Gempa Nagekeo NTT: BPBD Catat Korban Jiwa Bertambah Jadi 13 Orang, Potensi Tsunami Mereda

BUGALIMA - Gemuruh dahsyat alam kembali menyapa tanah Nusa Tenggara Timur. Kali ini, Kabupaten Nagekeo menjadi episentrum ketakutan, diguncang gempa bermagnitudo 7,7 pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Getaran kuat yang dirasakan selama kurang lebih satu menit itu sontak membangunkan warga dari lelap tidurnya dan memicu kepanikan massal. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat bahwa korban jiwa akibat gempa ini terus bertambah, hingga akhirnya mencapai angka 13 orang.

Gempa yang berpusat di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer ini, tidak hanya menimbulkan rasa takut tetapi juga kekhawatiran akan gelombang tsunami. BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami, yang membuat ribuan warga di pesisir utara Nagekeo memilih untuk melakukan evakuasi mandiri. Namun, seiring berjalannya waktu, kekhawatiran itu perlahan mereda. BMKG akhirnya secara resmi mencabut peringatan dini tsunami tersebut pada pukul 07.30 WIB. Gelombang tsunami kecil setinggi kurang dari 1 meter sempat terdeteksi di beberapa titik sebelum dinyatakan aman.

Sumber: Pixabay

Korban Berjatuhan di Sejumlah Wilayah

Bertambahnya jumlah korban jiwa menjadi 13 orang merupakan duka mendalam bagi masyarakat NTT. Laporan awal dari BPBD menyebutkan bahwa korban tewas tersebar di beberapa kabupaten. Tiga orang meninggal di Kabupaten Sikka, satu orang di Manggarai Barat, tiga orang di Manggarai Timur, dan enam orang di Kabupaten Manggarai. Data ini menunjukkan betapa luasnya dampak gempa yang dirasakan, bahkan hingga ke wilayah-wilayah yang cukup jauh dari pusat gempa.

Selain korban tewas, belasan orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. BNPB mencatat hingga Sabtu pukul 12.30 WIB, terdapat 14 korban tewas, dua orang luka berat, dan 11 orang luka ringan. Angka ini terus diperbarui seiring dengan upaya pendataan, verifikasi, dan validasi yang dilakukan tim di lapangan. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, mengonfirmasi bahwa hingga pukul 15.00 WIB, korban jiwa tercatat sebanyak 38 orang, dengan 2 luka berat dan 11 luka ringan, serta sekitar 2.000 warga mengungsi mandiri. Perbedaan angka korban jiwa dalam beberapa pemberitaan mengindikasikan dinamisnya situasi di lapangan dan proses pembaruan data yang terus berlangsung.

Kerusakan Infrastruktur dan Dampak Sosial

Gempa bermagnitudo 7,7 ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka fisik pada berbagai infrastruktur. Laporan awal dari BPBD mencatat adanya kerusakan pada rumah warga, fasilitas publik, kampus, sekolah, hingga tempat ibadah di berbagai wilayah NTT. Data sementara dari BNPB menyebutkan kerusakan meliputi dua unit rumah rusak berat, satu unit rumah rusak sedang, dan dua unit rumah rusak ringan. Selain itu, satu bangunan gudang Bulog terdampak, tiga fasilitas umum rusak ringan, dan enam kantor pemerintahan terdampak.

Di Kabupaten Manggarai, kerusakan cukup signifikan terjadi, mencakup 29 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan sembilan rumah rusak ringan. Lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. Kabupaten Manggarai Timur mencatat 23 rumah rusak berat, sementara di Kabupaten Nagekeo sendiri terdapat dua rumah rusak berat, satu rusak sedang, dan dua rusak ringan, serta dua fasilitas ibadah rusak ringan dan lima kantor pemerintahan terdampak.

Dampak sosial pun tak kalah memprihatinkan. Ribuan warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka, mencari tempat yang lebih aman untuk menghindari gempa susulan dan potensi dampak lanjutan. Sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo melakukan evakuasi mandiri. Situasi ini tentu menambah beban psikologis bagi para penyintas gempa, yang harus menghadapi kenyataan kehilangan tempat tinggal dan harta benda.

Upaya Penanganan dan Respons Cepat

Menghadapi bencana skala besar ini, pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bergerak cepat. BNPB mengerahkan tim penanganan darurat dan menyiapkan helikopter untuk mendukung upaya penanganan di lapangan. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, juga dijadwalkan menuju wilayah terdampak untuk memantau langsung kondisi dan penanganan bencana.

Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri langsung bergerak melakukan evakuasi warga di kawasan pesisir dan memberikan penanganan medis kepada para korban. Dukungan logistik dan peralatan juga disiapkan untuk memperkuat penanganan di lapangan, mengingat karakteristik geografis NTT yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki tantangan akses antardaerah.

Pemerintah pusat juga memastikan dukungan akan terus diberikan sesuai perkembangan kebutuhan di lapangan, terutama untuk penanganan korban, evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, serta percepatan pemulihan masyarakat terdampak. Upaya pemulihan pasca-gempa ini tentu membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar, namun semangat gotong royong dan kepedulian dari seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat meringankan beban para penyintas.

Gempa Susulan dan Peringatan BMKG

Pasca-gempa utama, BMKG mencatat adanya puluhan gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,2. Hal ini tentu menambah kewaspadaan masyarakat. BMKG terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, menjauhi bangunan yang retak atau tidak stabil, serta memantau informasi resmi dari BMKG.

Gempa bumi di busur belakang Flores ini memiliki potensi gempa maksimum M 7,8 hingga M 7,9. Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M7.5 yang menimbulkan kerusakan dan tsunami. Kejadian kali ini menjadi pengingat akan kekuatan alam yang dahsyat dan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Source: https://news.detik.com/berita/d-7519356/bpbd-catat-korban-gempa-nagekeo-ntt-bertambah-jadi-13-orang



#Gempa NTT #Bencana Alam #BPBD Nagekeo

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama