Tiga SD Rusak di Selatan Wulanggitang: PKO Flores Timur Belum Respon, BPBD Turun Tangan

BUGALIMA - Di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Pendidikan Nasional, tersembul kabar yang memilukan dari pesisir Selatan Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Tiga bangunan Sekolah Dasar (SD), baik negeri maupun swasta, dilaporkan dalam kondisi rusak parah dan memprihatinkan. Kondisi ini tentu saja menggugah keprihatinan mendalam, mengingat betapa pentingnya lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak bangsa. Ironisnya, respons dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Flores Timur terkesan lamban, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat turun ke lokasi.

Kejadian ini pertama kali diungkapkan oleh para kepala sekolah: Kepala SDK Hewa, Maria Rosalia Sabu Soge; Kepala SDI Pantai Oa, Yosef Gabriel Laga Suban Temu; dan Kepala SDI Tabana, Sopia Ance. Mereka menyampaikan kondisi memilukan ini bertepatan dengan momen peringatan Hari Pendidikan Nasional, seolah menjadi pengingat getir tentang tantangan nyata yang dihadapi dunia pendidikan di daerah terpencil. Kerusakan yang terjadi cukup parah, terutama pada bagian atap dan plafon yang jebol. Para kepala sekolah menduga, kerusakan ini merupakan dampak dari abu vulkanik letusan Gunung Lewotobi Laki-laki yang kerap melanda wilayah tersebut. Bahkan, di SDI Pantai Oa, kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk kelas 1 dan 2 terpaksa harus dilaksanakan di rumah salah satu warga dan di TKK Santo Yoseph Pantai Oa. Ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang memaksa anak-anak didik belajar dalam kondisi yang tidak ideal.

Sumber: Pixabay

Situasi ini semakin diperparah dengan belum adanya respons yang memadai dari Dinas PKO Flores Timur. Kepala Dinas PKO Flores Timur, Felix Suban Hoda, belum berhasil dikonfirmasi wartawan pada Senin pagi, (4/5/2026), karena sedang tidak berada di kantornya. Ketiadaan respons ini tentu menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan di kalangan pendidik dan masyarakat. Di saat para siswa membutuhkan perhatian dan solusi segera, lambannya birokrasi pendidikan menjadi sebuah pukulan telak.

Namun, di tengah keprihatinan ini, ada secercah harapan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur menunjukkan respons yang sigap. BPBD dilaporkan segera turun ke lokasi untuk melakukan asesmen dan peninjauan langsung terhadap kondisi bangunan sekolah yang rusak tersebut. Tindakan ini menunjukkan bahwa BPBD, yang notabene berfokus pada penanggulangan bencana, ternyata lebih cepat tanggap terhadap kondisi darurat yang mengancam sektor pendidikan, dibandingkan dengan instansi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam urusan pendidikan itu sendiri.

Ancaman Bencana dan Ketahanan Pendidikan

Flores Timur memang dikenal sebagai daerah yang rentan terhadap bencana alam. Letusan Gunung Lewotobi Laki-laki seringkali menimbulkan dampak luas, termasuk hujan abu vulkanik yang dapat merusak infrastruktur, termasuk bangunan sekolah. Belum lama ini, tepatnya pada April 2026, Flores Timur juga dilanda gempa bumi bermagnitudo 4,7 yang menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah dan memaksa ribuan warga mengungsi. BPBD Flores Timur sendiri telah beberapa kali melakukan pendistribusian logistik untuk korban gempa di Adonara dan wilayah terdampak lainnya. Bahkan, pada awal tahun 2023, angin kencang juga telah merusak ratusan bangunan di Flores Timur. Belum lagi bencana banjir bandang yang pernah terjadi pada tahun 2021, yang merenggut puluhan korban jiwa. Situasi ini menunjukkan bahwa Flores Timur secara konstan dihadapkan pada berbagai macam ancaman bencana, sehingga penanganan dan mitigasi harus menjadi prioritas utama.

Dalam konteks ini, ketahanan sektor pendidikan menjadi sangat krusial. Bagaimana mungkin anak-anak dapat belajar dengan baik jika bangunan sekolah mereka rusak dan tidak aman? Hujan abu vulkanik yang terjadi di Wulanggitang beberapa waktu lalu, misalnya, menyebabkan kerusakan atap rumah warga, yang bisa jadi juga dialami oleh bangunan sekolah. Kerusakan bangunan sekolah bukan hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan guru. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa Flores Timur masih menghadapi tantangan pendidikan lainnya, seperti kualitas sumber daya manusia pendidik yang perlu ditingkatkan dan tingkat perekonomian masyarakat yang rendah yang berdampak pada kurangnya sarana prasarana pendidikan.

Peran BPBD dan Harapan untuk Dinas PKO

Gerak cepat BPBD Flores Timur dalam merespons kerusakan sekolah ini patut diapresiasi. Tindakan mereka turun langsung ke lapangan menunjukkan komitmen dalam penanganan bencana, meskipun dalam kasus ini, bencana tersebut berdampak langsung pada infrastruktur pendidikan. Keberadaan BPBD di lokasi menjadi bukti nyata bahwa ada pihak yang peduli dan siap bertindak.

Namun, sorotan utama tetap tertuju pada Dinas PKO Flores Timur. Sebagai instansi yang bertanggung jawab langsung atas dunia pendidikan, seharusnya mereka menjadi pihak pertama yang mengetahui dan mengambil tindakan atas kerusakan fasilitas pendidikan. Keterlambatan respons ini menimbulkan pertanyaan mengenai sistem pelaporan dan koordinasi internal di dinas tersebut. Apakah tidak ada mekanisme pelaporan kerusakan bangunan sekolah yang efektif? Ataukah informasi tersebut sudah diterima, namun respons yang diberikan tidak sebanding dengan urgensi masalahnya?

Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk refleksi dan evaluasi. Kasus kerusakan tiga SD di Selatan Wulanggitang ini seharusnya menjadi cambuk bagi Dinas PKO Flores Timur untuk segera berbenah. Perlu ada upaya serius untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan sekolah yang rusak agar proses belajar mengajar dapat kembali normal dan aman. Dukungan dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya ini.

Pendidikan adalah aset bangsa yang paling berharga. Membiarkan anak-anak belajar dalam kondisi yang tidak layak adalah sebuah kelalaian serius. Semoga, respons cepat BPBD ini dapat menjadi katalisator bagi Dinas PKO Flores Timur untuk segera bertindak, memberikan perhatian penuh, dan memastikan bahwa masa depan pendidikan di Flores Timur tidak terhalang oleh puing-puing bangunan yang rusak.

Source: FloresPos Net



#Pendidikan Flores Timur #Bencana Alam #Kerusakan Sekolah

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama