BUGALIMA - Kabut kelabu kembali menyelimuti sebagian wilayah Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Kali ini, bukan berasal dari mendung yang menggantung, melainkan dari semburan dahsyat Gunung Lewotobi Laki-laki. Kamis (27/8/2026), lima desa di Kabupaten Flores Timur dilanda hujan abu vulkanik. Desa-desa tersebut adalah Boru, Boru Kedang, Nawokote, Hewa, dan Pantai Oa. Kejadian ini tentu saja memantik kekhawatiran warga yang kembali dihantui ancaman bencana alam.
Gunung Lewotobi Laki-laki, yang memiliki ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut, kembali menunjukkan "giginya" dengan erupsi yang disertai dentuman. Kolom abu membumbung tinggi, mencapai sekitar 2.500 meter di atas puncak, dan menyebarkan material vulkaniknya ke arah barat daya dan barat. "Abunya tipis, kalau kena mata perih sekali," ujar Paulus (32), warga Desa Boru Kedang, yang merasakan langsung dampak erupsi. Ia menambahkan bahwa letusan kali ini terasa cukup dahsyat, membuat warga panik dan kembali teringat trauma erupsi sebelumnya. "Kami masih trauma, tetapi mau bagaimana lagi, kita hanya bisa pasrah dan berdoa semoga bencana ini segera berakhir," tuturnya dengan nada pasrah.
| Sumber: Pixabay |
Bagi masyarakat Flores Timur, erupsi Gunung Lewotobi bukanlah fenomena baru. Aktivitas vulkanik gunung ini sudah beberapa kali terjadi, menimbulkan dampak yang beragam. Hujan abu vulkanik menjadi salah satu dampak paling sering dirasakan. Abu vulkanik ini, meskipun terlihat tipis, memiliki potensi bahaya yang signifikan. Jika abu vulkanik tebal, seperti yang dialami warga Desa Pantai Oa, Elisabet (35), aktivitas di luar rumah menjadi sangat berisiko. "Abunya sangat tebal di desa kami, kita mau keluar rumah takut terpapar abu vulkanik," ungkapnya.
Dampak Hujan Abu Vulkanik
Hujan abu vulkanik yang melanda desa-desa di Flores Timur ini membawa berbagai konsekuensi bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu yang paling terasa adalah gangguan kesehatan. Abu halus yang beterbangan dapat mengiritasi mata, hidung, dan tenggorokan, bahkan memicu masalah pernapasan yang lebih serius jika terhirup dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, penggunaan masker menjadi sangat penting bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah.
Selain dampak kesehatan, abu vulkanik juga merusak sektor pertanian. Tanaman pertanian, seperti kakao dan kelapa, yang menjadi sumber penghidupan sebagian warga, dapat terkontaminasi abu. Hal ini tidak hanya mengganggu proses panen, tetapi juga dapat mengurangi kualitas hasil pertanian. Petani menjadi enggan ke kebun karena khawatir akan kesehatan mereka dan kerusakan tanaman. Pakan ternak pun turut terdampak, yang bisa berujung pada kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pangan bagi hewan ternak.
Kerusakan infrastruktur juga menjadi ancaman. Ketebalan abu vulkanik yang menumpuk di atap rumah dapat berpotensi merusak bangunan jika tidak segera dibersihkan. Di beberapa kejadian erupsi sebelumnya, hujan kerikil juga sempat mengganggu akses jalan utama yang menghubungkan antar kabupaten.
Respons dan Mitigasi
Menghadapi situasi ini, pemerintah daerah dan pihak terkait terus berupaya melakukan mitigasi dan penanganan. Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki menjadi Level III (Siaga). Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius tertentu dari puncak gunung, yaitu lima kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan juga ditekankan, terutama bagi desa-desa yang berada di aliran sungai yang berhulu di puncak gunung.
BPBD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama pemerintah daerah terus bergerak melakukan berbagai upaya penanganan, termasuk evakuasi warga jika diperlukan, pendistribusian bantuan logistik, dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya keselamatan. Pembagian masker dan air bersih juga rutin dilakukan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak langsung dari erupsi.
Meskipun upaya penanganan terus dilakukan, rasa pasrah dan doa menjadi pegangan sebagian warga. Mereka berharap agar bencana ini segera berlalu dan kehidupan dapat kembali normal. Pengalaman pahit dari erupsi sebelumnya membuat trauma mendalam, namun semangat untuk bertahan dan bangkit tetap membara di hati masyarakat Flores Timur.
Gunung Lewotobi: Sang Penjaga Tanah yang Murka
Gunung Lewotobi Laki-laki, dengan segala keagungan dan kekuatannya, adalah bagian tak terpisahkan dari lanskap Flores Timur. Keberadaannya memberikan berkah kesuburan tanah, namun di saat yang sama juga menyimpan potensi ancaman yang tak terduga. Fenomena erupsi kali ini menjadi pengingat bagi kita semua akan kekuatan alam yang dahsyat dan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis dengan lingkungan.
Bagi masyarakat setempat, gunung ini adalah leluhur, penjaga alam yang memberi kehidupan. Namun, ketika sang penjaga murka, dampaknya bisa sangat menghancurkan. Keterbatasan informasi dan pemahaman tentang fenomena alam seringkali membuat masyarakat rentan. Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan dari para ahli vulkanologi dan badan penanggulangan bencana sangatlah krusial.
Meskipun telah ada peningkatan status siaga dan imbauan keselamatan, rasa trauma dan ketidakpastian tetap membayangi. Bagaimana tidak, aktivitas erupsi yang terus menerus terjadi, seperti yang dilaporkan pada beberapa waktu lalu, menimbulkan kecemasan mendalam. Keterbatasan akses terhadap sayuran segar dan pakan ternak akibat kontaminasi abu menjadi pukulan telak bagi roda perekonomian warga.
Semoga erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki kali ini tidak menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang lebih besar. Doa dan harapan terbaik senantiasa mengalir untuk masyarakat Flores Timur agar diberikan kekuatan, ketabahan, dan segera terbebas dari ancaman abu vulkanik. Kita pun berharap agar fenomena alam ini dapat menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan membangun ketahanan bencana di wilayah tersebut.
#Flores Timur #Gunung Lewotobi #Abu Vulkanik