BUGALIMA - Memperingati satu abad kelahiran Fransiskus Xaverius Seda, seorang negarawan, tokoh pendidikan, dan salah satu pendiri Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, menjadi momentum yang lebih dari sekadar napak tilas sejarah. Di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Kampus Semanggi, Jakarta, pada Jumat (9/10) lalu, perayaan Frans Seda Centennial Celebration: Empowering the Next Generation tidak hanya diisi dengan diskusi dan refleksi, tetapi juga aksi nyata yang menyentuh hati: penggalangan dana pendidikan senilai Rp145 juta untuk renovasi sekolah dan asrama di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sungguh sebuah warisan yang berharga, sebuah jembatan emas yang dibangun di atas cita-cita luhur untuk memberdayakan generasi penerus.
Donasi yang terkumpul melalui Gerakan 100 Sahabat untuk Sekolah ini akan disalurkan untuk mendukung renovasi Sekolah Menengah Pertama Swasta (SMPS) Katolik Ile Bura serta Asrama Putra-Putri San Marco di Kecamatan Ile Bura. Ini adalah langkah konkret yang menunjukkan bagaimana semangat seorang tokoh dapat terus menginspirasi dan menghasilkan dampak positif yang nyata, terutama bagi daerah kelahirannya. Flores Timur, tanah yang melahirkan Frans Seda, kini menerima kembali aliran kebaikan dari warisan pemikirannya.
| Sumber: Pixabay |
Kegiatan puncak peringatan ini merupakan kolaborasi apik antara Frans Seda Foundation, Yayasan Atma Jaya, dan Universitas Katolik Atma Jaya (Unika Atma Jaya). Sebuah sinergi yang menunjukkan kekuatan sebuah ide dan komitmen kolektif untuk mewujudkan perubahan. Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), dalam sambutannya, mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan Frans Seda sebagai teladan nyata semangat "Untuk Tuhan dan Tanah Air". Sebuah pengingat bahwa pengabdian tertinggi adalah ketika kita memberikan yang terbaik bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan sesama.
Frans Seda: Sang Negarawan Lintas Zaman
Siapa sebenarnya Frans Seda? Namanya mungkin lebih akrab di telinga generasi tua, namun kiprahnya tetap relevan hingga kini. Lahir di Lekebai, Flores, pada 4 Oktober 1926, Frans Seda adalah sosok multifaset yang menorehkan jejak mendalam di berbagai bidang. Ia bukan hanya politikus ulung yang pernah mengemban berbagai posisi menteri—mulai dari Menteri Perkebunan, Menteri Keuangan, hingga Menteri Perhubungan—tetapi juga seorang pendidik visioner dan pelopor pembangunan gereja serta bisnis di Indonesia. Ia adalah orang Flores pertama yang berhasil menduduki kursi menteri di Indonesia, sebuah prestasi monumental yang membuka pintu bagi banyak putra-putri daerah untuk bercita-cita lebih tinggi.
Perjalanan pendidikannya pun tak kalah mengagumkan. Setelah menempuh pendidikan di Kolese Xaverius Muntilan dan HBS Surabaya, ia melanjutkan studi ke Belanda dan meraih gelar sarjana ekonomi dari Katholieke Economische Hogeschool, Tilburg. Pengalaman internasional ini membentuk cara pandangnya yang luas dan visi yang jauh ke depan, yang kemudian ia aplikasikan dalam berbagai kebijakan ekonomi dan pembangunan di tanah air.
Managing Director Frans Seda Foundation, Stefanus Ginting, dalam sambutannya, menekankan bahwa Frans Seda adalah sosok panutan dengan kiprah dan pemikiran yang melampaui zamannya. Ia dikenal sebagai negarawan, tokoh keagamaan, dan tokoh pendidikan yang selalu mengedepankan kepentingan masyarakat. Pemikirannya tentang ekonomi, pembangunan, dan kesejahteraan sosial masih menjadi rujukan penting hingga kini. Bahkan, banyak yang berpendapat bahwa Frans Seda pantas dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi bangsa dan negara.
Pemberdayaan Generasi Muda Melalui Pendidikan
Tema "Empowering the Next Generation" yang diusung dalam perayaan ini sangat tepat sasaran. Pendidikan adalah kunci untuk membuka potensi, memberdayakan individu, dan membangun masa depan yang lebih baik. Kabupaten Flores Timur, seperti banyak daerah lain di Indonesia, memiliki tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan. Rapuhnya aspek personalitas dan rendahnya mutu profesionalitas pendidik menjadi isu yang perlu terus diatasi agar generasi muda Flores Timur dapat tumbuh dan berkembang optimal.
Oleh karena itu, donasi sebesar Rp145 juta ini menjadi sangat berarti. Dana tersebut akan digunakan untuk renovasi SMPS Katolik Ile Bura dan Asrama Putra-Putri San Marco. Ini bukan sekadar perbaikan fisik bangunan, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif, aman, dan nyaman bagi para siswa. Sekolah dan asrama yang layak akan memberikan dampak positif tidak hanya pada kenyamanan belajar, tetapi juga pada motivasi siswa dan kualitas pengajaran.
Acara peringatan 100 tahun Frans Seda ini tidak berhenti pada seremonial. Berbagai kegiatan lain juga digelar sejak September, termasuk pameran sejarah yang mengisahkan perjalanan hidup dan karya Frans Seda, serta kuliah umum yang membahas kebijakan ekonomi di masa sulit. Pada puncak perayaan, ditampilkan pula dialog lintas generasi, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang relevan dengan perkembangan zaman, pertunjukan drama musikal, serta apresiasi terhadap karya kreatif anak muda. Ini menunjukkan komitmen untuk terus relevan dan menginspirasi generasi muda dengan cara-cara yang kekinian.
Flores Timur: Tanah Harapan dan Potensi
Flores Timur adalah sebuah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang kaya akan potensi alam dan budaya. Namun, seperti daerah-daerah terpencil lainnya, tantangan dalam akses dan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data menunjukkan bahwa terdapat ratusan satuan pendidikan formal di Flores Timur, mulai dari SD hingga SMP, yang membutuhkan perhatian dan dukungan berkelanjutan.
Program-program inovatif seperti "Future School" yang diluncurkan di Flores Timur, yang menekankan pembelajaran personal, berbasis proyek, digital, dan STEAM, menunjukkan adanya upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tersebut. Insentif bagi guru juga menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan motivasi dan profesionalitas pengajar.
Donasi yang diberikan untuk renovasi sekolah di Flores Timur ini sejalan dengan upaya-upaya tersebut. Ini adalah bentuk nyata kepedulian untuk memastikan bahwa anak-anak di Flores Timur mendapatkan akses pendidikan yang layak, setara dengan anak-anak di daerah lain. Semangat Frans Seda, yang selalu berjuang untuk kemajuan bangsa, tercermin dalam aksi nyata ini. Ia mengajarkan kita bahwa kontribusi sekecil apapun, jika dilakukan dengan tulus dan konsisten, dapat membawa perubahan besar.
Perayaan 100 tahun Frans Seda bukan hanya tentang mengenang jasa seorang tokoh besar, tetapi juga tentang melanjutkan estafet perjuangannya. Ini adalah panggilan untuk kita semua, para generasi penerus, untuk terus berkontribusi dalam memajukan pendidikan, memberdayakan masyarakat, dan membangun Indonesia yang lebih baik. Seperti yang dikatakan Rektor Unika Atma Jaya, peringatan ini adalah tentang "menghidupkan kembali semangat pengabdian". Dan melalui donasi Rp145 juta untuk sekolah di Flores Timur, semangat itu kini telah benar-benar hidup dan bersemi, menerangi jalan bagi generasi masa depan. Source: https://www.mnctrijaya.com/news/detail/40806/peringatan-100-tahun-frans-seda-donasi-rp145-juta-untuk-renovasi-sekolah-di-flores-timur
#Frans Seda #Pendidikan Flores Timur #Donasi Sekolah