Wamensos Dorong Flores Timur dan Mamasa Siapkan Lahan Sekolah Rakyat untuk Putus Kemiskinan

BUGALIMA - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono memberikan sinyal kuat untuk segera memajukan program Sekolah Rakyat di dua wilayah strategis di Indonesia, yaitu Kabupaten Flores Timur di Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Mamasa di Sulawesi Barat. Dorongan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah langkah konkret untuk memastikan program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini benar-benar menyentuh akar rumput dan memberikan dampak nyata dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Pertemuan audiensi antara Wamensos dengan jajaran pemerintah daerah dari kedua kabupaten tersebut di Kantor Kementerian Sosial di Jakarta beberapa waktu lalu, menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali tujuan mulia di balik kehadiran Sekolah Rakyat.

Sekolah Rakyat: Senjata Ampuh Memutus Rantai Kemiskinan

Sumber: Pixabay

"Sekolah Rakyat ini kan upaya presiden menjawab anak-anak miskin ini supaya bisa sekolah. Jadi, cara memutus transmisi kemiskinan antargenerasi ya sekolah, pendidikan, hanya itu. Kita memberikan mereka bekal ilmu," tegas Agus Jabo. Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi dasar Sekolah Rakyat, yaitu pendidikan sebagai instrumen utama pemberdayaan ekonomi dan sosial. Dengan memberikan akses pendidikan gratis yang berkualitas, diharapkan generasi muda dari keluarga prasejahtera dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang cukup untuk bersaing di dunia kerja, atau bahkan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan memberikan imbal hasil berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Flores Timur: Lahan Delapan Hektare Siap Didedikasikan

Dalam pertemuan tersebut, Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, menyampaikan progres yang menggembirakan. Pihaknya telah menyiapkan lahan seluas delapan hektare yang merupakan tanah ulayat untuk dijadikan lokasi pembangunan Sekolah Rakyat permanen. Tidak hanya itu, izin dari para tetua adat dan suku terkait pun telah dikantongi, menunjukkan adanya dukungan penuh dari masyarakat lokal. Langkah ini sungguh patut diapresiasi, sebab tidak hanya mencakup aspek administratif, tetapi juga aspek kultural dan sosial yang kuat.

Mendengar kabar baik ini, Wamensos Agus Jabo memberikan arahan yang krusial: "Sertifikatnya diurus, pak, ya. Itu tetap harus ada penguatan ya, legitimasi dalam bentuk sertifikat, tetapi sertifikat mungkin bisa berproses, artinya bupati sekarang urus itu." Permintaan ini sangat beralasan. Sertifikat tanah berfungsi sebagai bukti kepemilikan yang sah dan menjadi landasan hukum yang kuat untuk pelaksanaan pembangunan. Meskipun proses sertifikasi mungkin memakan waktu, hal tersebut penting demi memastikan kelancaran proyek dan menghindari potensi sengketa di kemudian hari. Kejelasan legalitas lahan akan memberikan kepastian bagi semua pihak yang terlibat dalam pembangunan Sekolah Rakyat.

Mamasa: Lahan Pengganti, Proses Administrasi Tetap Diperhatikan

Sementara itu, di Kabupaten Mamasa, Kepala Dinas Sosialnya, Festiniwaty Paitonan, menjelaskan bahwa pihaknya sedang dalam proses menyiapkan lahan pengganti. Sebelumnya, lahan yang diusulkan belum memenuhi syarat yang ditentukan oleh Kementerian Sosial. Namun, semangat untuk menyediakan fasilitas pendidikan bagi anak-anak kurang mampu tetap tinggi.

Sama halnya dengan Flores Timur, Wamensos Agus Jabo juga menekankan pentingnya kelengkapan administrasi, khususnya sertifikat tanah, bagi lahan yang akan digunakan di Mamasa. "Sertifikatnya diurus, pak, ya. Itu tetap harus ada penguatan ya, legitimasi dalam bentuk sertifikat. Tetapi sertifikat mungkin bisa berproses, pak. Ya artinya, bupati sekarang urus itu. Bisa enggak urus?" tanya Agus Jabo kepada Antonius, yang dijawab "Bisa" oleh Bupati Flores Timur. Hal ini menunjukkan bahwa baik pemerintah daerah maupun Kementerian Sosial memahami bahwa proses administrasi memerlukan waktu, namun komitmen untuk menyelesaikannya harus tetap terjaga.

Kolaborasi Kunci Keberhasilan Program Sekolah Rakyat

Program Sekolah Rakyat bukan hanya tanggung jawab satu kementerian atau satu pemerintah daerah. Keberhasilannya sangat bergantung pada kolaborasi yang erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Agus Jabo, "Mari kita berjuang bersama, berkolaborasi. Ini eranya perubahan, yang miskin harus kita makmurkan."

Pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu kesempatan, dan Sekolah Rakyat hadir sebagai jembatan yang menghubungkan anak-anak dari keluarga prasejahtera dengan masa depan yang lebih cerah. Dengan adanya lahan yang siap dan proses administrasi yang terus dikejar, harapan untuk melihat Sekolah Rakyat berdiri kokoh di Flores Timur dan Mamasa semakin besar. Ini adalah langkah maju yang patut kita dukung bersama demi mewujudkan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

Sejarah Pendidikan di Mamasa: Jejak Panjang Peradaban

Menarik untuk melihat kembali sejarah pendidikan di Mamasa, yang ternyata memiliki akar yang cukup panjang. Sejak tahun 1913, Belanda telah membuka "Volkschool", sekolah rakyat pertama di Mamasa, yang menjadi perintis pendidikan di wilayah tersebut. Hingga tahun 1928, sudah terdapat hampir 30 sekolah yang diampu oleh sekitar 80 guru, mayoritas berasal dari Manado dan Ambon. Pembukaan kursus "Volksonderwijzer" pada tahun 1929 membuka kesempatan bagi putra-putri Mamasa untuk menjadi guru sekolah rakyat sekaligus menyebarkan Injil di kampung-kampung. Bahkan, pada tahun 1936, dibuka H.I.S. (Hollandsch Inlandse School) yang memungkinkan anak-anak Kepala Distrik, Kepala Kampung, Kepala Adat, dan anak guru untuk belajar bahasa Belanda. Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa Mamasa telah lama mengenal peradaban melalui pendidikan, sebuah warisan yang kini akan diperkaya dengan kehadiran Sekolah Rakyat modern.

Source: https://www.antaranews.com/berita/2402671/wamensos-dorong-flores-timur-dan-mamasa-siapkan-lahan-sekolah-rakyat



#Sekolah Rakyat #Flores Timur #Mamasa

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama