Konflik Tanah Ulayat Flores Timur: Brutalitas Massa Bakar Rumah, Ribuan Warga Mengungsi dalam Kepanikan!

BUGALIMA - Suasana damai di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali tercabik-carik oleh konflik tanah ulayat yang memanas. Pada Senin, 21 Oktober 2024, pagi buta, Desa Bugalima diserang oleh massa yang diduga berasal dari Desa Ilepati dan Desa Kimamak. Aksi brutal ini tidak hanya membakar puluhan rumah warga, tetapi juga memicu kepanikan luar biasa dan memaksa ratusan warga mengungsi menyelamatkan diri.

Akar Konflik yang Terpendam

Konflik perebutan tanah ulayat di Flores Timur, khususnya di Adonara, bukanlah fenomena baru. Akar masalahnya telah terpendam sejak tahun 1970-an, bahkan ada catatan yang menyebutkan sengketa ini sudah terjadi sejak 1975 atau 1976. Pemicu utama bentrokan terbaru ini adalah ketidakpuasan warga Desa Ilepati dan Desa Kimamak atas penyerahan tanah adat mereka untuk relokasi warga Desa Ongabaran (yang kini menjadi Desa Bugalima) pascabencana banjir pada tahun 1975. Meskipun Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah berupaya melakukan mediasi dan mengeluarkan pengesahan batas wilayah, kesepakatan yang memuaskan semua pihak belum tercapai. Ketidakjelasan batas tanah, perbedaan versi tutur sejarah, serta minimnya perhatian pemerintah daerah disebut-sebut menjadi faktor-faktor yang memperkeruh suasana.

Kronologi Mencekam: Pembakaran dan Kepanikan Massal

Pada Senin pagi itu, sekitar pukul 05.30 WITA, terdengar suara dentuman mirip bom di Desa Bugalima. Tak lama kemudian, api mulai melalap rumah-rumah warga. Laporan menyebutkan sebanyak 49 hingga 51 rumah di Desa Bugalima dilaporkan terbakar habis. Aksi pembakaran ini diduga kuat dilakukan oleh massa dari Desa Ilepati yang menyerang Desa Bugalima. Selain rumah yang ludes terbakar, empat orang dilaporkan mengalami luka tembak senapan angin. Tragedi kemanusiaan semakin terasa ketika seorang warga lanjut usia, Simon Sanga Mado (70), dilaporkan meninggal dunia karena terjebak di dalam rumahnya yang terbakar.

Kepanikan melanda warga Desa Bugalima. Ratusan jiwa terpaksa mengungsi ke desa tetangga, seperti Desa Wureh, demi menyelamatkan diri dari kobaran api dan potensi kekerasan susulan. Mobilitas di jalan raya Adonara yang melintasi Desa Bugalima sempat terganggu total selama berjam-jam.

Penegasan Aparat dan Seruan Perdamaian

Menyikapi eskalasi konflik yang memprihatinkan ini, aparat keamanan dari Polres Flores Timur dan TNI segera diterjunkan ke lokasi untuk mencegah bentrokan meluas. Personel tambahan dikirim untuk memperkuat penjagaan dan melakukan blokade di perbatasan antar desa yang bertikai. Kapolres Flores Timur, AKBP I Nyoman Putra Sandita, dengan tegas menyerukan agar semua pihak menahan diri dan tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Ia menekankan bahwa pemerintah, Polri, dan TNI siap memfasilitasi penyelesaian damai.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur, melalui Kepala Dinas Informasi dan Informatika, Heri Lamawuran, menyatakan bahwa konflik ini telah berlangsung puluhan tahun dan pernah memicu bentrokan pada tahun 2008. Upaya mediasi terus dilakukan oleh pemerintah daerah, camat, serta tokoh adat dan agama, namun penyelesaian tuntas masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Upaya Penyelesaian: Hukum Adat dan Hukum Negara

Penyelesaian sengketa tanah ulayat di Adonara, Flores Timur, memang kompleks. Selain melalui jalur hukum negara, mekanisme hukum adat juga kerap ditempuh, seperti perang tanding, mediasi adat, atau sumpah adat. Namun, dalam kasus ini, Kepala Desa Bugalima, Yohanes Polikarpus Baka Tukan, menyarankan agar pihak yang tidak puas menempuh jalur hukum negara dengan menggugat Pemerintah Kabupaten Flores Timur jika merasa penyerahan tanah tersebut tidak sesuai.

Sementara itu, sebanyak enam orang yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Status tersangka kasus ini bahkan bertambah menjadi 16 orang, menunjukkan keseriusan aparat dalam menangani dampak dari konflik tanah yang berlarut-larut ini.

Peristiwa tragis di Desa Bugalima ini menjadi pengingat akan betapa pentingnya penyelesaian konflik agraria yang berkeadilan dan berkelanjutan. Tanpa solusi yang tuntas, potensi kekerasan dan korban jiwa akan terus menghantui masyarakat di tanah Adonara.

Source: https://www.tribunnews.com/regional/2024/10/22/live-konflik-tanah-ulayat-pecah-di-flores-timur-massa-bakar-rumah-warga-panik-menyelamatkan-diri



#KonflikTanahUlayat #FloresTimur #PembakaranRumah

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama