BUGALIMA - Kabar baik berhembus dari Nusa Tenggara Timur! Setelah penantian panjang selama 56 tahun, Kabupaten Flores Timur akhirnya kembali didapuk sebagai tuan rumah El Tari Memorial Cup (ETMC) ke-35 pada tahun 2026. Sebuah momen bersejarah yang menandai kembalinya ajang sepak bola paling bergengsi di NTT ke bumi Larantuka, setelah terakhir kali menjadi tuan rumah pada tahun 1970. Keputusan ini disambut penuh antusiasme, tidak hanya oleh pemerintah daerah tetapi juga oleh masyarakat Flores Timur yang memiliki kecintaan mendalam terhadap sepak bola.
Sebagaimana dilaporkan oleh RRI.co.id, penunjukan Flores Timur sebagai tuan rumah tidak datang begitu saja. Wakil Bupati Flores Timur yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia ETMC ke-35, Ignatius Boli Uran, menjelaskan bahwa proses pertimbangan berbagai kondisi daerah menjadi faktor krusial sebelum menerima tawaran ini. Tantangan seperti erupsi Gunung Lewotobi, bencana banjir, gempa bumi, potensi konflik sosial, serta efisiensi anggaran menjadi catatan penting yang harus dimitigasi. Namun, setelah melalui berbagai kajian dan pertimbangan matang, Bupati Flores Timur akhirnya mengambil keputusan untuk menerima amanah ini pada 1 Juni 2026. Keputusan ini juga didorong oleh semangat dan dukungan masyarakat Flores Timur yang besar terhadap perkembangan sepak bola.
| Sumber: Pixabay |
Peluncuran ETMC ke-35 di Flores Timur dilakukan pada 5 Juli 2026, dilanjutkan dengan serangkaian pertemuan dan koordinasi intensif antar panitia untuk memastikan seluruh persiapan berjalan lancar. Koordinasi tidak hanya melibatkan internal panitia, tetapi juga merangkul paguyuban dari seluruh kabupaten dan kota di NTT. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan penyambutan yang hangat bagi para kontingen, keluarga peserta, serta para pendukung yang diperkirakan akan memadati Flores Timur.
Flores Timur memiliki catatan sejarah yang kaya dalam perkembangan sepak bola di NTT. Kembalinya ETMC setelah lima setengah dekade menjadi bukti upaya daerah untuk kembali menegaskan perannya dalam kancah kompetisi sepak bola tingkat provinsi. ETMC sendiri memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak tahun 1969, digagas oleh Gubernur NTT saat itu, El Tari, sebagai upaya menyatukan masyarakat melalui olahraga. Nama turnamen ini kemudian diubah menjadi El Tari Memorial Cup pada tahun 1979 untuk menghormati jasa El Tari. Selama bertahun-tahun, ETMC telah menjadi agenda olahraga terbesar di NTT, yang kini berada di bawah naungan Asprov PSSI NTT dan Pemerintah Provinsi NTT.
Persiapan Matang Menuju Kick-off
Pemerintah Kabupaten Flores Timur tidak tinggal diam. Berbagai persiapan telah dan terus dimatangkan untuk memastikan gelaran akbar ini berjalan sukses. Target ambisius pun dicanangkan, salah satunya adalah pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui penampilan massal Tarian Hedung saat upacara pembukaan.
Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, menegaskan komitmennya untuk menjadi tuan rumah yang baik dan memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh peserta dan suporter. Ia menekankan bahwa keterbatasan yang ada tidak boleh menjadi alasan untuk bekerja setengah hati, melainkan harus menjadi motivasi untuk menunjukkan kapabilitas Flores Timur sebagai tuan rumah yang layak dan membanggakan.
Tiga venue utama telah disiapkan untuk turnamen ini: Stadion Apebuan di Pulau Adonara, Lapangan Gawerato di Desa Wailolong, dan Stadion Ile Mandiri di Kota Larantuka. Stadion Ile Mandiri, yang juga menjadi lokasi pembukaan ETMC, sedang menjalani renovasi senilai Rp1,8 miliar untuk peningkatan fasilitas. Stadion Apebuan di Adonara pun menjadi perhatian khusus, terutama terkait akomodasi dan aksesibilitas tim peserta.
Lebih dari sekadar pertandingan sepak bola, Flores Timur berencana menyuguhkan pengalaman budaya yang otentik. Konsep "live in" yang memungkinkan tim peserta berbaur dan tinggal bersama masyarakat di desa-desa wilayah Adonara digagas untuk memperkuat suasana kekeluargaan sekaligus mempromosikan budaya dan pariwisata Flores Timur.
Pemerintah daerah juga berupaya mencari solusi pembiayaan, mengingat adanya kebijakan pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD) yang berdampak pada keuangan daerah. Bupati Doni Dihen menyatakan bahwa penyelenggaraan ETMC tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara langsung, dengan membuka ruang kerja sama dengan sponsor dan pihak ketiga. Potensi penggerakan ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM, perhotelan, transportasi, dan pariwisata juga menjadi salah satu pertimbangan penting.
Menengok Kembali Sejarah dan Semangat ETMC
Kembali ke tahun 1970, saat Flores Timur pertama kali menjadi tuan rumah ETMC. Kala itu, Perseftim Flores Timur berhasil menjadi juara, menandai sejarah penting bagi daerah tersebut. Kini, dengan semangat yang sama, Flores Timur bertekad mengulang kejayaan tersebut sekaligus membuktikan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang mampu menyelenggarakan acara berskala besar dengan sukses.
Larantuka, sebagai ibu kota Kabupaten Flores Timur, dikenal dengan identitas budayanya yang kuat, berlandaskan pada spirit lokal yang mencakup adat dan religi. Keunikan ini diharapkan dapat memberikan nuansa tersendiri bagi para tamu yang datang.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan dan semangat gotong royong yang membara, Flores Timur siap menyambut ETMC 2026. Ini bukan hanya tentang perhelatan sepak bola, tetapi juga tentang kebangkitan semangat olahraga, persatuan, dan promosi budaya Flores Timur ke kancah yang lebih luas. Turnamen ini dijadwalkan akan dibuka pada 14 November 2026.
#Flores Timur #ETMC 2026 #Sepak Bola NTT