BUGALIMA - Tanah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali bergetar hebat. Belum usai duka mendalam akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang meluluhlantakkan rumah, lahan pertanian, dan sumber penghidupan, kini para penyintasnya harus kembali menghadapi trauma baru: gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Betapa berat cobaan yang menimpa saudara-saudara kita di sana. Setelah berjuang keras bangkit dari keterpurukan pasca erupsi, kini mereka dihadapkan pada ketidakpastian yang lebih mencekam di tengah gemuruh alam yang tak kunjung reda.
Fenomena alam yang seolah datang bertubi-tubi ini menimbulkan pertanyaan besar: sampai kapan penderitaan ini akan berakhir? Para penyintas erupsi Lewotobi, yang seharusnya mendapatkan tempat aman dan pemulihan, justru harus kembali mengungsi, kali ini dari pengungsian mereka. Anastasia Naran dan keluarganya adalah salah satu contoh nyata. Mereka terpaksa meninggalkan tempat pengungsian sementara di bekas kantor pemerintah yang sudah rusak akibat erupsi, karena takut bangunan tersebut ambruk diterjang gempa. "Kami bentang kasur di tanah dan tidur di kios warga di bawah jalan. Kami berjaga-jaga saja," ujar Anastasia. Pengalaman pahit ini belum terhitung trauma psikologis yang mereka rasakan. Kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan rasa aman, kini ditambah lagi dengan ancaman gempa susulan yang membuat mereka tak bisa tidur nyenyak.
| Sumber: Pixabay |
Situasi ini diperparah dengan fakta bahwa Gunung Lewotobi Laki-laki masih berstatus Level III atau Siaga. Erupsi masih terus terjadi, bahkan pada Selasa, 25 Agustus 2026, gunung ini tercatat mengalami dua kali erupsi dengan kolom abu setinggi 300-1000 meter. Abu vulkanik yang terus menyembur ini menambah beban penderitaan para pengungsi. Mereka harus tetap waspada terhadap potensi bahaya lahar hujan, terutama jika terjadi hujan deras. Bayangkan, di tengah kondisi serba kekurangan, mereka masih harus berjuang untuk bertahan hidup dari ancaman bencana alam yang silih berganti.
Para penyintas yang sebelumnya kehilangan lahan pertanian akibat erupsi kini terpaksa menggantungkan hidup dari pekerjaan serabutan, seperti menjual seng bekas, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ekonomi yang sudah terpuruk semakin diperberat dengan dampak gempa yang merusak rumah dan fasilitas umum. Laporan BNPB menyebutkan bahwa ratusan rumah dilaporkan retak dan roboh, serta sejumlah fasilitas pendidikan dan rumah ibadah turut rusak akibat gempa. Ribuan warga terpaksa mengungsi di posko-posko darurat.
Tragedi Ganda: Gempa dan Erupsi, Beban Mental dan Fisik
Dampak gempa bumi ini bukan hanya fisik, tetapi juga sangat memukul secara psikologis. Bagi para penyintas erupsi Gunung Lewotobi, gempa bumi ini bagaikan luka lama yang kembali terbuka. Trauma yang telah mereka rasakan akibat kehilangan harta benda dan tempat tinggal akibat erupsi, kini diperparah dengan rasa takut akan gempa susulan. Ketidakpastian kapan bencana ini akan berakhir membuat mereka dilanda kecemasan yang mendalam.
Kehilangan Sumber Penghidupan dan Ketidakpastian Masa Depan
Sebelum gempa melanda, banyak warga yang terdampak erupsi Lewotobi telah kehilangan sumber penghidupan mereka. Lahan pertanian yang menjadi andalan kini tertutup abu vulkanik, memaksa mereka untuk mencari pekerjaan lain yang serabutan. Gempa bumi yang kemudian datang merusak lebih banyak lagi infrastruktur dan permukiman, semakin memperkecil peluang mereka untuk kembali membangun kehidupan.
#### Kondisi Pengungsian yang Memprihatinkan
Banyak pengungsi yang harus tinggal di tenda-tenda darurat atau bangunan yang tidak layak huni. Di tengah kondisi seperti ini, kesehatan para pengungsi, terutama lansia, menjadi sangat rentan. Laporan menyebutkan ada dua lansia korban gempa NTT yang meninggal dunia di pengungsian karena sakit dan asma yang kambuh. Kondisi sanitasi yang buruk dan akses kesehatan yang terbatas di lokasi pengungsian menjadi faktor penyebab utama memburuknya kondisi kesehatan mereka.
Ancaman Berkelanjutan dari Gunung Lewotobi Laki-laki
Status Gunung Lewotobi Laki-laki yang masih Siaga (Level III) menjadi pengingat bahwa ancaman bencana belum berakhir. Erupsi susulan masih sangat mungkin terjadi. Kolom abu yang terus membumbung tinggi menjadi indikasi aktivitas vulkanik yang masih aktif. PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi, termasuk imbauan bagi masyarakat dan wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Potensi bahaya banjir lahar hujan juga perlu diwaspadai, terutama bagi warga yang bermukim di sekitar sungai yang berhulu di puncak gunung. Hujan dengan intensitas tinggi dapat memicu aliran lahar yang berbahaya.
Dampak Ekonomi Jangka Panjang
Bencana yang silih berganti ini jelas akan memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Flores Timur. Pemulihan pasca-bencana membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Kerusakan infrastruktur, hilangnya lahan produktif, dan terganggunya aktivitas ekonomi akan membutuhkan upaya rekonstruksi dan rehabilitasi yang masif. Pemerintah daerah dan pusat dituntut untuk segera hadir memberikan solusi konkret, tidak hanya dalam bentuk bantuan darurat, tetapi juga dalam program pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Refleksi dan Harapan
Kondisi yang dialami para penyintas erupsi Gunung Lewotobi yang kembali dilanda gempa ini adalah pengingat betapa rapuhnya kehidupan manusia di hadapan kekuatan alam. Namun, di balik musibah ini, kita juga melihat semangat gotong royong dan solidaritas yang tumbuh di masyarakat. Keterbatasan seringkali justru memunculkan kekuatan luar biasa dari dalam diri manusia.
Pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu terus berupaya memberikan dukungan maksimal, tidak hanya dalam penanganan bencana, tetapi juga dalam aspek pemulihan jangka panjang. Aspek psikologis para penyintas, terutama anak-anak, harus menjadi prioritas. Program trauma healing perlu digalakkan secara intensif untuk membantu mereka pulih dari luka batin akibat bencana yang bertubi-tubi.
Semoga saudara-saudara kita di NTT senantiasa diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Semoga bantuan dan perhatian dari seluruh masyarakat Indonesia dapat meringankan beban mereka.
Source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c8d3p5j82jvo
#Gempa NTT #Erupsi Lewotobi #Penyintas Bencana