BUGALIMA - Gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 lalu, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakatnya. Hingga kini, sebagian warga di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masih terpaksa bertahan di tenda darurat. Kondisi ini menyisakan cerita pilu tentang ketidakpastian, harapan, dan perjuangan hidup di tengah puing-puing masa lalu. Desa Nampar Tabang dan Desa Satar Punda di Kecamatan Lamba Leda Utara menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah. Rumah mereka, yang menjadi saksi bisu kehidupan sehari-hari, kini hanya tinggal kenangan, hancur lebur akibat guncangan hebat. Kepada siapa lagi mereka akan mengadu nasib?
Meskipun status kebencanaan di Manggarai Timur telah beralih dari masa tanggap darurat ke masa transisi pemulihan selama 90 hari, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan belum sepenuhnya merata. Ratusan, bahkan ribuan jiwa, masih menggantungkan hidup mereka pada tenda-tenda darurat. Bayangkan, memasuki musim hujan, mereka harus menghadapi dinginnya malam dan derasnya air hujan dengan atap yang terbuat dari terpal seadanya. Kekhawatiran ini dirasakan betul oleh keluarga Nikolaus, salah seorang warga yang harus rela tinggal di posko darurat karena rumahnya hancur total. "Warga ragu untuk mencari nafkah karena gempa susulan masih terus terjadi setiap hari. Rasa trauma itu selalu menghantui kami. Kami juga butuh bantuan sembako," ujarnya, menggambarkan kegelisahan yang merayap di hati setiap warga.
| Sumber: Pixabay |
Trauma pascagempa bukan sekadar rasa takut sesaat. Ia adalah luka batin yang dalam, yang membuat warga enggan untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Ketakutan akan gempa susulan yang terus terjadi setiap hari menghantui, membatasi ruang gerak mereka untuk mencari nafkah. Pendapatan yang diharapkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun menjadi terganggu. Habiba (45), seorang penjual bensin eceran di Manggarai, menceritakan bahwa rumahnya yang dekat pantai hancur total. Ia tidak bisa lagi berjualan karena trauma dan ketakutan yang terus membayangi. Satu-satunya harta yang tersisa hanyalah tas berisi dokumen penting dan uang Rp5.000. "Mama hanya punya kerja jual bensin saja. Sekarang sudah tidak bisa jual. Mama trauma karena gempa datang terus," tuturnya dengan nada lirih. Kehidupan sehari-hari kini bergantung pada bantuan yang masuk ke pos pengungsian.
Pemerintah memang telah menyalurkan bantuan sembako, namun jumlahnya terbatas dan belum mencukupi kebutuhan warga untuk bertahan dalam jangka waktu lama. Kebutuhan pokok menjadi hal yang sangat krusial, apalagi di tengah ketidakpastian kapan mereka bisa kembali menempati rumah yang layak. "Kami juga butuh terpal. Ini untuk mengantisipasi musim hujan yang segera datang, sehingga posko sementara kami bisa ditata dengan baik," kata Nikolaus, menyoroti pentingnya kebutuhan mendesak lainnya selain makanan.
Data dari Pusat Data Posko Bencana Gempa Flores Kabupaten Manggarai Timur hingga 30 September 2026 menunjukkan gambaran yang cukup mencengangkan. Sebanyak 10.140 warga masih mengungsi dan tersebar di 12 kecamatan. Infrastruktur yang rusak pun mencapai 31.940 unit. Luka ringan tercatat 404 orang, luka berat 239 orang, dan 53 orang meninggal dunia. Angka ini belum termasuk data dari kabupaten lain yang juga terdampak parah, seperti Manggarai, Sikka, dan Ngada. BNPB mencatat sedikitnya 14 orang meninggal dunia di Kabupaten Manggarai Timur saja pada awal gempa terjadi. Total korban meninggal dunia akibat gempa ini mencapai 43 orang di lima kabupaten Flores.
Berbagai upaya penanganan telah dilakukan, termasuk penetapan status darurat, pembentukan posko, pencarian korban, pemulihan layanan dasar, distribusi logistik, hingga penguatan informasi publik. Namun, proses rehabilitasi dan pemulihan pascabencana ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.
Ombudsman Republik Indonesia pun turut memberikan perhatian serius terhadap kondisi ini. Pemantauan yang dilakukan di beberapa wilayah menunjukkan adanya isu terkait hunian, kesehatan, dan pendidikan. Usulan penambahan tenda keluarga menjadi salah satu catatan penting, mengingat kebutuhan akan hunian yang memadai sebelum pembangunan tempat tinggal permanen. Di Desa Paralando, Kabupaten Manggarai, lebih dari 100 warga masih bertahan di tenda darurat yang dibangun secara mandiri, bahkan kondisinya dinilai belum layak. Kebutuhan air bersih dan sarana penampungan air juga masih menjadi perhatian di daerah tersebut.
Kekhawatiran terhadap musim hujan yang semakin dekat menjadi momok tersendiri bagi para pengungsi. Kondisi tenda yang ada saat ini belum tentu mampu memberikan perlindungan yang memadai dari cuaca ekstrem. Oleh karena itu, percepatan pembangunan huntara menjadi harapan besar bagi warga. "Warga berharap pembangunan huntara dapat dipercepat sebelum musim hujan tiba," ujar salah seorang warga. Mereka juga berharap bantuan kebutuhan pokok terus disalurkan untuk keluarga yang masih terdampak.
Perlu diingat, di balik angka-angka statistik dan laporan resmi, ada cerita tentang kehilangan, ketakutan, dan perjuangan keras para penyintas gempa Flores. Mereka membutuhkan uluran tangan, bukan hanya sekadar bantuan logistik, tetapi juga dukungan moril dan kesempatan untuk bangkit kembali. Pembangunan kembali rumah dan kehidupan mereka adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan komitmen dari semua pihak. Semoga, sebelum musim hujan tiba sepenuhnya, lebih banyak warga Manggarai Timur yang dapat merasakan kehangatan dan keamanan di hunian yang lebih layak.
Source: odiyaiwuu.com
#Gempa Flores #Manggarai Timur #Tenda Darurat