BUGALIMA - Ketenangan yang semestinya menyelimuti Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini terusik oleh sebuah penemuan yang cukup mengkhawatirkan. Di tengah upaya pemulihan pasca bentrokan antarwarga yang merenggut nyawa dan merusak puluhan rumah, tim penjinak bom Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda NTT harus bekerja keras memusnahkan tiga unit bom pipa rakitan. Benda-benda berbahaya ini ditemukan di lokasi yang berbeda pasca konflik sosial yang memanas antara warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan Dusun Lewonara, Desa Narasaosina, di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur. Penemuan ini bak alarm yang mengingatkan bahwa sisa-sisa konflik bisa berwujud lebih mengerikan dari sekadar bangunan yang terbakar atau luka fisik.
Peristiwa ini bukan sekadar berita kriminal biasa, melainkan sebuah cerminan betapa kompleksnya persoalan yang bisa memicu kekerasan, bahkan hingga menyentuh ranah penggunaan bahan peledak rakitan. Bagaimana tidak, bom pipa ini ditemukan bukan di tempat tersembunyi, melainkan di lokasi yang cukup terbuka, seperti sekitar lokasi pembuangan sampah dan bahkan di pekarangan rumah Kepala Desa Waiburak. Ini menunjukkan bahwa ancaman itu bisa datang dari mana saja, dan berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
| Sumber: Pixabay |
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, mengapresiasi kepedulian masyarakat yang segera melaporkan temuan benda mencurigakan tersebut kepada aparat kepolisian. "Langkah tersebut sangat penting sehingga Tim Jibom dapat segera melakukan sterilisasi, pengamanan, hingga pemusnahan sesuai standar operasional yang berlaku," ujarnya di Larantuka, Jumat (24/7/2026). Sikap proaktif masyarakat ini patut diacungi jempol, karena tanpa laporan cepat, potensi korban jiwa atau kerusakan yang lebih parah bisa saja terjadi. Bayangkan jika bom-bom ini jatuh ke tangan anak-anak yang sedang bermain, atau jika ada masyarakat yang tidak tahu lalu mencoba memindahkannya.
Akar Masalah yang Dalam: Sengketa Lahan dan Konflik Laten
Namun, di balik penemuan bom pipa ini, tersimpan akar masalah yang lebih dalam dan telah berlangsung lama. Bentrokan yang terjadi bukanlah fenomena sesaat, melainkan puncak dari sengketa lahan ulayat yang telah membayangi hubungan antara Desa Waiburak dan Desa Narasaosina selama bertahun-tahun. Konflik yang bersifat laten ini, seperti api dalam sekam, sewaktu-waktu bisa membesar menjadi kobaran api yang merusak.
Pihak kepolisian, melalui Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra, telah berulang kali menekankan bahwa penyelesaian konflik ini tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan hukum formal semata. Pendekatan adat dan budaya, yang sangat mengakar di masyarakat Adonara, menjadi kunci utama untuk memulihkan hubungan yang sempat renggang. "Pendekatan yang dilakukan mengedepankan pendekatan humanis dan kearifan lokal untuk meredam konflik," jelasnya. Penegasan ini penting agar tidak ada lagi pihak yang merasa dirugikan atau menuntut balas, melainkan mencari solusi bersama demi perdamaian berkelanjutan.
Masyarakat Adonara dikenal memiliki ikatan budaya yang kuat, dengan nilai-nilai persaudaraan atau "kaka ari" yang menjadi pedoman hidup. Konsep ini mengajarkan pentingnya hubungan kekeluargaan dan rasa saling menghormati. Para tokoh adat diharapkan memegang peranan vital dalam dialog adat dan musyawarah untuk mengembalikan harmoni di tengah masyarakat.
Peran Tim Gegana yang Krusial
Penemuan tiga bom pipa rakitan ini menegaskan betapa pentingnya keberadaan tim penjinak bom (Jibom) dari Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda NTT. Tim ini bergerak cepat setelah menerima laporan dari warga. Bom pipa pertama ditemukan seorang warga saat memungut buah asam di sekitar lokasi pembuangan sampah di Dusun Bele. Setelah laporan diterima, Tim Jibom langsung melakukan sterilisasi lokasi dan berhasil mengevakuasi benda yang dipastikan sebagai bom pipa rakitan.
Tak lama berselang, dua bom pipa rakitan lainnya kembali ditemukan warga, kali ini di sekitar pekarangan rumah Kepala Desa Waiburak. Seluruh barang bukti kemudian diamankan dan dibawa ke lokasi pemusnahan (disposal) untuk dinetralisir. Hasil identifikasi Tim Jibom menunjukkan ketiga benda tersebut merupakan bom pipa rakitan dengan daya ledak rendah. Namun, penting untuk digarisbawahi, meski daya ledaknya rendah, bahan peledak ini tetap berbahaya apabila mengalami benturan, tekanan, atau pemicu lainnya.
Ancaman yang Tetap Nyata
"Walaupun daya ledaknya tergolong rendah, benda tersebut tetap berbahaya bagi keselamatan masyarakat. Karena itu kami memutuskan melakukan disposal sesuai SOP hingga seluruh bom berhasil dinetralisir dan tidak lagi memiliki potensi membahayakan," ujar Kapolres Adhitya Octorio Putra. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa ancaman yang ditimbulkan oleh barang-barang berbahaya tidak boleh dianggap remeh, sekecil apapun potensi bahayanya.
Polisi tidak tinggal diam. Kapolda NTT Irjen Pol. Rudi Darmoko menegaskan bahwa pihaknya masih terus menyelidiki pihak yang merakit dan menggunakan bom pipa dalam bentrokan tersebut. Polres Flores Timur bersama Brimob Polda NTT dan TNI terus meningkatkan patroli, pengamanan, serta pemantauan di Adonara Timur guna menjaga situasi tetap kondusif selama proses pemulihan pascakonflik. Kehadiran personel di lapangan bertujuan memberikan rasa aman kepada masyarakat sekaligus mengantisipasi segala bentuk potensi gangguan keamanan agar proses pemulihan pascakonflik berjalan dengan baik.
Imbauan dan Harapan
Menyikapi temuan ini, Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra kembali mengimbau masyarakat untuk tidak menyentuh ataupun memindahkan benda mencurigakan yang diduga bahan peledak apabila menemukannya di lapangan. "Segera laporkan kepada aparat kepolisian atau personel keamanan terdekat apabila menemukan benda mencurigakan. Jangan mencoba memegang, memindahkan, ataupun membongkarnya sendiri karena dapat membahayakan keselamatan," pesannya.
Pesan ini sangat penting demi keselamatan bersama. Di tengah masyarakat yang masih berupaya bangkit dari trauma konflik, keberadaan bom rakitan ini menjadi pengingat getir tentang potensi kekerasan yang lebih jauh. Namun, dengan kesadaran kolektif, kerjasama yang baik antara masyarakat dan aparat, serta pendekatan yang mengedepankan kearifan lokal, diharapkan Pulau Adonara dapat kembali menemukan kedamaian dan ketenteraman. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga agar sengketa-sengketa di masa depan dapat diselesaikan dengan cara-cara yang damai dan konstruktif, tanpa harus meninggalkan jejak kehancuran yang mengerikan.
Source: Suara.com
#Adonara #Bom Pipa #Bentrok Lahan