BUGALIMA - Angin segar berembus dari Nusa Tenggara Timur, khususnya dari Kabupaten Flores Timur (Flotim). Sektor perkebunan kakao, yang pernah menjadi primadona, kini tengah berbenah untuk bangkit kembali. Pemerintah Kabupaten Flores Timur, dengan dukungan anggaran fantastis dari APBN sebesar Rp30,8 miliar di tahun 2026, bertekad mengembalikan daerah ini sebagai salah satu sentra kakao unggulan di NTT. Sebuah langkah ambisius yang patut kita apresiasi, dan tentu saja, patut kita cermati lebih dalam.
Perkebunan kakao di Flores Timur bukanlah cerita baru. Jauh sebelum ini, komoditas yang satu ini telah memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian lokal. Namun, seiring berjalannya waktu, ada beberapa faktor yang menyebabkan produktivitasnya menurun. Minimnya perawatan tanaman oleh petani menjadi salah satu isu krusial yang diungkapkan oleh Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Flores Timur, Aloysius Tiba Payong. Akibatnya, pasokan biji kakao lokal tak lagi mampu memenuhi tingginya permintaan pasar. Sebuah ironi ketika potensi alam melimpah namun tak dikelola dengan optimal.
| Sumber: Pixabay |
Membangkitkan Kembali Sang Juara: Strategi dan Harapan
Anggaran Rp30,8 miliar dari APBN adalah modal besar untuk revitalisasi. Program ini bukan sekadar tambal sulam, melainkan sebuah upaya komprehensif yang mencakup perluasan areal tanam seluas 500 hektare baru. Targetnya menyasar 11 kecamatan potensial di Flores Timur, mulai dari daratan hingga pulau-pulau seperti Adonara dan Solor. Penentuan lokasi pengembangan pun tak sembarangan, mempertimbangkan kesesuaian lahan dan iklim, demi memastikan tanaman kakao tumbuh subur dan produktif dalam jangka panjang.
Lebih dari sekadar perluasan lahan, program ini menekankan pentingnya pengelolaan kebun yang berkelanjutan. Pemangkasan, pengendalian hama dan penyakit, serta pemeliharaan rutin menjadi kunci utama. Pemerintah tidak hanya memberikan bibit, tetapi juga dukungan biaya operasional (HOK) bagi kelompok tani. Sebanyak 500 ribu anakan kakao siap ditanam, dengan alokasi sekitar 1.000 bibit per hektare. Ini menunjukkan keseriusan untuk memastikan setiap jengkal lahan yang dikembangkan memberikan hasil maksimal. Terdapat 33 kelompok tani yang menjadi sasaran utama dalam program ini, sebuah bukti bahwa pemberdayaan petani adalah jantung dari revitalisasi ini.
Mengapa Kakao Flores Timur Penting?
Flores Timur bukan satu-satunya daerah di NTT yang memiliki potensi kakao. Kabupaten lain seperti Sikka, Ende, Manggarai Timur, dan Sumba Barat juga merupakan sentra kakao. Namun, Flores Timur memiliki catatan sejarah yang kuat dalam produksi kakao. Bahkan, pada tahun 2023, NTT secara keseluruhan mampu memproduksi 20.897 ton kakao dengan luas tanam 61.065 hektare. Angka ini menunjukkan bahwa potensi NTT dalam komoditas kakao sangatlah besar.
Peningkatan harga biji kakao hingga Rp100 ribu per kilogram menjadi angin segar yang mendorong petani untuk kembali bersemangat. Momentum ini harus dimanfaatkan dengan baik melalui program revitalisasi yang sedang berjalan. Dengan adanya bibit unggul, teknik budidaya yang tepat, dan perhatian yang lebih serius terhadap perawatan, diharapkan produksi kakao Flores Timur dapat kembali melimpah, bahkan melampaui masa kejayaannya.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Tentu saja, kebangkitan sektor kakao ini tidak akan lepas dari tantangan. Perubahan iklim yang semakin ekstrem menjadi salah satu ancaman nyata bagi para petani kakao. Serangan hama, seperti yang pernah terjadi di Flores Timur, juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Minimnya kesadaran akan pentingnya pemeliharaan tanaman, seperti yang diungkapkan Aloysius, juga menjadi tantangan tersendiri.
Namun, di balik tantangan tersebut, terhampar peluang yang sangat besar. Permintaan pasar global untuk kakao berkualitas terus meningkat. Jika Flores Timur mampu menghasilkan biji kakao dengan kualitas unggul, baik melalui perkebunan rakyat maupun pengembangan bisnis swasta seperti yang dirintis Hengky Lianto di masa lalu, maka nilai ekonomi yang bisa diraih akan semakin tinggi.
Pemerintah daerah perlu terus bersinergi dengan para petani, memberikan penyuluhan berkelanjutan, memfasilitasi akses pasar, dan yang terpenting, memastikan program Rp30,8 miliar ini berjalan transparan dan akuntabel. Revitalisasi sentra kakao unggulan NTT ini bukan hanya tentang angka Rp30,8 miliar, tetapi tentang mengembalikan harapan, kesejahteraan, dan kejayaan sebuah komoditas yang telah lama menjadi bagian dari identitas Flores Timur. Mari kita songsong masa depan kakao NTT dengan optimisme dan kerja keras bersama.
Source: RRI.co.id
#Kakao Flores Timur #Revitalisasi Pertanian NTT #Ekonomi Daerah