Pada 3 November 2024, sebuah letusan besar merenggut nyawa sembilan warga, merusak rumah, fasilitas umum, dan lahan perkebunan. Peristiwa tragis ini menjadi pengingat abadi akan kekuatan destruktif yang tersimpan di dalam perut bumi. Warga Desa Nawokote, Hokeng Jaya, Dulipali, Klatanlo, Nobo, dan dua dusun di Desa Boru, yang berada dalam radius 5-6 kilometer dari gunung, bahkan dijadwalkan untuk direlokasi oleh pemerintah.
Warga Tetap Bertani, Alam Menjadi Saksi
Meski hidup di bawah bayang-bayang ancaman erupsi, semangat para petani di Flores Timur tak pernah padam. Mereka masih beraktivitas di zona risiko bencana untuk menggarap ladang dan beternak. Mata pencaharian mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan, dan berdiam diri di pengungsian bukanlah pilihan yang mudah. "Berdiam diri di pengungsian atau tidak bekerja hanya menimbulkan masalah baru," ujar salah seorang warga.
Aktivitas mereka ini, di tengah lautan abu vulkanik, menjadi potret ketangguhan manusia dalam menghadapi kekuatan alam. Para petani ini, dengan segala kerentanan mereka, tetap bertahan, berjuang demi sesuap nasi, sembari berharap agar Gunung Lewotobi Laki-laki kembali tertidur pulas.
Potensi Bahaya Lain: Banjir Lahar dan Hujan Abu
Selain lontaran abu vulkanik, letusan Gunung Lewotobi Laki-laki juga menyimpan ancaman lain yang tak kalah serius: banjir lahar hujan. PVMBG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir lahar, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung ini, seperti di Nawakote, Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, dan Boru, menjadi jalur potensial bagi aliran lahar yang membawa material vulkanik.
Bagi warga yang terdampak hujan abu vulkanik, imbauan untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut terus digaungkan. Perlindungan pernapasan menjadi prioritas utama untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu halus. Koordinasi antara pemerintah daerah, Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki, dan PVMBG terus dilakukan untuk memantau perkembangan aktivitas gunung dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat.
Gunung Lewotobi Laki-laki, dengan segala keagungan dan amarahnya, terus menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap Flores Timur. Erupsinya kali ini menjadi pengingat akan kekuatan dahsyat alam yang harus dihormati, serta ketangguhan manusia dalam menghadapinya.
#Gunung Lewotobi #Erupsi Flores #Bencana Alam NTT