BUGALIMA - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang seringkali diwarnai oleh berbagai tantangan keamanan, kabar baik datang dari ujung timur Pulau Flores. Kepolisian Resor (Polres) Flores Timur (Flotim) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Flores Timur mengambil langkah proaktif dengan memperkuat sinergi. Sebuah pertemuan strategis yang diadakan pada Rabu, 23 September 2026, antara Kapolres Flotim AKBP Gede Putra Yase dan Ketua MUI Flores Timur Drs. Bakir Doni Pulo, menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah tersebut. Ini bukan sekadar pertemuan formalitas, melainkan sebuah fondasi kuat yang dibangun atas kesadaran bahwa menjaga kamtibmas adalah tanggung jawab kolektif, yang melibatkan ulama, polisi, dan seluruh elemen masyarakat.
Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Kapolres ini, sebagaimana dilaporkan oleh RRI.co.id, menjadi momentum penting untuk membahas berbagai strategi dan mempererat tali silaturahmi. AKBP Gede Putra Yase menekankan peran vital tokoh agama dalam membangun persaudaraan dan menjaga toleransi di tengah masyarakat. Beliau menyadari bahwa nasihat dan bimbingan dari para ulama memiliki dampak yang sangat besar dalam membentuk karakter masyarakat, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kerukunan, serta mencegah potensi-potensi konflik yang bisa mengganggu stabilitas. Ini sejalan dengan apa yang kerap digaungkan oleh para pemimpin Polri di berbagai daerah, bahwa sinergi dengan tokoh agama adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan aman.
| Sumber: Pixabay |
Peran tokoh agama dalam menjaga kamtibmas memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah garda terdepan dalam memberikan pencerahan spiritual dan moral kepada umat. Melalui mimbar-mimbar keagamaan, kajian-kajian rutin, hingga dialog-dialog personal, para ulama memiliki kemampuan luar biasa untuk menanamkan nilai-nilai luhur, seperti kejujuran, rasa hormat, toleransi, dan cinta damai. Ketika nilai-nilai ini tertanam kuat dalam diri setiap individu, maka potensi terjadinya tindakan kriminal, gesekan antarwarga, bahkan radikalisme akan jauh berkurang.
Di sisi lain, kepolisian sebagai lembaga penegak hukum dan pelindung masyarakat, tentu memiliki tugas utama menjaga kamtibmas. Namun, tugas ini akan terasa lebih ringan dan efektif jika didukung oleh partisipasi aktif dari masyarakat, termasuk para tokoh agamanya. Sinergi antara Polri dan MUI, seperti yang terjadi di Flotim, merupakan cerminan dari pemahaman ini. Keduanya menyadari bahwa pendekatan represif saja tidak cukup. Perlu ada pendekatan preventif yang melibatkan sosialisasi, edukasi, dan pembinaan masyarakat secara terus-menerus. Di sinilah peran ulama menjadi sangat strategis, sebagai mitra kepolisian dalam mengedukasi masyarakat agar patuh hukum, menjaga kerukunan, dan berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman.
Drs. Bakir Doni Pulo, sebagai perwakilan MUI, tentu menyambut baik inisiatif Kapolres Flotim ini. Beliau dan jajaran MUI diyakini akan senantiasa mendukung upaya-upaya kepolisian dalam menjaga ketertiban. Dalam berbagai kesempatan, MUI di berbagai daerah memang kerap menunjukkan komitmennya untuk bersinergi dengan Polri. Contohnya seperti yang terjadi di Seram Bagian Timur, di mana Kapolres SBT AKBP Ricky Pranata Vivaldy juga memperkuat sinergi dengan MUI setempat. Pertemuan serupa juga terjadi antara Kapolres Nias AKBP Ponzi Indra dengan MUI Gunungsitoli, yang menekankan pentingnya komunikasi dan kerja sama dalam menjaga kondusivitas kamtibmas dan mempererat kerukunan. Bahkan, Polda Banten pun telah menjalin sinergi dengan MUI Provinsi Banten untuk menjaga stabilitas daerah dan menangkal isu keagamaan serta hoaks. Semua ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara aparat keamanan dan lembaga keagamaan adalah sebuah tren positif yang terus berkembang di seluruh Indonesia.
Penguatan sinergi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada tataran pertemuan dan silaturahmi, tetapi dapat diterjemahkan dalam program-program kerja nyata. Misalnya, kegiatan-kegiatan penyuluhan bersama tentang bahaya narkoba, pencegahan kenakalan remaja, pentingnya tertib berlalu lintas, dan imbauan untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu negatif di media sosial. Para ulama dapat membantu menyebarkan pesan-pesan ini dengan bahasa yang lebih mudah diterima oleh umat, sementara kepolisian dapat memberikan landasan hukum dan penegakan jika diperlukan.
Lebih jauh lagi, sinergi ini juga bisa dimanfaatkan untuk memperkuat toleransi antarumat beragama. Di tengah isu-isu intoleransi yang kadang muncul, dialog yang konstruktif antara tokoh agama dan aparat keamanan dapat menjadi benteng pertahanan yang kokoh. Dengan saling memahami, menghormati, dan bekerja sama, perbedaan bukan lagi menjadi sumber konflik, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama. Kapolres Flotim dan MUI Flotim telah menunjukkan langkah awal yang sangat baik. Semoga sinergi ini dapat terus terjaga, berkembang, dan memberikan dampak positif yang signifikan bagi keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan masyarakat Flores Timur. Semangat kolaborasi ini patut diapresiasi dan dicontoh oleh daerah-daerah lain di Indonesia.
Source: RRI.co.id
#Sinergi Polri MUI #Kamtibmas Flores Timur #Tokoh Agama dan Polisi