BUGALIMA - Alam kembali menunjukkan kekuatannya yang dahsyat. Gunung Lewotobi Laki-laki, yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali bergolak. Pada Selasa pagi, 2 Juni 2026, tepatnya pukul 07.47 WITA, gunung ini erupsi dengan melontarkan abu vulkanik setinggi satu kilometer di atas puncak. Kejadian ini bukan hanya menjadi berita utama, tetapi juga pengingat akan kekuatan alam yang tak terduga dan perlu diwaspadai.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Lewotobi Laki-laki, Herman Yosef Mboro, membenarkan peristiwa ini. Melalui keterangan tertulis, ia menyatakan bahwa kolom abu yang teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal, dan mengarah ke barat daya serta barat. Erupsi ini terekam dalam seismogram dengan amplitudo maksimum 11 milimeter dan berlangsung selama 2 menit 28 detik. Saat berita ini ditulis, status Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada Level III atau Siaga.
| Sumber: Pixabay |
Ini bukan kali pertama Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan aktivitasnya. Sepanjang tahun 2024 saja, tercatat telah terjadi ratusan kali erupsi. Pada November 2024, misalnya, erupsi dahsyat menyebabkan ribuan jiwa terdampak, bahkan sembilan orang dilaporkan meninggal dunia. Aktivitas yang terus menerus ini menunjukkan bahwa gunung api ini memiliki cadangan energi yang cukup besar dan memerlukan pemantauan yang ketat.
Ancaman yang Nyata
Lontaran abu vulkanik setinggi 1 kilometer ini mungkin terdengar seperti fenomena alam biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Lewotobi, ini adalah ancaman yang nyata. Abu vulkanik dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, terutama gangguan pernapasan jika terhirup. Oleh karena itu, masyarakat yang terdampak hujan abu diimbau untuk segera menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut. Selain itu, sebaran abu vulkanik juga berpotensi mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Rekomendasi dan Imbauan
Menghadapi situasi ini, otoritas vulkanologi dan pemerintah daerah telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi dan imbauan penting. Berdasarkan status Siaga (Level III), masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Jarak aman ini penting untuk mencegah korban jiwa atau luka-luka akibat lontaran material vulkanik atau potensi bencana susulan.
Lebih lanjut, masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki juga diimbau untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan. Fenomena ini dapat terjadi jika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan hulu sungai yang berasal dari puncak gunung. Beberapa wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Pihak berwenang juga menekankan pentingnya masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari pemerintah daerah, dan tidak mudah percaya pada isu-isu atau hoaks yang tidak jelas sumbernya. Informasi yang akurat dan valid hanya berasal dari sumber resmi seperti Badan Geologi dan BPBD setempat.
Sejarah dan Aktivitas Gunung Lewotobi
Gunung Lewotobi sendiri memiliki sejarah panjang dalam aktivitas vulkaniknya. Tercatat sudah ada 23 peristiwa erupsi sepanjang sejarah, dengan letusan pertama yang jelas tercatat terjadi pada Mei 1861. Aktivitas vulkanik yang terus menerus ini menunjukkan bahwa Lewotobi adalah gunung api yang sangat aktif.
Pada periode 30 Oktober hingga 5 November 2024, aktivitas Gunung Lewotobi terpantau meningkat signifikan. Bahkan, pada 3 November 2024 malam, terdengar dentuman keras yang mengindikasikan erupsi dahsyat. Pada periode tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status aktivitas gunung ini dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas). Kenaikan status ini menunjukkan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi.
Badan Geologi Kementerian ESDM juga telah menaikkan status Gunung Api Lewotobi Laki-laki menjadi Level IV (AWAS) pada Juni 2025, setelah analisis data kegempaan yang terus meningkat signifikan. Peningkatan status ini sering kali diikuti dengan perluasan radius zona berbahaya untuk memastikan keselamatan masyarakat.
Respons dan Penanganan Bencana
Menghadapi erupsi Gunung Lewotobi, berbagai pihak telah melakukan upaya penanganan. Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat bencana alam, dan berbagai lembaga seperti BPBD Provinsi NTT, Human Initiative, hingga Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) telah terlibat dalam respons cepat. Upaya evakuasi warga, pendistribusian bantuan logistik, pembukaan dapur air, hingga pembangunan hunian sementara bagi pengungsi terus dilakukan.
Keterlibatan berbagai pihak ini menunjukkan keseriusan dalam menangani dampak bencana erupsi Gunung Lewotobi. Kolaborasi antara pemerintah, badan penanggulangan bencana, dan lembaga kemanusiaan sangat krusial dalam memberikan bantuan yang maksimal kepada masyarakat yang terdampak.
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terjadi pada 2 Juni 2026 ini kembali mengingatkan kita akan kekuatan alam yang dahsyat. Kewaspadaan, informasi yang akurat, dan kesiapsiagaan adalah kunci utama dalam menghadapi potensi bencana. Semoga masyarakat di Flores Timur senantiasa diberikan perlindungan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.
Source: Tempo.co
#Gunung Lewotobi #Erupsi #Flores Timur