Gempa M 5,1 Manggarai Timur: Aktivitas Flores Back-arc Thrust Mengguncang NTT

BUGALIMA - Senin pagi, 21 September 2026, tepatnya pukul 08.41.37 WIB, langit Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, dikejutkan oleh guncangan hebat. Gempa bumi dengan magnitudo 5,1 mengguncang wilayah Lamba Leda dan sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan cepat memberikan informasi bahwa pusat gempa ini dipicu oleh aktivitas yang dikenal sebagai Flores Back-arc Thrust. Ini bukan sekadar getaran biasa, melainkan sebuah peringatan dari perut bumi yang terus berdenyut, mengingatkan kita akan dinamika geologis yang luar biasa di wilayah ini.

Lokasi episenter gempa tercatat berada di darat, 29 kilometer Timur Laut Ruteng, Manggarai Timur, dengan kedalaman hanya 10 kilometer. Parameter ini menunjukkan bahwa gempa yang terjadi adalah gempa dangkal. Meskipun kedalamannya relatif dangkal, gempa ini cukup kuat untuk dirasakan di berbagai wilayah di Flores, bahkan hingga Sumba. Skala intensitas III-IV MMI dilaporkan di Manggarai, Bajawa, dan Labuan Bajo, di mana getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah seolah-olah truk sedang melintas. Di Nagekeo dan Waingapu, intensitasnya sedikit lebih rendah, II-III MMI, namun tetap terasa nyata.

Sumber: Pixabay

Flores Back-arc Thrust: Sang Arsitek Guncangan

Apa sebenarnya Flores Back-arc Thrust itu? Bagi kita yang awam, mungkin istilah ini terdengar asing dan menakutkan. Namun, bagi para geolog, ini adalah bagian dari teka-teki besar kerak bumi kita. Flores Back-arc Thrust (FBAT) adalah zona patahan sesar naik yang membentang dari barat Lombok hingga timur Pulau Alor, dengan panjang mencapai setidaknya 800 kilometer. Patahan ini terletak di wilayah *back-arc* dari Busur Sunda-Banda, sebuah area yang sangat aktif secara geologis karena adanya proses subduksi lempeng Australia yang terus menerus menyusup di bawah lempeng Laut Sunda.

Bayangkan lempeng-lempeng tektonik raksasa yang terus bergerak, saling mendorong, dan menyelip. Di wilayah Indonesia, terutama di bagian timur seperti Flores, interaksi ini sangat kompleks. Flores Back-arc Thrust terbentuk sebagai respons terhadap tumbukan lempeng. Patahan ini cenderung miring ke arah selatan dan merupakan bagian dari sistem sesar yang lebih luas di wilayah *back-arc*. Aktivitasnya inilah yang sering kali menjadi sumber gempa bumi di wilayah tersebut, termasuk gempa yang baru saja terjadi di Manggarai Timur.

Rangkaian Gempa, Bukan Kejadian Tunggal

Penting untuk dicatat bahwa gempa M 5,1 di Manggarai Timur ini bukanlah sebuah peristiwa yang berdiri sendiri. BMKG mengindikasikan bahwa gempa ini merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan (*aftershock*) dari gempa besar M 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Gempa besar tersebut saja telah menyebabkan kerusakan signifikan dan memicu tsunami lokal. Sejak gempa utama itu, BMKG telah mencatat ribuan gempa susulan, bahkan hingga 17.073 aktivitas gempa hingga 21 September 2026, dengan magnitudo terbesar mencapai M 6,2.

Fenomena gempa susulan ini adalah hal yang wajar terjadi setelah gempa besar. Bumi sedang berusaha menyeimbangkan kembali energinya setelah pelepasan kekuatan yang dahsyat. Namun, jumlah dan frekuensi gempa susulan ini juga mengindikasikan bahwa aktivitas tektonik di bawah permukaan masih sangat tinggi. BMKG terus memantau dengan cermat setiap pergerakan yang terjadi dan terus memberikan informasi terkini kepada masyarakat.

Tanpa Potensi Tsunami, Tapi Tetap Waspada

Salah satu hal yang melegakan dari gempa M 5,1 ini adalah hasil pemodelan BMKG yang menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Ini karena episenter gempa berada di darat dan kedalamannya yang dangkal. Namun, hal ini tidak berarti kita bisa lengah. Getaran yang dirasakan, meskipun tidak menimbulkan tsunami, tetap dapat menyebabkan kerusakan, terutama jika bangunan tidak dirancang tahan gempa.

Mekanisme Sumber: Normal Fault

Analisis mekanisme sumber oleh BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan turun (*normal fault*). Ini berbeda dengan gempa utama M 7,7 yang memiliki mekanisme pergerakan naik (*thrust*). Perbedaan mekanisme ini menunjukkan kompleksitas aktivitas tektonik di bawah permukaan. Gempa dengan mekanisme *normal fault* umumnya terjadi akibat adanya gaya tarik-menarik pada kerak bumi, yang menyebabkan satu blok kerak bumi bergerak turun relatif terhadap blok lainnya.

Pentingnya Kesadaran dan Kesiapsiagaan

Kejadian gempa di Manggarai Timur ini, seperti halnya gempa-gempa lainnya di Indonesia, menjadi pengingat kuat akan pentingnya kesadaran dan kesiapsiagaan. Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik, sebuah area yang sangat rawan terhadap aktivitas geologi seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Memahami sumber-sumber gempa, seperti Flores Back-arc Thrust, adalah langkah awal yang penting.

Pemerintah, melalui BMKG dan badan terkait lainnya, terus berupaya memberikan informasi dan peringatan dini. Namun, peran masyarakat dalam meningkatkan kesiapsiagaan juga sangat krusial. Membangun rumah yang tahan gempa, memiliki rencana evakuasi keluarga, serta mengetahui cara bertindak saat terjadi gempa adalah hal-hal mendasar yang dapat menyelamatkan nyawa.

Mari kita terus belajar dari setiap peristiwa alam, meningkatkan kewaspadaan, dan membangun ketahanan. Bumi terus bergerak, dan kita harus siap menghadapinya.

Source: https://regional.kompas.com/read/2026/09/21/09312811/gempa-m-51-di-manggarai-timur-bmkg-dipicu-aktivitas-flores-back-arc-thrust



#Gempa Manggarai Timur #Flores Back-arc Thrust #BMKG

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama