Misi Kemanusiaan Wali Kota Kupang di Flores Terganjal Erupsi Lewotobi

BUGALIMA - Namanya Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo. Sosok yang memilih terjun langsung, menyusuri belantara Flores, membawa misi kemanusiaan. Lima hari ia dedikasikan untuk menyambangi enam kabupaten yang tengah bergulat dengan dampak bencana. Perjalanan ini bukan sekadar estafet bantuan, melainkan sebuah pernyataan solidaritas, sebuah bukti nyata bahwa satu pulau terluka, yang lain siap membantu. Kemanusiaan, baginya, tak mengenal batas wilayah.

Perjalanan dimulai dari Manggarai Barat pada Selasa (25/8), lalu merayap ke Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ende, dan puncaknya di Sikka pada Jumat (28/8). Medan yang dilalui tak mulus. Pasalnya, Flores masih berdenyut oleh gempa susulan, sisa-sisa amukan alam yang membuat tanahnya berguncang. Namun, rombongan Wali Kota tak gentar. Semangat kemanusiaan jauh lebih besar dari rasa takut.

Sumber: Pixabay

Apresiasi datang dari berbagai penjuru. Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, bahkan tak sungkan menyebut dr. Christian sebagai kepala daerah pertama dari wilayah NTT yang, meski tidak terdampak langsung bencana, berani turun langsung melihat kondisi masyarakat. "Kami merasa terhibur, karena masih ada saudara-saudara yang punya kepedulian terhadap duka kemanusiaan yang menimpa kami. Saya tidak bisa omong banyak lagi, saya terharu sekali," ujar Agas dengan nada haru, saat menyambut Wali Kota di Posko Penanggulangan Bencana Kabupaten Manggarai Timur di Borong.

Pesan yang dibawa dr. Christian Widodo sederhana namun bermakna: "Bantuan ini adalah simbol solidaritas kami. Kami ingin menyampaikan pesan bahwa saudara-saudara kita di Flores tidak sendirian. Satu pulau terluka, yang lain siap membantu." Ia sengaja datang sendiri, bukan tanpa alasan. Ia ingin melihat langsung kondisi masyarakat, sekaligus menularkan semangat solidaritas ini kepada daerah lain. Kota Kupang memang tidak merasakan guncangan dahsyat, tetapi penderitaan saudara-saudara di Flores dirasakan, seolah guncangan itu juga merambat ke hati mereka.

Namun, takdir punya rencana lain. Saat rombongan Wali Kota bersiap kembali ke Kupang dari Maumere, Sikka, sebuah kabar tak mengenakkan datang. Penerbangan yang telah direncanakan dibatalkan. Penyebabnya? Erupsi Gunung Lewotobi yang kembali mengganas. Gunung yang memiliki dua puncak, Lewotobi Laki-Laki (1.584 mdpl) dan Lewotobi Perempuan (1.703 mdpl), ini memang punya sejarah panjang dalam urusan erupsi. Tercatat sudah ada 23 peristiwa erupsi Gunung Lewotobi sepanjang sejarah, dengan yang pertama tercatat pada tahun 1675. Letusan terbaru yang cukup signifikan terjadi pada awal November 2024, yang menyebabkan hujan abu, lahar panas, dan korban jiwa.

Situasi ini memaksa rute kepulangan harus diubah. Perjalanan darat menuju Larantuka, Flores Timur, ditempuh untuk mencari alternatif penerbangan menuju Kupang. Perjalanan yang seharusnya mengakhiri misi kemanusiaan ini, justru berubah menjadi sebuah ujian ketahanan dan kesabaran.

Erupsi Lewotobi: Ancaman yang Tak Terduga

Gunung Lewotobi Laki-laki, sebuah stratovolcano aktif di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara, memang dikenal dengan aktivitas vulkaniknya yang dinamis. Statusnya pun sempat dinaikkan menjadi Level IV (Awas) pada 3 November 2024. Dampak letusan ini sangat luas, mulai dari terganggunya transportasi udara akibat abu vulkanik yang berbahaya bagi mesin pesawat, hingga masalah kesehatan seperti gangguan saluran pernapasan atas (ISPA) akibat paparan abu. Lebih dari 12.000 orang terpaksa mengungsi akibat erupsi dahsyat pada November 2024, bahkan beberapa rumah penduduk dan fasilitas umum mengalami kerusakan berat.

Sejarah Panjang Aktivitas Vulkanik

Sejarah letusan Gunung Lewotobi Laki-laki tercatat lebih panjang dibandingkan kembarannya, Gunung Lewotobi Perempuan. Letusan pertama yang tercatat terjadi pada tahun 1861, diikuti oleh serangkaian erupsi pada tahun 1865, 1868, 1869, dan 1907. Aktivitas vulkanik gunung ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menjadikannya salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia.

Misi Kemanusiaan yang Menembus Batas

Meskipun dihadang oleh erupsi Gunung Lewotobi, semangat misi kemanusiaan Wali Kota Kupang tidak surut. Perjalanan darat menuju Larantuka, walau melelahkan, menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita ini. Bagi dr. Christian Widodo, lelah fisik adalah hal kecil dibandingkan dengan melihat senyum lega dari masyarakat yang ia bantu.

Solidaritas Tanpa Batas Wilayah

Kehadiran langsung Wali Kota Kupang di tengah masyarakat terdampak bencana mendapat sambutan hangat. Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, tak lupa menyampaikan terima kasih atas kehadiran dr. Christian yang membawa bantuan dan solidaritas antardaerah. "Kehadiran ini memberikan lebih dari sekadar bantuan material. Kehadiran ini memberikan semangat dan kebangkitan moril bagi kami yang terdampak, sehingga masyarakat tahu bahwa ketika mereka tertimpa bencana masih ada orang yang peduli," ungkapnya.

Wakil Bupati Ende, Dr. drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes., pun tak ketinggalan memberikan apresiasi. Ia menilai langkah dr. Christian adalah yang terbaik di antara 22 kepala daerah kabupaten/kota di NTT, karena kesederhanaan, ketulusan, dan nilai kemanusiaannya yang membuatnya turun langsung ke wilayah terdampak bencana.

Pesan Kemanusiaan yang Menggema

Perjalanan Wali Kota Kupang ini bukan hanya tentang penyaluran bantuan, tetapi lebih dari itu, ini adalah pesan. Pesan bahwa solidaritas tidak mengenal batas administrasi. Pesan bahwa dalam kesulitan, setiap individu dan daerah memiliki tanggung jawab moral untuk saling mengulurkan tangan. "Kita mungkin tidak ikut diguncang gempa, tetapi kita ikut merasakan penderitaan mereka," ujar dr. Christian, menegaskan bahwa empati dan kepedulian harus melampaui batas wilayah.

Meski harus menempuh rute yang tidak terduga akibat erupsi Lewotobi, misi kemanusiaan Wali Kota Kupang ini tetap meninggalkan jejak yang mendalam. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya tentang mengurus kota, tetapi juga tentang merangkul saudara sebangsa, bahkan di tengah ancaman alam yang paling dahsyat sekalipun. Kisah ini menjadi pengingat berharga tentang kekuatan solidaritas dan kemanusiaan di bumi Flores.

Source: https://prokopim.kotakupang.go.id/detail-berita/susuri-flores-misi-kemanusiaan-wali-kota-berakhir-di-tengah-erupsi-lewootobi



#Flores #Kemanusiaan #Gunung Lewotobi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama