BUGALIMA - Indonesia, negeri seribu pulau, adalah sebuah mozaik keindahan alam yang memukau, namun tak jarang dihadapkan pada ujian berat berupa bencana alam. Pulau Flores, permata di Nusa Tenggara Timur, kembali merasakan getirnya kekuatan alam ketika gempa bumi mengguncang wilayahnya. Di tengah duka dan keprihatinan, Polres Flores Timur mengambil langkah mulia dengan menggelar doa bersama lintas agama. Sebuah inisiatif yang tak hanya menyentuh sisi spiritual, tetapi juga mengukuhkan solidaritas kemanusiaan di tengah badai cobaan.
Peristiwa gempa bumi di Flores bukanlah hal baru. Sejarah mencatat, pulau ini begitu rawan terhadap aktivitas tektonik. Gempa dahsyat pada tahun 1992, yang memicu tsunami setinggi 26 meter, meninggalkan luka mendalam dan menjadi pengingat betapa rentannya wilayah ini terhadap ancaman gempa dan tsunami. Gempa terbaru yang mengguncang pada Agustus 2026 dengan magnitudo 7,7, meski berpusat di laut, kembali menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan alam yang bisa menghancurkan. Gempa ini memicu peringatan dini tsunami dan terasa kuat di berbagai wilayah Flores, merusak fasilitas kesehatan, pendidikan, dan ribuan rumah.
| Sumber: Pixabay |
Dalam situasi seperti inilah, kehadiran negara melalui aparat keamanan menjadi sangat penting, bukan hanya dalam penanganan fisik, tetapi juga dalam memberikan dukungan moril. Polres Flores Timur, di bawah komando AKBP Gede Putra Yase, melalui Kasi Humas AKP Eliezer A. Kalelado, tidak tinggal diam. Mereka menggelar doa bersama lintas agama pada Senin, 24 Agustus 2026. Sebuah aksi yang sarat makna, melampaui batas-batas perbedaan keyakinan, untuk bersatu dalam satu tujuan: memohon keselamatan, ketabahan, dan pemulihan bagi masyarakat terdampak gempa.
Kapolres Flores Timur AKBP Gede Putra Yase menekankan bahwa doa bersama ini adalah bentuk dukungan moril. “Semoga masyarakat terdampak diberikan keselamatan, ketabahan dan kekuatan, sehingga kondisi segera pulih dan aktivitas kembali berjalan dengan aman,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari upaya penguatan batin masyarakat yang sedang dilanda ketakutan dan kehilangan. Di tengah puing-puing harapan, doa menjadi lentera yang menerangi jalan menuju pemulihan.
Kegiatan doa bersama ini dilaksanakan secara serentak oleh jajaran Polres Flores Timur di tempat ibadah masing-masing, sesuai dengan agama para personelnya. Umat Islam berdoa di Mushola Polres Flores Timur, umat Hindu di Pura Agung Weri, sementara umat Katolik dan Protestan melaksanakan doa Oikumene di Aula Ikatara. Harmoni dalam perbedaan ini menunjukkan bahwa di hadapan bencana, kemanusiaanlah yang menjadi perekat utama. Para pemuka agama memimpin doa dengan khidmat, memanjatkan harapan khusus untuk keselamatan masyarakat dan pemulihan pascabencana.
Fenomena doa lintas agama untuk korban bencana bukanlah hal yang baru di Indonesia. Belum lama ini, Kodam IX/Udayana juga menggelar doa serupa untuk memohon keselamatan dan pemulihan pascabencana gempa di NTT. Begitu pula Kanwil Kemenag Sumut yang menggelar doa lintas agama untuk warga terdampak bencana di NTT dan Flores. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, juga pernah menekankan pentingnya doa bersama lintas agama sebagai ikhtiar batin di tengah berbagai musibah yang melanda bangsa. Semua ini menegaskan bahwa dalam menghadapi ujian berat, bangsa Indonesia selalu mengandalkan kekuatan spiritual dan persatuan.
Flores memang memiliki sejarah panjang terkait kegempaan. Gempa bumi tahun 1992 yang menewaskan ribuan orang dan menyebabkan kerusakan masif adalah bukti nyata betapa pulau ini berada di jalur yang rawan. Aktivitas tektonik di kawasan ini dipengaruhi oleh interaksi Lempeng Indo-Australia dengan sistem Busur Sunda-Banda, serta adanya Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores. Kondisi ini membuat NTT memiliki potensi bahaya gempa dan tsunami yang tinggi. Ahli ITB bahkan menyebutkan bahwa gempa 2026 memiliki kemiripan dengan gempa 1992 dari sisi lokasi dan mekanisme, meskipun diharapkan tidak diikuti tsunami dahsyat.
Di tengah upaya pemulihan yang sedang berlangsung, berbagai pihak terus bergerak. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mengirimkan tenda darurat dan bantuan sekolah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan delapan langkah strategis untuk mempercepat penanganan darurat, termasuk penetapan status darurat dan pembentukan posko. BMKG pun terus melakukan survei lapangan untuk mendukung penanganan dan mitigasi risiko. Namun, data menunjukkan bahwa dampak kerusakan sangat masif. Ratusan ribu pengungsi, ribuan rumah rusak berat, serta ratusan fasilitas kesehatan dan pendidikan terdampak.
Doa bersama yang digelar Polres Flores Timur ini lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ini adalah wujud nyata solidaritas, empati, dan harapan. Di saat sebagian besar infrastruktur fisik mungkin hancur, semangat kebersamaan dan kepedulian antar sesama menjadi fondasi terpenting untuk membangun kembali. Seperti yang dikatakan Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto, "Kita berkumpul bukan sekadar untuk melaksanakan kegiatan keagamaan, tetapi untuk menyatukan hati, pikiran, dan doa, sebagai wujud kepedulian serta solidaritas terhadap saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah bencana alam di wilayah NTT." Pernyataan ini sangat relevan dengan situasi di Flores, di mana kebersamaan dan semangat gotong royong menjadi kekuatan vital dalam proses pemulihan.
Polres Flores Timur berharap doa bersama ini dapat memperkuat solidaritas dan kepedulian antar sesama selama proses pemulihan. Di tengah situasi bencana yang kompleks, kebersamaan dan kepedulian dari seluruh elemen masyarakat menjadi kunci agar proses pemulihan dapat berjalan dengan baik. Ini adalah pengingat bahwa di balik kekuatan alam yang dahsyat, ada kekuatan yang lebih besar lagi, yaitu kekuatan persatuan dan kemanusiaan yang tak terbatas.
#Gempa Flores #Doa Lintas Agama #Polres Flores Timur