BUGALIMA - Langit Nusa Tenggara Timur kembali diwarnai kepulan asap kelabu dari aktivitas vulkanik. Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata dilaporkan kembali erupsi, memaksa penutupan sementara Bandara Wunopito di Lembata dan Bandara Gewayantana di Larantuka, Flores Timur. Keputusan penutupan ini diambil demi keselamatan penerbangan, mengingat dampak abu vulkanik yang dapat mengganggu kinerja mesin pesawat hingga menyebabkan insiden fatal.
Erupsi yang terjadi pada Kamis, 10 September 2026, ini bukan kali pertama Gunung Ile Lewotolok menunjukkan aktivitasnya. Kepala Bandar Udara Wunopito, Sudarmana, menyatakan bahwa penutupan Bandara Wunopito telah berlangsung sejak tanggal 1 September 2026 dan belum ada kepastian kapan akan dibuka kembali. "Kami tutup sementara mulai Selasa tanggal 1 September sampai sekarang, hari ini," ujarnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III Gewayantana Larantuka, Puguh Lukito, yang menyatakan bahwa aktivitas penerbangan di bandara tersebut ditutup akibat terdampak erupsi Gunung Ile Lewotolok.
| Sumber: Pixabay |
Dampak langsung dari penutupan dua bandara vital ini tentu saja terasa bagi para calon penumpang. Data menunjukkan sedikitnya 52 calon penumpang tujuan Kupang-Larantuka dan 23 calon penumpang tujuan Larantuka-Kupang batal berangkat. Para calon penumpang yang terdampak pun terpaksa mencari alternatif lain, seperti bandara di Maumere (Bandara Frans Seda) dan Ende.
Mengapa Abu Vulkanik Begitu Berbahaya bagi Penerbangan?
Fenomena erupsi gunung berapi yang memuntahkan abu vulkanik ke atmosfer memang menjadi momok menakutkan bagi dunia penerbangan. Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Ia terdiri dari partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat halus namun bersifat abrasif. Ketika abu vulkanik ini terhisap masuk ke dalam mesin pesawat, ia dapat menimbulkan berbagai masalah serius. Suhu tinggi di ruang bakar mesin jet, yang bisa mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius, akan melelehkan partikel kaca dalam abu vulkanik. Material lelehan ini kemudian menempel pada bilah turbin, membeku kembali, dan menyumbat aliran udara, yang pada akhirnya dapat menyebabkan mesin mati mendadak.
Selain itu, partikel silika yang tajam dalam abu vulkanik, saat bergesekan dengan kecepatan tinggi, dapat mengikis lapisan kaca depan kokpit hingga menjadi buram. Hal ini tentu saja sangat membahayakan visibilitas pilot, terutama saat proses pendaratan. Tak hanya itu, abu vulkanik yang masuk ke instrumen penerbangan, seperti tabung Pitot, dapat mengacaukan pembacaan indikator kecepatan dan ketinggian pesawat, sehingga menyulitkan pilot dan komputer pesawat dalam mengendalikan arah terbang secara akurat.
Prosedur Keselamatan Penerbangan di Tengah Ancaman Abu Vulkanik
Menyadari betapa berbahayanya abu vulkanik bagi keselamatan penerbangan, berbagai pihak terkait senantiasa berkoordinasi untuk memastikan keamanan. AirNav Indonesia, misalnya, terus melakukan pemantauan terhadap kondisi sebaran abu vulkanik dan memperbarui informasi aeronautika sesuai perkembangan kondisi dan evaluasi keselamatan penerbangan. Otoritas penerbangan mengeluarkan *Notice to Airmen/Notice to Air Missions* (NOTAM) sebagai dasar penutupan sementara bandara, seperti yang terjadi pada Bandara Wunopito Lembata dan Bandara Gewayantana Larantuka.
Kepala Bandara Wunopito, Sudarmana, menjelaskan bahwa aktivitas di bandara tersebut dihentikan sementara dan akan dibuka kembali setelah kondisi erupsi berakhir dan dinilai aman. Hal ini sejalan dengan UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan yang menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama penyelenggaraan penerbangan. Pembatalan penerbangan, dalam konteks ini, bukanlah sebuah kesalahan maskapai, melainkan tindakan yang diperlukan untuk menyesuaikan operasional dengan kondisi alam yang membahayakan.
Aktivitas Gunung Ile Lewotolok dan Rekomendasi
Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok melaporkan bahwa erupsi kali ini menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 500 meter di atas puncak gunung, dengan warna kelabu dan bergerak condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 1 menit. Saat ini, Gunung Ile Lewotolok berada pada status Level II atau Waspada.
Berdasarkan tingkat aktivitas tersebut, masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok, termasuk pengunjung, pendaki, dan wisatawan, diimbau untuk tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 2 kilometer dan 3 kilometer sektor selatan dan tenggara dari pusat aktivitas gunung. Imbauan ini penting untuk mencegah jatuhnya korban jika terjadi erupsi susulan atau dampak lain dari aktivitas vulkanik.
Kejadian erupsi Ile Lewotolok yang kembali menutup akses udara ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana alam di Indonesia, negara yang terletak di cincin api Pasifik. Kesiapan mitigasi, komunikasi yang efektif antarlembaga, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya mengikuti instruksi keselamatan adalah kunci untuk meminimalkan dampak dari setiap bencana yang terjadi.
Source: daerah.tvrinews.com
#Erupsi Gunung Api #Keselamatan Penerbangan #Mitigasi Bencana