BUGALIMA - Kabar duka kembali menyelimuti perairan Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara (NTT). Seorang kru kapal ikan, Ramli, ditemukan tewas setelah dilaporkan terjatuh ke laut di sekitar Dermaga Timur Pelabuhan Larantuka, Senin (10/8/2026) dini hari. Insiden nahas ini menambah daftar panjang kecelakaan laut yang kerap terjadi di wilayah perairan Flores Timur, sebuah daerah yang dikenal memiliki garis pantai panjang dan aktivitas pelayaran yang padat.
Peristiwa tragis ini bermula ketika Ramli, yang merupakan anak buah kapal (ABK) dari Kapal Motor (KM) Nurul Hikmah 02, sedang dalam proses menyeberang ke kapal. Pukul 01.00 Wita, ia terjatuh ke laut. Meskipun upaya evakuasi segera dilakukan oleh petugas dari Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Larantuka, Polsek Kesatuan Pengamanan Kawasan Pelabuhan (KP3) Larantuka, serta kru KM Nurul Hikmah 02 lainnya, nyawa Ramli tak dapat diselamatkan. Jenazahnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Hendrikus Fernandez Larantuka untuk pemeriksaan lebih lanjut.
| Sumber: Pixabay |
Direktur RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, Gregorius Bato Koten, menjelaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan fisik dan rekam jantung, Ramli dipastikan telah meninggal dunia sebelum tiba di rumah sakit. "Dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan tidak ada denyut jantung dan pernapasan, dan dilakukan rekam jantung juga sudah *flat* dan dipastikan pasien kemungkinan sudah meninggal sebelum tiba di RSUD," ungkap Gregorius.
Ini bukanlah kali pertama perairan Flores Timur diwarnai insiden serupa. Sejumlah kejadian kecelakaan laut, termasuk kapal tenggelam dan awak kapal yang hilang atau tewas, kerap terjadi. Beberapa di antaranya adalah tenggelamnya dua kapal pelayaran rakyat (pelra) tradisional di Laut Flores Timur pada Maret 2026, serta sampan terbalik yang menyebabkan dua nelayan tewas pada Maret 2026. Bahkan, pada April 2014, sebuah kapal motor nelayan yang melakukan prosesi laut di Selat Sempit Ujung Aro, Larantuka, juga tenggelam dan menewaskan tujuh orang.
Faktor Penyebab Kecelakaan Laut di Flores Timur
Flores Timur, sebagai sebuah kabupaten kepulauan, memiliki karakteristik geografis yang rentan terhadap kecelakaan laut. Faktor-faktor seperti cuaca ekstrem, gelombang tinggi, arus kuat, serta kondisi navigasi yang terkadang menantang, menjadi kontributor utama terjadinya insiden ini. Selain itu, faktor usia dan kondisi kapal yang mungkin tidak laik jalan, serta kelalaian manusia, juga kerap menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.
Kepala Kantor UPP Kelas II Larantuka, Desmon Saterdi Menno, sebelumnya pernah mengungkapkan bahwa beberapa kapal motor yang tenggelam di wilayahnya tidak memiliki Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang valid. Hal ini menunjukkan adanya potensi pelanggaran regulasi keselamatan pelayaran yang perlu ditindaklanjuti. Sosialisasi mengenai pentingnya SPB dan pemeliharaan kapal yang rutin seharusnya terus digalakkan oleh pihak berwenang.
Dampak dan Mitigasi
Setiap insiden kecelakaan laut tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial bagi masyarakat pesisir yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan dan pelayaran. Kehilangan seorang kru kapal seperti Ramli, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan dan juga bagi rekan-rekan seprofesinya.
Untuk meminimalisir angka kecelakaan laut, diperlukan upaya mitigasi yang komprehensif. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:
#### Peningkatan Keselamatan Pelayaran
* Pengawasan Ketat Terhadap Kelayakan Kapal: Pihak otoritas pelabuhan harus memastikan bahwa setiap kapal yang beroperasi memiliki sertifikasi kelayakan yang memadai dan rutin menjalani pemeriksaan. * Penegakan Aturan SPB: Kewajiban memiliki Surat Persetujuan Berlayar (SPB) harus ditegakkan secara konsisten. Kapal yang tidak memenuhi syarat seharusnya tidak diizinkan berlayar. * Penyediaan Peralatan Keselamatan: Kapal-kapal harus dilengkapi dengan peralatan keselamatan yang memadai, seperti jaket pelampung, peluit, dan alat komunikasi darurat.
#### Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia
* Pelatihan Keselamatan: ABK dan nakhoda perlu mendapatkan pelatihan rutin mengenai prosedur keselamatan di laut, teknik penyelamatan diri, dan penanganan darurat. * Kesadaran Bahaya Cuaca: Penting bagi para pelaut untuk selalu memantau prakiraan cuaca dan tidak memaksakan berlayar jika kondisi cuaca buruk.
#### Pemanfaatan Teknologi
* Sistem Pemantauan: Penggunaan sistem pemantauan kapal berbasis GPS dapat membantu pelacakan dan evakuasi yang lebih cepat jika terjadi insiden. * Informasi Cuaca Real-time: Penyediaan informasi cuaca yang akurat dan *real-time* melalui berbagai kanal komunikasi dapat membantu para pelaut mengambil keputusan yang tepat.
Kecelakaan yang menimpa Ramli di perairan Flores Timur ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan kerasnya kehidupan di laut dan pentingnya keselamatan. Semoga kejadian ini menjadi momentum untuk evaluasi dan perbaikan sistem keselamatan pelayaran, demi mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
Source: detikcom
#Kecelakaan Laut #Flores Timur #Kapal Ikan