Harapan Tiga SD Pesisir Selatan Flores Timur: Cahaya di Tengah Kerusakan Ruang Kelas pada Hari Pendidikan Nasional

BUGALIMA - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) seharusnya menjadi momentum untuk merayakan kemajuan dan cita-cita pendidikan di Indonesia. Namun, di pesisir selatan Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Hardiknas ke-67 tahun 2026 ini masih menyisakan cerita pilu dan harapan yang menggantung. Tiga sekolah dasar (SD) di Kecamatan Wulanggitang merasakan langsung betapa rapuhnya sarana belajar mereka, di mana ruang kelas yang rusak parah menjadi saksi bisu perjuangan anak-anak bangsa untuk menuntut ilmu.

Kondisi ini sungguh ironis. Di saat kita seharusnya berbangga dengan kemajuan teknologi dan pembangunan, di sudut-sudut negeri ini masih ada anak-anak yang belajar di bawah atap yang bolong dan plafon yang nyaris ambruk. Seperti yang terjadi di SDK Hewa, Desa Hewa. Dua ruang kelas di sekolah ini mengalami kerusakan parah akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Atapnya bolong, tiang penyangganya sudah lapuk, dan plafonnya jebol. Kepala SDK Hewa, Maria Rosalia Sabu Soge, harus memutar otak agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Siswa kelas 1 dan 2 terpaksa dipindahkan ke bangunan perpustakaan yang sebelumnya berfungsi sebagai gudang. Bayangkan, belajar di bekas gudang yang mungkin berdebu dan kurang memadai. Ini bukan potret ideal pendidikan yang kita impikan.

Sumber: Pixabay

Tak hanya SDK Hewa, dua SD lainnya di pesisir selatan Flores Timur juga menghadapi nasib serupa. Meskipun detail kerusakannya tidak sedalam SDK Hewa, namun keberadaan mereka di tengah keterbatasan infrastruktur pendidikan menunjukkan bahwa perjuangan untuk memberikan pendidikan yang layak masih panjang. Ini adalah potret nyata dari tantangan yang dihadapi dunia pendidikan di daerah terpencil, di mana bencana alam seperti erupsi gunung berapi dapat menambah daftar panjang persoalan yang ada.

Fenomena kerusakan sekolah ini bukanlah hal baru di Flores Timur. Data dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Kabupaten Flores Timur mencatat bahwa sebanyak 20 sekolah, mulai dari PAUD hingga SMP, terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada awal tahun 2025. Kerusakan ini bervariasi, mulai dari yang ringan hingga berat, bahkan beberapa bangunan dilaporkan roboh. Dampak erupsi ini memaksa ribuan siswa untuk mengungsi dan terpaksa mengikuti pembelajaran di tempat pengungsian. Situasi seperti ini tentu sangat mempengaruhi kualitas pembelajaran dan mental para siswa.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin kita bisa mencapai cita-cita pendidikan nasional jika sarana dasar belajar masih seperti ini? Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih serius menangani persoalan infrastruktur pendidikan, terutama di daerah-daerah yang rentan terhadap bencana dan memiliki keterbatasan geografis.

Kita patut mengapresiasi semangat para tenaga pendidik di Flores Timur. Maria Rosalia Sabu Soge, misalnya, telah menunjukkan dedikasi luar biasa dengan mencari solusi kreatif agar anak didiknya tetap bisa belajar. Namun, semangat saja tidak cukup. Mereka membutuhkan dukungan nyata, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Revitalisasi dan rehabilitasi ruang kelas yang rusak harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar agenda tahunan yang berjalan lambat.

Pemerintah telah menunjukkan komitmennya melalui program revitalisasi satuan pendidikan yang menargetkan sekolah terdampak bencana, daerah 3T, dan sekolah dengan kerusakan berat. Anggaran yang dialokasikan pun tidak sedikit. Namun, efektivitas program ini di lapangan yang menjadi kunci. Apakah program ini benar-benar sampai ke daerah-daerah terpencil seperti pesisir selatan Flores Timur? Apakah proses perbaikannya cepat dan memadai?

Kita juga perlu melihat akar permasalahannya. Selain faktor bencana alam, masalah kualitas sumber daya manusia pendidik yang kurang memadai juga menjadi tantangan serius di Flores Timur. Ini menunjukkan bahwa penanganan masalah pendidikan harus bersifat holistik, mencakup perbaikan infrastruktur, peningkatan kualitas guru, serta dukungan kebijakan yang berpihak pada daerah terpencil.

Pada Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita jadikan kondisi tiga SD di pesisir selatan Flores Timur sebagai refleksi mendalam. Ini bukan hanya soal bangunan fisik, tetapi juga tentang masa depan generasi penerus bangsa. Apakah kita rela melihat anak-anak Indonesia belajar dalam kondisi yang tidak layak? Apakah kita rela membiarkan mimpi mereka terhalang oleh atap yang bocor dan dinding yang rapuh?

Pemerintah Kabupaten Flores Timur, melalui program-program seperti "Future School Program" yang diluncurkan Bupati Antonius Doni Dihen, memiliki potensi untuk membawa perubahan. Namun, program-program tersebut harus menyentuh hingga ke pelosok, memastikan bahwa tidak ada lagi sekolah yang terabaikan. Peringatan Hardiknas tahun ini harus menjadi titik tolak untuk aksi nyata, bukan sekadar seremoni.

Kisah SDK Hewa dan dua SD lainnya di pesisir selatan Flores Timur adalah panggilan darurat. Mereka membutuhkan perhatian serius, bukan sekadar janji manis. Rehabilitasi ruang kelas yang rusak adalah langkah awal yang krusial. Dengan begitu, Hardiknas bukan lagi hanya tentang perayaan, melainkan tentang pemenuhan hak dasar setiap anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan aman.

Semoga di Hardiknas mendatang, cerita pilu ini berganti menjadi cerita sukses rehabilitasi, di mana anak-anak di pesisir selatan Flores Timur bisa belajar dengan tenang, nyaman, dan penuh semangat, tanpa dihantui oleh kondisi bangunan sekolah mereka yang memprihatinkan. Pendidikan adalah kunci masa depan, dan masa depan itu dimulai dari ruang kelas yang layak.

Source: FloresPos.net



#Pendidikan Flores Timur #Infrastruktur Sekolah Rusak #Hari Pendidikan Nasional

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama