BUGALIMA - Kepulauan Adonara, sebuah permata di timur Flores, NTT, kembali menunjukkan geliat semangat persaudaraan setelah melewati masa-masa penuh gejolak. Di tengah upaya pemulihan pasca-konflik yang sempat mengguncang, peran aparat kepolisian menjadi sangat krusial. Kali ini, sorotan tertuju pada Kapolres Flores Timur (Flotim), AKBP Gede Putra Yase, yang menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menyerap aspirasi warga demi menjaga kedamaian di Adonara. Sebuah langkah konkret yang patut diacungi jempol, sebuah praktik kepemimpinan yang humanis dan menyentuh akar persoalan.
Peristiwa bentrok antarwarga di Adonara beberapa waktu lalu, yang bahkan merenggut korban jiwa dan menimbulkan kerugian materiil, menyisakan luka mendalam di masyarakat. Konflik yang dipicu oleh sengketa batas wilayah yang telah berlangsung lama ini sempat membuat situasi keamanan menjadi tegang. Namun, berkat upaya rekonsiliasi dan pendekatan persuasif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan aparat keamanan, kondisi Adonara kini berangsur kondusif. Aktivitas warga pun perlahan kembali normal, roda perekonomian mulai berputar kembali.
| Sumber: Pixabay |
Di sinilah peran Kapolres Flotim, AKBP Gede Putra Yase, menjadi sangat vital. Beliau tidak hanya mengandalkan kekuatan aparat untuk menjaga ketertiban, tetapi lebih memilih jalur dialog dan mendengarkan langsung denyut nadi masyarakat. Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Kapolres bersama jajarannya melakukan kunjungan mendalam ke sejumlah desa di Adonara, seperti Desa Narasaosina, Saosina, Waiburak (Dusun Bele), dan Horowura. Ini bukan sekadar kunjungan protokoler, melainkan sebuah upaya strategis untuk menyerap aspirasi warga secara langsung.
Menyapa Langsung Akar Persoalan
Kunjungan Kapolres ini didampingi oleh Wakapolres Flores Timur Kompol I Ketut Mastina. Mereka tidak hanya berdialog dengan para pejabat desa, tetapi juga turun langsung menyapa para tokoh adat dan masyarakat setempat. Pendekatan ini sungguh brilian. Tokoh adat dan masyarakat adalah garda terdepan yang paling memahami akar budaya dan tradisi masyarakat Adonara, termasuk segala potensi gesekan yang mungkin timbul. Dengan mendengarkan aspirasi mereka, Kapolres dapat memetakan potensi masalah sejak dini dan merumuskan solusi yang tepat sasaran.
Kasi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer A. Kalelado, menjelaskan bahwa pendekatan persuasif adalah kunci utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Komunikasi langsung sangat diperlukan agar setiap persoalan dapat segera diidentifikasi dan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. "Kapolres hadir untuk mendengar masyarakat, memperkuat komunikasi, dan mencegah persoalan berkembang," ujar AKP Eliezer. "Kami mengajak seluruh pihak menjaga persaudaraan serta menyelesaikan setiap persoalan melalui musyawarah dan jalur yang sesuai," tambahnya. Ini adalah esensi dari kepolisian yang humanis, yang hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pengayom dan mitra masyarakat.
Perlu diingat, Adonara memiliki budaya Lamaholot yang sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan atau 'kaka ari'. Nilai-nilai inilah yang diyakini Kapolres sebagai fondasi penting dalam membangun kembali hubungan harmonis antarmasyarakat. Melalui dialog adat dan musyawarah, dengan penghormatan terhadap mekanisme hukum adat, Kapolres optimis penyelesaian yang bermartabat dapat tercapai demi perdamaian yang berkelanjutan.
Lebih dari Sekadar Tugas Kepolisian
Kegiatan Kapolres AKBP Gede Putra Yase tidak berhenti pada penyerapan aspirasi. Pada kesempatan yang sama, beliau dan rombongan juga turut menghadiri pemakaman ayah kandung Aiptu Bernadus Beda Goran, Kanit Intel Polsek Adonara Timur, di Desa Bungalawan, Kecamatan Ile Boleng. Sebuah gestur kemanusiaan yang luar biasa, menunjukkan bahwa Polri hadir dalam suka dan duka warganya. Kehadiran pimpinan dalam momen duka seperti ini tentu memberikan dukungan moril yang sangat berarti bagi keluarga besar Polri dan masyarakat setempat.
Pendekatan yang dilakukan Polres Flores Timur ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Kementerian Sosial. Setelah konflik berdarah yang terjadi pada Sabtu (18/7/2026), yang mengakibatkan tiga orang meninggal, lima luka-luka, serta kerusakan pada puluhan rumah, Kementerian Sosial melalui Dirjen Pemberdayaan Sosial, Hartono Laras (saat itu menjabat Gus Ipul), menyatakan mendukung penuh langkah penanganan yang dilakukan pemerintah daerah dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi. Bantuan logistik pun telah disalurkan, menunjukkan sinergi antarlembaga dalam memulihkan kondisi pasca-konflik.
Menjaga Api Perdamaian Tetap Menyala
Kunjungan dan dialog yang dilakukan Kapolres Flotim ini merupakan langkah awal yang sangat penting. Namun, menjaga perdamaian bukanlah tugas yang selesai dalam semalam. Diperlukan upaya berkelanjutan untuk memperkuat komunikasi, membangun kepercayaan, dan terus menyerap aspirasi masyarakat. Polres Flores Timur berkomitmen untuk terus melakukan monitoring serta membangun komunikasi bersama masyarakat guna menjaga perdamaian dan keamanan di wilayah Adonara.
Sejarah konflik di Adonara, yang berakar dari sengketa batas wilayah, mengingatkan kita bahwa penyelesaiannya tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan hukum semata. Diperlukan kombinasi pendekatan hukum, adat, budaya, dan yang terpenting, komunikasi yang intensif serta kemauan politik dari semua pihak. Kapolres AKBP Gede Putra Yase telah memberikan contoh teladan bagaimana kepemimpinan yang merangkul, mendengarkan, dan bertindak atas dasar pemahaman mendalam terhadap kondisi sosial masyarakat dapat menjadi kunci utama dalam merajut kembali tenunan perdamaian yang sempat terkoyak. Semangat untuk Adonara, semangat untuk Indonesia yang damai dan harmonis!
Source: https://rri.co.id/regional/1160626/kapolres-flotim-serap-aspirasi-warga-jaga-perdamaian-adonara
#Perdamaian Adonara #Kapolres Flores Timur #Aspirasi Warga