BUGALIMA - Kabar baik datang dari salah satu gunung api paling aktif di Indonesia Timur. Gunung Lewotobi Laki-laki yang berlokasi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah resmi menurunkan status aktivitasnya dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada). Keputusan ini berlaku efektif mulai Rabu, 16 September 2026, pukul 08.00 Wita, berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas vulkanik gunung tersebut. Penurunan status ini tentu saja menjadi angin segar, namun bukan berarti ancaman bahaya sepenuhnya hilang.
Penurunan status ini merupakan hasil dari pemantauan intensif yang dilakukan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa ada beberapa indikator kunci yang menjadi dasar pengambilan keputusan ini. "Penurunan aktivitas vulkanik ditunjukkan oleh berkurangnya aktivitas erupsi di permukaan, tidak terekamnya gempa erupsi sejak awal September, menurunnya beberapa jenis kegempaan di zona dangkal, serta tidak teramatinya pola inflasi berdasarkan pengamatan deformasi GNSS maupun tiltmeter," ujar Lana dalam keterangan resminya. Ini berarti, secara visual, intensitas erupsi gunung api ini memang telah mereda. Kolom abu yang sebelumnya mencapai ketinggian signifikan, kini hanya terlihat sebagai asap putih dengan intensitas tipis hingga sedang, setinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Erupsi terakhir yang menghasilkan kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak tercatat pada 31 Agustus 2026.
| Sumber: Pixabay |
Apa Arti Penurunan Status Ini?
Penurunan status dari Siaga ke Waspada memiliki implikasi yang cukup penting bagi masyarakat sekitar dan juga para pemangku kepentingan.
1. Radius Aman yang Disesuaikan: Dengan turunnya status menjadi Waspada, radius aman dari pusat kawah Gunung Lewotobi Laki-laki kini dipersempit. Sebelumnya, masyarakat diimbau untuk menjaga jarak lima kilometer dari puncak. Namun, dengan status Waspada, radius aman tersebut kini menjadi empat kilometer dari pusat gunung api. Ini berarti, aktivitas masyarakat di area yang sebelumnya masuk zona bahaya, kini bisa sedikit lebih leluasa, namun tetap dalam pengawasan dan kewaspadaan.
2. Potensi Letusan Tetap Ada: Penting untuk digarisbawahi bahwa penurunan status bukan berarti gunung api ini sudah "tidur" atau tidak aktif lagi. Lana Saria menegaskan bahwa "aktivitas di dalam tubuh gunung api masih berlangsung dan potensi erupsi dengan skala lebih kecil tetap ada." Badan Geologi terus melakukan pemantauan karena secara geologis, Gunung Lewotobi Laki-laki tetap merupakan gunung berapi aktif yang bagian dari busur vulkanik Kepulauan Sunda Kecil, yang dibentuk oleh subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Eurasia. Wilayah ini memang secara seismik aktif, sehingga gempa bumi tektonik dan vulkanik sering terjadi.
3. Fokus Pemantauan Tetap Penting: Meskipun aktivitas di permukaan menurun, pemantauan visual dan instrumental tetap menjadi prioritas utama. Pemantauan menggunakan drone pada 10 September 2026 menunjukkan kondisi kawah terlihat sangat jelas dan tidak teramati adanya sumbatan lava di area puncak. Hal ini mengindikasikan kawah masih relatif terbuka dan belum ada indikasi pembentukan sumbatan lava yang signifikan yang bisa meningkatkan tekanan di dalam tubuh gunung. Namun, data seismik tidak menunjukkan peningkatan energi kegempaan yang signifikan, dan data deformasi GNSS belum mengindikasikan adanya inflasi yang kuat.
Latar Belakang Aktivitas Lewotobi Laki-laki
Gunung Lewotobi Laki-laki, bersama dengan puncaknya yang lebih tinggi, Gunung Lewotobi Perempuan, merupakan bagian dari sistem vulkanik yang unik di Flores Timur. Gunung Lewotobi Laki-laki, dengan ketinggian 1.584 mdpl, memang dikenal lebih sering aktif dibandingkan saudaranya, Lewotobi Perempuan (1.703 mdpl). Sejarah mencatat bahwa Lewotobi Laki-laki telah mengalami banyak erupsi, termasuk periode aktivitas intens pada akhir tahun 2023 hingga awal 2024 yang menyebabkan ribuan warga mengungsi. Erupsi pada 23 Desember 2023, misalnya, memaksa sekitar 6.500 orang mengungsi dan berlangsung hingga Januari 2024. Pada November 2024, gunung ini bahkan sempat berada pada status Awas (Level IV) dan mengalami erupsi yang memuntahkan abu vulkanik hingga 9 kilometer ke udara.
Dampak dan Pemulihan
Erupsi gunung berapi, bahkan yang skalanya lebih kecil, dapat memiliki dampak yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Terutama pada sektor pertanian, lahan yang rusak akibat abu vulkanik memerlukan waktu dan upaya pemulihan. Contohnya, erupsi pada November 2024 mengakibatkan kerusakan lahan pertanian seluas ribuan hektar di Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura. Selain itu, akses transportasi juga bisa terganggu akibat material vulkanik yang menutupi jalan, seperti yang terjadi pada ruas jalan Maumere-Larantuka.
Namun, penurunan status ini memberikan peluang bagi masyarakat untuk lebih aktif dalam proses pemulihan. Dengan radius aman yang lebih kecil, petani mungkin dapat kembali mengakses sebagian lahan mereka untuk memulai kembali aktivitas pertanian, meskipun dengan tetap memperhatikan arahan dari pihak berwenang. Selain itu, pemetaan area rawan bencana yang lebih mutakhir juga menjadi krusial untuk perencanaan tata ruang dan mitigasi bencana di masa mendatang, mengingat peta yang tersedia sebelumnya disusun pada tahun 2009 dan mungkin kurang relevan dengan kondisi terkini.
Pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait terus berupaya memberikan edukasi dan bantuan kepada masyarakat terdampak. Keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama, namun dengan penurunan status ini, diharapkan aktivitas masyarakat dapat berangsur normal kembali, sambil tetap waspada terhadap dinamika yang terus terjadi di dalam perut bumi Gunung Lewotobi Laki-laki. Ini adalah pengingat bahwa alam memiliki kekuatan yang luar biasa, dan kita harus selalu menghormati serta beradaptasi dengannya.
Source: Kompas.com
#Gunung Lewotobi #Flores Timur #Status Waspada