BUGALIMA - Alam kembali menunjukkan taringnya. Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali bergolak. Jumat, 19 Juni 2026 petang, gunung api yang berstatus Siaga (Level III) ini memuntahkan kolom abu setinggi 1 kilometer (km) ke angkasa. Kejadian ini bukan kali pertama, namun tetap saja memantik kewaspadaan, mengingatkan kita akan kekuatan dahsyat alam yang tak terduga.
Detik-detik Erupsi yang Menggetarkan
| Sumber: Pixabay |
Peristiwa letusan Gunung Lewotobi Laki-laki ini terjadi sekitar pukul 18.22 Wita. Kolom abu yang dimuntahkan terlihat berwarna kelabu dengan intensitas tebal, condong bergerak ke arah barat dan barat laut. Ketinggian kolom abu mencapai 2.584 meter di atas permukaan laut, sebuah pemandangan yang mungkin dramatis namun penuh ancaman bagi warga sekitar. "Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut," ungkap Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-laki, Bramantyo Aji Putra Mahendra, dalam keterangannya pada Jumat (19/6/2026).
Tak hanya kolom abu yang mencolok, letusan ini juga terekam dalam seismograf. Amplitudo maksimum yang tercatat mencapai 47,3 milimeter dengan durasi sekitar 1 menit 19 detik. Angka-angka ini mungkin terdengar teknis, namun bagi para ahli vulkanologi, ini adalah gambaran konkret dari aktivitas magmatik yang sedang terjadi di perut bumi.
Rekomendasi dan Imbauan: Jaga Jarak, Hindari Bahaya
Menyikapi letusan ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali mengeluarkan rekomendasi penting. Masyarakat dan para wisatawan dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 5 km dari pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Jarak aman ini penting untuk mencegah jatuhnya korban jika terjadi letusan susulan atau lontaran material vulkanik.
Lebih jauh lagi, masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan. Terutama bagi warga di daerah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote. Hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut dapat memicu aliran lahar yang sangat berbahaya.
Bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh hujan abu vulkanik, Bramantyo Aji Putra Mahendra mengingatkan untuk segera menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut. Abu vulkanik, selain mengganggu pernapasan, juga dapat merusak infrastruktur dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sejarah Letusan dan Status Waspada
Gunung Lewotobi Laki-laki memang dikenal sebagai gunung api yang cukup aktif. Statusnya yang berada di Level III (Siaga) menunjukkan bahwa aktivitas vulkaniknya perlu terus dipantau secara ketat. Sejarah mencatat beberapa kali erupsi yang cukup signifikan. Misalnya, pada November 2024, erupsi gunung ini bahkan memakan korban jiwa, dengan sembilan orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut. Pada peristiwa itu, status aktivitas gunung api bahkan dinaikkan menjadi Level IV (Awas), dengan radius larangan aktivitas yang diperluas hingga 7 kilometer.
Pada Juni 2025, sebuah letusan dahsyat terjadi dengan kolom abu mencapai 10 hingga 11 kilometer, memaksa ribuan penduduk mengungsi dan mengganggu transportasi udara internasional. Hal ini menunjukkan bahwa Lewotobi Laki-laki memiliki potensi letusan yang besar dan dampaknya bisa sangat luas.
Dampak Luas: Dari Penerbangan Hingga Kehidupan Sehari-hari
Letusan Gunung Lewotobi Laki-laki tidak hanya berdampak pada keselamatan warga di sekitar gunung. Hujan abu vulkanik yang terbawa angin dapat meluas hingga radius puluhan kilometer, bahkan lebih. Hal ini dapat mengganggu aktivitas penerbangan. Beberapa laporan menyebutkan penutupan bandara, seperti Bandara Frans Seda, dan pembatalan sejumlah penerbangan akibat erupsi Lewotobi.
Selain itu, abu vulkanik juga dapat berdampak pada sektor pertanian dan kesehatan. Sekolah-sekolah di beberapa wilayah dilaporkan ditutup sementara, dan sebagian puskesmas tidak dapat melayani pasien karena bangunan terkena abu vulkanik. Aktivitas ekonomi pun bisa terganggu, dengan beberapa pedagang yang terpaksa tetap berjualan di tengah hujan abu.
Kearifan Lokal dan Pembelajaran Sains
Menghadapi fenomena alam seperti letusan gunung api, sains memainkan peran krusial. Ilmu vulkanologi membantu kita memahami proses di balik letusan, memprediksi potensi bahaya, dan merancang strategi mitigasi. Namun, menariknya, kearifan lokal masyarakat adat juga kerap kali memberikan petunjuk penting. Perubahan perilaku binatang, kondisi air sumur, atau warna asap kawah, seringkali menjadi tanda-tanda awal yang diperhatikan oleh masyarakat.
Pendekatan etnosains, yang menggabungkan pengetahuan ilmiah modern dengan kearifan lokal, menjadi semakin relevan. Dengan memahami kedua aspek ini, kita dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap bencana alam secara lebih efektif.
Gunung Lewotobi Laki-laki, dengan segala aktivitasnya, adalah pengingat abadi akan kekuatan alam. Kewaspadaan, informasi yang akurat, dan kepatuhan pada arahan petugas adalah kunci utama bagi keselamatan kita semua. Semoga warga Flores Timur diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Source: detikcom
#Gunung Api #Bencana Alam #Nusa Tenggara Timur