Tradisi Tandak Flores Timur Terancam Punah, Rekaman Jaap Kunst 1930 Jadi Alarm Kritis

BUGALIMA - Mendengar kata "terancam punah" seringkali kita membayangkan satwa langka atau bangunan bersejarah yang runtuh dimakan zaman. Namun, kali ini ancaman itu datang menyapa sebuah tradisi luhur nan kaya makna: Tandak dari Flores Timur. Ya, seni pertunjukan yang memadukan nyanyian, syair, bahasa adat, dan gerak tari ini kini berada di ujung tanduk, menghadapi problem regenerasi yang serius. Sebuah rekaman suara nyaris seabad lalu, yang dibuat oleh etnomusikolog Belanda, Jaap Kunst, pada tahun 1930, justru menjadi alarm yang membahana, menyadarkan kita akan betapa gentingnya situasi ini.

Cerita ini bergulir ketika rekaman Tandak dari tahun 1930 itu diperdengarkan kembali kepada masyarakat di Waibao, sebuah desa di Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, pada 8 Agustus 2026. Bayangkan, sebuah rekaman yang telah berusia 96 tahun, membawa kembali suara leluhur yang pernah hidup di tengah-tengah mereka. Namun, momen reuni dengan masa lalu ini justru membuka tabir kesedihan: tradisi yang dulu hidup subur kini semakin minim generasi penerusnya.

Sumber: Pixabay

Yakobus Sogan Brinu, seorang tokoh yang berdedikasi untuk melestarikan Tandak, menceritakan betapa sulitnya upaya regenerasi ini. Ia bahkan pernah mencoba mendorong agar Tandak diajarkan di sekolah-sekolah. Namun, aral melintang tak henti menghadang. Dua orang yang dulu membantunya merekonstruksi lagu-lagu Tandak kini telah tiada, meninggalkan beban yang kian berat di pundaknya. "Perhatian terhadap lagu-lagu ini muncul ketika orang dari luar negeri datang. Tetapi setelah mereka pergi, perhatian itu hilang lagi," keluhnya. Sindiran halus ini menunjuk pada ironi yang menyakitkan: minat dari luar justru lebih besar ketimbang dari dalam.

***

Jejak Jaap Kunst: Saksi Bisu Perubahan Zaman

Siapa sebenarnya Jaap Kunst ini? Ia adalah seorang etnomusikolog Belanda yang memiliki ketertarikan mendalam pada kekayaan budaya Nusantara. Selama masa tugasnya di Hindia Belanda, antara tahun 1919 hingga 1934, Kunst mendokumentasikan berbagai musik tradisional di kepulauan ini, termasuk di Flores. Rekaman yang dibuatnya pada tahun 1930 di Flores Timur, menghasilkan 182 lagu yang terekam dalam 75 silinder lilin. Belum lagi foto-foto bersejarah dan cuplikan kehidupan dalam bentuk film yang berhasil ia abadikan. Karyanya ini menjadi bukti otentik, sebuah jendela ke masa lalu yang kaya akan warisan budaya.

Rekaman Jaap Kunst ini bukan sekadar artefak sejarah. Bagi masyarakat Flores Timur, rekaman itu adalah cermin yang memantulkan kondisi tradisi mereka saat ini. Mereka menemukan adanya hubungan dengan tradisi leluhur, namun di saat yang sama menyadari bahwa bentuk dan pemahaman tentang Tandak telah banyak berubah. Yosep dari Tengahdei, salah seorang warga, mengakui bahwa tradisi Tandak masih ada, namun ia menambahkan, "Ada tapi beda.".

Perbedaan ini justru memicu perdebatan. Sogan Brinu, misalnya, berpegang teguh pada orisinalitas. Baginya, perubahan tidak boleh sampai menghilangkan keaslian lagu yang diwariskan. "Lagunya tidak boleh beda," tegasnya. Di sisi lain, ada pandangan yang lebih terbuka terhadap evolusi tradisi. Perbedaan pandangan ini justru menunjukkan kompleksitas pelestarian budaya: bagaimana menjaga esensi tradisi tanpa menutup ruang bagi dinamika zaman.

***

Alarm Kemanusiaan Budaya

Ironi yang terjadi di Flores Timur ini bukanlah fenomena tunggal. Di banyak tempat di Indonesia, kekayaan budaya warisan leluhur menghadapi tantangan serupa. Generasi muda, dengan segala godaan teknologi digital dan arus informasi global, seringkali kehilangan sentuhan dengan akar budayanya. Minat untuk mempelajari bahasa daerah, tarian tradisional, atau bahkan sekadar mendengarkan cerita nenek-moyang, semakin terkikis.

Rekaman Jaap Kunst pada tahun 1930, yang kini kembali bergema, seharusnya menjadi pengingat. Ia bukan hanya tentang musik, tetapi tentang memori kolektif, identitas, dan kelangsungan sebuah peradaban. Jaap Kunst sendiri menyadari misinya untuk merekam musik yang ia anggap berada di ambang kepunahan, yang perlu diselamatkan untuk generasi mendatang. Ironisnya, apa yang ia selamatkan justru kini menjadi saksi bisu ancaman kepunahan itu sendiri.

Peran Barbara Titus, etnomusikolog Universitas Amsterdam, dalam memprakarsai proyek repatriasi arsip suara Jaap Kunst patut diapresiasi. Upaya mengembalikan arsip suara ini bukan sekadar transfer data, melainkan pengembalian narasi, makna, dan agensi kepada masyarakat pemiliknya. Ini adalah langkah penting dalam gerakan dekolonisasi arsip dan pemikiran kritis terhadap eurosentrisme, di mana pengetahuan budaya dari negara bekas jajahan kini kembali.

Namun, repatriasi arsip hanyalah permulaan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membangkitkan kembali minat generasi muda. Bagaimana menghubungkan mereka dengan kekayaan tradisi ini tanpa terkesan menggurui atau memaksa? Perlu ada strategi yang kreatif dan inovatif. Mungkin dengan mengemasnya dalam bentuk yang lebih menarik, seperti festival budaya, lokakarya interaktif, atau bahkan kolaborasi dengan seniman kontemporer.

***

Menjaga Api Tradisi Tetap Menyala

Tradisi Tandak Flores Timur adalah permata budaya yang patut kita jaga. Rekaman Jaap Kunst dari tahun 1930 menjadi alarm yang mendesak. Ia mengingatkan kita bahwa melestarikan budaya bukan hanya tugas pemerintah atau para akademisi, tetapi tanggung jawab kita bersama.

Perubahan zaman memang tak terhindarkan, namun bukan berarti kita harus merelakan warisan berharga ini terkikis habis. Diskusi antara mempertahankan orisinalitas dan merangkul perubahan adalah sebuah keniscayaan. Kuncinya terletak pada bagaimana kita menemukan keseimbangan, agar Tandak tetap relevan dan hidup di hati generasi penerus, tidak hanya sebagai nostalgia masa lalu, tetapi sebagai denyut nadi identitas Flores Timur yang terus berdetak.

Source: https://javasatu.com/tradisi-tandak-flores-timur-terancam-putus-rekaman-jaap-kunst-1930-jadi-alarm-javasatu-com/



#Tradisi Tandak #Flores Timur #Pelestarian Budaya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama