BUGALIMA - Di tengah hiruk-pikuk zaman yang semakin kompleks, di mana perbedaan kerapkali disalahartikan sebagai jurang pemisah, semangat kerukunan justru digaungkan lebih kencang di pelosok Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur tak tinggal diam. Mereka secara aktif mendorong para pemuda yang berasal dari berbagai latar belakang agama untuk bergandengan tangan, memperkuat dialog, dan bergerak dalam aksi kemanusiaan. Ini bukan sekadar retorika kosong, melainkan sebuah komitmen nyata untuk menjaga keberagaman yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia.
Semua ini terwujud dalam sebuah acara bertajuk "Dialog Kerukunan Pemuda Lintas Agama dan Diskusi Panel Penyuluh Multiagama". Sebuah tema besar diusung: "Menjaga Keberagaman, Memperkokoh Cinta Kemanusiaan untuk Keberlanjutan Bangsa". Acara ini bukan hanya sekadar pertemuan, tetapi sebuah inkubator gagasan, tempat bertemunya para pemuda lintas agama, para penyuluh agama multiagama, dan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kemenag Flores Timur. Sekitar 40 peserta hadir, termasuk perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Flores Timur. Keberagaman yang hadir di Flores Timur, seperti diungkapkan Ketua FKUB Petrus Pedo Beke, merupakan warisan berharga yang harus terus dirawat melalui dialog yang dewasa dan komunikasi yang terbuka. Budaya Lamaholot, yang mendalam di Flores Timur, telah lama mengajarkan nilai-nilai hidup berdampingan dan memberikan ruang bagi perbedaan. Nilai-nilai luhur inilah yang kini digaungkan agar terus dihidupkan oleh generasi muda, menghadapi kompleksitas kehidupan modern.
| Sumber: Pixabay |
Semangat Kebersamaan, Fondasi Kerukunan
Pesan penting disampaikan oleh Kasubbag Tata Usaha Kemenag Flores Timur, Petrus Wai Leton, dalam sambutan pembukaannya. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kerukunan bukan sekadar agenda sesaat, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan berbangsa. "Kita semua diajak merawat kerukunan sebagai bagian integral dari hidup berbangsa," tegasnya. Keberagaman agama dan keyakinan, menurutnya, adalah realitas yang harus dirawat bersama. Caranya? Melalui sikap saling menghargai, penguatan moderasi beragama, dan pembangunan suasana damai. Ini adalah pondasi yang kokoh untuk keberlanjutan bangsa.
Dialog sebagai Kunci Utama
Acara ini menghadirkan tiga narasumber terkemuka dari FKUB Flores Timur: Ketua FKUB Petrus Pedo Beke, Wakil Ketua I Ahmad Bethan, dan Wakil Ketua II Ferlominggus B. Mereka tak henti-hentinya menekankan urgensi merawat keberagaman. Bagaimana caranya? Melalui dialog yang konstruktif, kepedulian tulus terhadap sesama, dan tentu saja, keterlibatan aktif generasi muda. Generasi muda adalah agen perubahan, pewaris masa depan. Merekalah yang akan menentukan apakah kerukunan ini akan terus terjaga atau justru terkikis oleh zaman.
Petrus Pedo Beke menambahkan, kemajemukan masyarakat Flores Timur adalah aset luar biasa. "Semakin majemuk, semakin kompleks, tetapi keberagaman juga dapat menjadi berkat," ujarnya. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa perbedaan bukanlah sumber perpecahan, melainkan justru menjadi kekuatan jika dikelola dengan bijak. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kekuatan moderasi beragama dan kearifan lokal seperti yang tercermin dalam konsep "korke" masyarakat Lamaholot, menjadi pilar penting dalam menciptakan harmoni sosial. Konsep "korke" ini bukan hanya rumah adat, tetapi menjadi ruang bersama, tempat bertemunya berbagai latar belakang agama, di mana nilai-nilai toleransi dan anti-kekerasan diajarkan. Ini adalah manifestasi nyata dari bagaimana kearifan lokal dapat menjadi basis pembumian moderasi beragama.
Sejarah Kerukunan di Flores Timur
Kisah kerukunan di Flores Timur bukanlah hal baru. Sejarah telah mencatat berbagai episode toleransi yang mengharukan. Di Desa Pepakgeka, Kecamatan Kelubagolit, di Pulau Adonara, gereja dan masjid telah berdiri berdampingan sejak tahun 1970. Masjid Al-Jihad dan Gereja Santo Mikhael bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi simbol kehidupan rukun yang telah dijaga puluhan tahun. Warga meyakini dan memegang teguh prinsip "tiga tungku" dalam kehidupan sehari-hari: agama, pemerintah, dan adat. Perbedaan agama tak pernah menjadi halangan untuk berbagi suka. Perayaan Natal dinikmati umat Muslim, dan kemenangan Idul Fitri dirayakan bersama umat Nasrani.
Contoh lain hadir dari Kampung Witihama, di Pulau Adonara, di mana makam Islam berdampingan dengan Gereja Katolik. Di sana, umat Islam dan Nasrani hidup berdampingan, bahkan ada yang berbeda agama namun tinggal di bawah satu atap dalam ikatan persaudaraan yang kental. Kisah Jidan Akbar Bapa Kai (Muslim) dan Dai Pain Dahalia (Katolik) yang tinggal serumah meski berbeda agama, menunjukkan betapa dalamnya akar toleransi di Flores Timur. Mereka saling menghargai, terutama dalam hal makanan, di mana yang haram bagi Islam tidak diolah di rumah tersebut. Inilah gambaran nyata dari karakter dasar warga Nusantara yang toleran.
Peran Pemuda Lintas Agama di Era Digital
Di era digital ini, tantangan menjaga kerukunan semakin unik. Informasi menyebar begitu cepat, namun tidak semuanya benar. Potensi polarisasi dan ujaran kebencian bisa muncul kapan saja. Oleh karena itu, peran pemuda lintas agama menjadi sangat krusial. Mereka tidak hanya dituntut untuk dialog secara langsung, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk menyebarkan pesan-pesan positif tentang kerukunan.
Kemenag Flores Timur mendorong pemuda untuk menjadi duta kerukunan di dunia maya. Melalui diskusi panel dan dialog semacam ini, mereka dibekali pemahaman yang kuat tentang pentingnya moderasi beragama dan cinta kemanusiaan. Dengan bekal ini, diharapkan mereka dapat menjadi agen perekat bangsa, melawan hoaks, dan membangun narasi persatuan di tengah perbedaan. Keberhasilan mereka akan menjadi kunci keberlanjutan bangsa yang harmonis dan damai.
#Pemuda Lintas Agama #Kerukunan Umat Beragama #Moderasi Beragama