Gempa NTT M 7,7: Bupati Flores Timur Siapkan Evakuasi, Korban Meninggal Bertambah Jadi Lima

BUGALIMA - Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali diguncang gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 04.58 WIB. Gempa yang berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, ini tidak hanya menimbulkan kepanikan luar biasa di kalangan masyarakat, tetapi juga memicu peringatan dini tsunami dan dilaporkan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur. Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, sigap mengambil langkah antisipasi dengan menyiapkan rencana evakuasi warga, termasuk menyediakan alat berat untuk menghadapi dampak lanjutan dari bencana ini.

Gempa bumi tektonik yang terjadi kali ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas *Flores Back-Arc Thrust* dengan mekanisme pergerakan naik (*thrust fault*), demikian analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Guncangan kuatnya terasa hingga ke berbagai wilayah di Pulau Flores, termasuk Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, hingga Ruteng, Kabupaten Manggarai. Kepanikan melanda warga saat merasakan getaran hebat yang membuat bangunan berguncang hebat. Dalam rekaman video yang beredar, terlihat detik-detik bangunan tinggi bergoyang dan hancur dalam waktu singkat, sementara warga berlarian keluar rumah sambil berteriak ketakutan.

Sumber: Pixabay

Dampak dan Kerugian yang Ditimbulkan

Dampak gempa M 7,7 ini tidak main-main. Laporan awal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan adanya korban jiwa. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengonfirmasi bahwa jumlah korban meninggal dunia telah bertambah menjadi lima orang. Dua korban berasal dari Kabupaten Sikka, dan tiga lainnya dari Kabupaten Manggarai. Mayoritas korban diduga meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang ambruk saat gempa terjadi. Namun, pemerintah masih terus melakukan pendataan dan verifikasi untuk memastikan penyebab pasti kematian masing-masing korban. Selain korban jiwa, tercatat pula empat orang mengalami luka-luka.

Kerusakan infrastruktur juga dilaporkan meluas. Bandara Udara Frans Sales Lega atau Bandar Udara Ruteng mengalami kerusakan pada bagian panel atapnya yang berjatuhan. Di Labuan Bajo, Hotel Jayakarta dilaporkan mengalami kerusakan parah, terutama pada bagian lobi yang plafonnya ambruk dan temboknya retak. Sejumlah rumah warga di Kabupaten Manggarai Barat, khususnya di Kecamatan Boleng dan Kuwus Barat, dilaporkan mengalami kerusakan, bahkan ada yang roboh. Bangunan kampus Unika Santu Paulus di Ruteng juga dilaporkan mengalami kerusakan, dengan dinding salah satu gedungnya yang ambruk. Di Flores Timur sendiri, Bupati Antonius Doni Dihen telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi termasuk menyiapkan alat berat untuk menghadapi dampak lanjutan.

Upaya Penanganan dan Mitigasi Bencana

Menghadapi situasi darurat ini, berbagai pihak bergerak cepat. Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, menunjukkan respons cepat dengan menyiapkan rencana evakuasi warga. Hal ini sejalan dengan penegasan Kapolda NTT, Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, yang menyatakan bahwa keselamatan masyarakat adalah prioritas utama dalam penanganan darurat pascagempa. Jajaran Polda NTT telah diperintahkan untuk segera turun ke lapangan bersama *stakeholder* terkait guna melakukan evakuasi dan memberikan pertolongan kepada masyarakat di wilayah terdampak.

Meskipun demikian, proses pendataan korban dan kerusakan masih menghadapi kendala, terutama masalah komunikasi di sejumlah wilayah yang terdampak. Kapolda NTT sendiri berencana meninjau langsung wilayah terdampak, namun terkendala oleh kondisi bandara di Pulau Flores yang belum sepenuhnya dapat didarati pesawat.

Peran BMKG dan Peringatan Tsunami

BMKG memainkan peran krusial dalam memberikan informasi dan peringatan dini. Setelah gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB, BMKG sempat menyalakan Peringatan Dini Tsunami sebelum akhirnya secara resmi mengakhirinya pada pukul 07.30 WIB. Selama periode peringatan dini, status SIAGA diberlakukan untuk wilayah Manggarai Utara, Ngada Utara, Ende, Flores Timur, hingga Jeneponto, dengan potensi tsunami setinggi 0,5-3 meter. Status WASPADA diberlakukan untuk kawasan Bima, Dompu, dan Wajo dengan potensi tsunami di bawah 0,5 meter.

Berdasarkan pemantauan stasiun observasi, tsunami kecil memang sempat terdeteksi menghantam sejumlah titik pesisir, seperti Maurole (Ende) dengan ketinggian 0,94 meter, Bulukumba 0,54 meter, Pelabuhan Kewapante (Sikka) 0,38 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, dan Bau-Bau 0,30 meter. BMKG terus mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang, menjauhi pantai, dan tidak memasuki gedung yang retak hingga ada peringatan lebih lanjut.

Pemulihan Kelistrikan

PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) juga bergerak cepat memulihkan sistem kelistrikan yang terganggu pascagempa. Beberapa pembangkit, seperti PLTMG Maumere dan PLTMG Rangko, sempat padam dan menyebabkan pemadaman listrik di beberapa lokasi. Tim PLN melakukan pemulihan secara bertahap, dimulai dari pembangkit, jaringan transmisi, gardu induk, hingga pemulihan layanan kelistrikan ke masyarakat. Prioritas utama PLN adalah pemulihan pasokan listrik bagi fasilitas vital seperti rumah sakit dan posko penanganan bencana. PLN mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi, serta dapat menghubungi PLN Mobile dan Contact Center PLN 123 untuk informasi layanan kelistrikan.

Gempa M 7,7 yang mengguncang NTT ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana alam. Respons cepat dari pemerintah daerah, aparat keamanan, dan instansi terkait, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya mitigasi, menjadi kunci dalam menghadapi dan memulihkan diri dari dampak bencana. Source: BeritaSatu.com



#Gempa NTT #Bencana Alam #Evakuasi Warga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama