Konflik Desa Flores Timur Kembali Pecah: 2 Tewas, Saling Klaim Tanah Adat Jadi Pemicu?

BUGALIMA - Lagi-lagi tanah air kita diguncang oleh kabar duka. Di tanah Flores Timur yang indah, tepatnya di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), konflik antarwarga dua desa kembali pecah pada Sabtu, 18 Juli 2026. Kali ini, bentrokan antara warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak ini memakan korban jiwa. Dua orang dilaporkan tewas dalam peristiwa tragis tersebut.

Kejadian ini tentu saja mengiris hati. Di tengah upaya kita untuk terus membangun bangsa, masih saja ada pertumpahan darah yang terjadi akibat perselisihan yang berakar dari hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, bahkan harus turun langsung ke lokasi kejadian untuk melakukan mediasi. Beliau mengungkapkan bahwa kedua korban tewas berasal dari masing-masing desa yang bertikai.

Sumber: Pixabay

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan bahwa konflik ini bukanlah kali pertama. Jauh sebelumnya, masyarakat di kedua desa ini sudah pernah terlibat dalam bentrokan serupa. Bahkan, pada tanggal 9 Mei 2026 lalu, belasan rumah dilaporkan ludes terbakar dan tujuh warga harus dilarikan ke rumah sakit karena terkena peluru. Sungguh ironis, sebab di awal Juli 2026, warga kedua desa justru sempat menyerahkan ratusan senjata api rakitan kepada Polres Flores Timur sebagai iktikad perdamaian. Namun, tampaknya niat baik tersebut belum mampu memadamkan bara api perselisihan yang terus berkobar.

Lalu, apa sebenarnya akar dari konflik yang tak kunjung padam ini? Berdasarkan beberapa laporan, dugaan kuat mengarah pada sengketa tanah adat. Pulau Adonara, tempat kedua desa ini berada, memang dikenal memiliki sejarah panjang terkait klaim kepemilikan tanah. Saling klaim atas tanah adat inilah yang tampaknya menjadi pemicu utama bentrokan kali ini. Situasi di lokasi kejadian dilaporkan sempat mencekam, bahkan terdengar suara ledakan yang diduga berasal dari bom rakitan, serta asap yang membubung di beberapa wilayah. Arus lalu lintas di Jalan Trans Waiwerang pun dilaporkan lumpuh total karena warga memilih untuk tidak melintas di tengah situasi yang masih genting.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur sendiri sebenarnya sudah berupaya melakukan mediasi sebelumnya. Namun, upaya tersebut tampaknya belum membuahkan hasil yang permanen. Kehadiran aparat gabungan TNI dan Polri di lokasi kejadian menjadi bukti keseriusan aparat dalam mengendalikan situasi agar tidak semakin meluas. Mereka juga melakukan penjagaan di pintu masuk menuju Desa Narasaosina untuk mencegah bentrokan meluas.

Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, ada kabar baik yang patut diapresiasi. Kepala Puskesmas Ile Boleng, Stefanus Ola Bura, membenarkan bahwa ada pasien yang menjalani perawatan di puskesmasnya akibat luka-luka. Tiga korban dari Dusun Bele, Desa Waiburak, sempat menjalani perawatan di Puskesmas Ile Boleng akibat luka senjata tajam, sebelum akhirnya dua di antaranya dirujuk ke RSUD Lewoleba dan RSUD dr Hendrikus Fernandez Larantuka. Salah satu korban, BI (19), mengalami luka tembak di dada, sementara korban lainnya, NI, meninggal dunia akibat luka tembak di jantung. Sayangnya, korban tewas dari Desa Narasaosina juga tidak terhindarkan.

Kejadian seperti ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua. Konflik yang berujung pada kekerasan dan hilangnya nyawa adalah sebuah kegagalan peradaban. Di era modern ini, sengketa tanah atau masalah adat seyogianya dapat diselesaikan melalui jalur dialog, mediasi, dan penegakan hukum yang adil, bukan dengan kekerasan yang menimbulkan luka dan duka mendalam.

Kita berharap agar aparat keamanan dapat segera memulihkan ketertiban di lokasi kejadian dan mengusut tuntas para pelaku agar keadilan dapat ditegakkan. Lebih penting lagi, semoga ada solusi jangka panjang yang dapat ditemukan untuk menyelesaikan akar permasalahan antara Desa Narasaosina dan Desa Waiburak, sehingga pertumpahan darah serupa tidak terulang lagi di masa mendatang. Kisah dari Flores Timur ini menjadi pengingat pahit bahwa kedamaian bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh, melainkan harus terus diperjuangkan oleh setiap insan.

Source: https://www.kompas.com/regional/read/2026/07/18/113115178/konflik-warga-dua-desa-di-flores-timur-kembali-pecah-2-orang-tewas



#konflik sosial #flores timur #kekerasan desa

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama