BUGALIMA - Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali berdarah. Akhir pekan lalu, Sabtu (18/7/2026), bentrokan antara warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur meletus dengan dahsyat. Tragedi ini merenggut nyawa tiga orang, melukai lima orang lainnya, dan menghancurkan 20 rumah. Sebuah luka lama, sengketa tanah, kembali membara, membakar habis kedamaian di tanah Adonara.
Ini bukan kali pertama api permusuhan berkobar di antara kedua desa bertetangga ini. Sejarah mencatat, konflik yang dipicu oleh sengketa kepemilikan tanah adat ini telah berulang kali terjadi. Bahkan, pada Mei 2026 lalu, insiden serupa juga menyebabkan belasan rumah terbakar dan tujuh warga terluka parah akibat peluru. Upaya mediasi dari Pemerintah Kabupaten Flores Timur, serta pemusnahan ratusan senjata api rakitan pada awal Juli lalu, seolah hanya menjadi pemadam sementara yang tak mampu memadamkan bara di akar rumput.
| Sumber: Pixabay |
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, melalui Kasi Humas AKP Eliezer A. Kalelado, membenarkan adanya tiga korban meninggal dunia. Dua korban berasal dari Desa Narasaosina, sementara satu korban lagi dari Desa Waiburak. "Lima orang mengalami luka ringan, serta 20 unit rumah terbakar," ujar Eliezer dalam keterangannya. Namun, sumber lain menyebutkan total korban luka-luka mencapai tujuh orang. Luka-luka ini, sebagian disebabkan oleh senjata tajam. Peristiwa ini sungguh memilukan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan kerugian material yang tidak sedikit.
Kronologi kejadian pada Sabtu pagi itu masih diselidiki secara mendalam oleh pihak kepolisian. Namun, berdasarkan kesaksian warga, terdengar suara ledakan keras yang diduga berasal dari bom rakitan sebelum api membesar di permukiman. Suasana sempat mencekam, membuat warga panik dan menyelamatkan diri ke perkebunan. Arus lalu lintas di Jalan Trans Adonara bahkan lumpuh total karena dijadikan medan pertempuran.
Pihak kepolisian dan TNI bekerja keras untuk mengendalikan situasi. Ratusan personel gabungan masih bersiaga di sejumlah titik strategis untuk mengantisipasi bentrokan susulan. Patroli dialogis dan deteksi dini terus dilakukan untuk menjaga kedamaian. Kapolres Flores Timur mengimbau masyarakat untuk menahan diri, tidak terprovokasi oleh isu yang belum jelas kebenarannya, dan mempercayakan penanganan sepenuhnya kepada aparat keamanan. "Mari kita jaga persaudaraan, saling menghormati, dan bersama-sama mewujudkan Flores Timur yang aman, damai, dan kondusif," ujar AKP Eliezer.
Pemerintah daerah, melalui Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, juga turun langsung ke lokasi untuk melakukan mediasi. Namun, upaya ini tidak serta-merta memadamkan api dendam dan sengketa yang telah mengakar. Sejarah konflik di Adonara Timur ini bagaikan pengingat pahit bahwa menyelesaikan akar masalah, dalam hal ini sengketa tanah adat, adalah kunci utama untuk mencapai kedamaian yang hakiki.
Apa yang sebenarnya terjadi di Adonara? Mengapa konflik seperti ini terus berulang? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung di udara, menuntut jawaban yang lebih mendalam daripada sekadar laporan jumlah korban dan kerusakan. Ini adalah panggilan untuk refleksi, untuk mencari solusi berkelanjutan yang tidak hanya mengatasi gejalak, tetapi juga menyembuhkan luka lama yang menganga di hati masyarakat Adonara.
Keindahan alam Adonara yang mempesona, dengan gunung-gunung hijau dan laut biru yang membentang, kini ternoda oleh tragedi kemanusiaan ini. Harapan kita, semoga upaya rekonsiliasi yang dilakukan oleh pemerintah dan tokoh masyarakat akan membuahkan hasil yang nyata. Agar Adonara kembali menjadi pulau yang damai, tempat di mana warga dapat hidup berdampingan tanpa rasa takut, dan luka lama tertutup rapat oleh benang perdamaian.
Source: Kompas.com
#Bentrok Adonara #Konflik Flores Timur #Sengketa Tanah NTT