BUGALIMA - Flores Timur, sebuah permata tersembunyi di Nusa Tenggara Timur, kian bersinar berkat gelaran Festival Bale Nagi (FBN). Lebih dari sekadar perayaan budaya, FBN telah menjelma menjadi motor penggerak utama bagi ekonomi kreatif dan sektor pariwisata di kabupaten ini. Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, menegaskan hal ini saat membuka FBN 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, pada Kamis, 30 Juli 2026. Beliau menekankan bahwa festival ini merupakan sebuah strategi pemerintah daerah untuk menggairahkan denyut nadi perekonomian masyarakat melalui berbagai potensi lokal yang ditampilkan.
FBN bukan sekadar panggung hiburan atau perayaan adat semata. Ia adalah ruang strategis untuk merawat jati diri masyarakat Lamaholot, menghidupkan kreativitas tanpa batas, menggerakkan roda ekonomi lokal, memperkuat daya tarik pariwisata, dan yang terpenting, menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya yang adiluhung. Tema FBN 2026, "Milenial Kerubaki Torang Semua Basudara", membawa pesan kuat tentang persatuan dan kolaborasi, menempatkan generasi muda sebagai garda terdepan dalam menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya daerah. Ini adalah bukti nyata bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan ekonomi semata, tetapi juga dari pelestarian budaya yang berjalan beriringan, memastikan identitas masyarakat Lamaholot tetap kokoh di tengah arus zaman yang terus berubah.
| Sumber: Pixabay |
Akar Budaya dan Semangat "Bale Nagi"
Festival Bale Nagi memiliki akar yang dalam pada tradisi "bale nagi", sebuah ritual kepulangan yang erat kaitannya dengan perayaan Semana Santa di Larantuka. Semana Santa, yang dalam bahasa Portugis berarti Pekan Suci, adalah momen sakral yang merayakan sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Tradisi pulang kampung menjelang Paskah ini telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad di Flores Timur. FBN menjadi titik temu bagi masyarakat Nagi—komunitas asli Larantuka—seluruh warga Flores Timur dari suku Lamaholot, hingga berbagai etnis lain yang berdomisili di sana. Keunikan ini juga menarik minat para diaspora yang merantau, serta turis domestik maupun internasional yang datang untuk menyaksikan kekayaan spiritual dan budaya Larantuka. Menariknya lagi, para peziarah ini tidak hanya berasal dari kalangan Katolik, tetapi juga dari beragam latar belakang agama dan etnis, menjadikan FBN sebagai ajang pertemuan budaya yang inklusif.
Transformasi Menjadi Mesin Ekonomi Kreatif
Sejak pertama kali digelar pada tahun 2019, FBN telah membuktikan diri sebagai platform esensial dalam mempromosikan seni, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif Flores Timur. Festival ini secara konsisten menjadi wadah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menampilkan dan memasarkan produk-produk unggulan mereka. Mulai dari kerajinan tangan seperti anyaman dan kerajinan tempurung, tenun ikat yang khas, hingga aneka kuliner lezat dan produk kreatif lainnya, semuanya tumpah ruah di area festival.
Pada FBN 2025, misalnya, tercatat ada 84 peserta UMKM yang berasal dari Flores Timur sendiri dan kabupaten tetangga seperti Sikka, Ende, Lembata, hingga Kota Kupang. Partisipasi yang masif ini menunjukkan betapa FBN telah menjadi magnet bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk menjajaki peluang pasar yang lebih luas. Tak jarang, setelah festival usai, pesanan produk pun membanjir, membuktikan efektivitas FBN dalam meningkatkan pendapatan dan menggairahkan perekonomian rakyat.
Inovasi dan Apresiasi: Fantastic East Flores Award
Untuk terus mendorong lahirnya inovasi dan mengapresiasi para pelaku di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur memperkenalkan sebuah inisiatif baru: Fantastic East Flores Award (FEFA). Ajang penghargaan yang pertama kali diperkenalkan pada FBN 2026 ini mengadopsi konsep Wonderful Indonesia Awards dari Kementerian Pariwisata. FEFA dirancang untuk memberikan penghargaan kepada individu, kelompok, maupun institusi yang dinilai telah berkontribusi signifikan dalam mempromosikan potensi Flores Timur.
Kategori penilaian FEFA meliputi daya tarik destinasi wisata, keunikan paket wisata, hingga kreativitas para kreator konten dalam mempromosikan daerah. Tak ketinggalan, produk-produk unggulan UMKM lokal juga menjadi bagian penting dari penilaian. Melalui FEFA, pemerintah daerah tidak hanya ingin membangun budaya kompetisi yang sehat, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas destinasi dan produk wisata, serta memperkuat citra Flores Timur di kancah nasional maupun internasional.
Menyongsong Masa Depan Pariwisata Berkelanjutan
Festival Bale Nagi menjadi bukti nyata bahwa pariwisata berbasis budaya dan ekonomi kreatif adalah kunci pembangunan yang berkelanjutan di Flores Timur. Dengan terus mengedepankan pelestarian budaya, memberdayakan masyarakat lokal, dan mendorong inovasi, FBN tidak hanya sekadar sebuah festival, tetapi sebuah ekosistem yang hidup. Ekosistem ini terus berkembang, menciptakan peluang ekonomi baru, memperkuat identitas lokal, dan menjadikan Flores Timur destinasi yang semakin menarik untuk dikunjungi.
Persiapan menuju festival ini pun mencerminkan komitmen yang kuat. Pada tahun 2026, misalnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Flores Timur melibatkan seluruh pegawainya dalam aksi bersih kota untuk mempercantik Larantuka menjelang pembukaan FBN. Upaya penataan ruang publik ini menjadi bagian integral dari upaya membangun citra Larantuka sebagai kota yang nyaman, ramah, dan layak dikunjungi, baik oleh masyarakatnya sendiri maupun oleh para wisatawan. Semangat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat inilah yang akan terus membawa Festival Bale Nagi dan Flores Timur menuju masa depan yang lebih cerah.
Source: rri.co.id
#Flores Timur #Festival Bale Nagi #Ekonomi Kreatif