BUGALIMA - Ada angin segar berembus dari Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah transformasi besar tengah terjadi dalam skema peternakan sapi, yang kini bergeser dari model "Big Push Sentra Peternakan Sapi" menjadi "Sub Sentra". Perubahan strategis ini diprakarsai oleh Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, yang dengan sigap mengajukan alokasi anggaran baru untuk penyiapan sarana dan prasarana pendukung. Langkah ini merupakan respons terhadap kebutuhan pengembangan peternakan yang lebih adaptif dan merata di seluruh penjuru daerah.
Pergeseran skema ini diumumkan dalam Rapat Paripurna Kedua DPRD Flores Timur pada Senin, 21 September 2026, saat Bupati Antonius Doni Dihen menyampaikan Pidato Pengantar Nota Keuangan atas Rancangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026. Keputusan ini menandai evolusi penting dalam upaya Pemkab Flores Timur untuk memajukan sektor peternakan sapi, sebuah komoditas yang memiliki potensi besar bagi perekonomian daerah.
| Sumber: Pixabay |
Sebagaimana diketahui, program "Big Push Sentra Peternakan Sapi" yang sebelumnya digagas, kini dinilai perlu dievaluasi dan disesuaikan. Pergantian skema menjadi "Sub Sentra" ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa pengembangan peternakan yang terpusat di satu titik mungkin kurang efektif dalam menjangkau seluruh potensi daerah. Dengan model sub sentra, diharapkan peternakan sapi dapat berkembang lebih merata, memberdayakan lebih banyak kelompok peternak di berbagai kecamatan, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.
Perubahan Arah Pembangunan Peternakan Sapi
Perubahan skema dari sentra menjadi sub sentra ini bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan sebuah penyesuaian fundamental dalam strategi pembangunan peternakan. Jika sebelumnya fokus utama adalah membangun satu atau beberapa sentra peternakan besar, kini arahnya adalah menciptakan jaringan sub sentra yang tersebar. Model ini memungkinkan distribusi sumber daya dan perhatian yang lebih merata, serta lebih mampu mengakomodasi keragaman geografis dan potensi lokal di Flores Timur.
Bupati Antonius Doni Dihen, yang baru saja dilantik sebagai Bupati Flores Timur pada Februari 2025, menunjukkan kepemimpinannya dalam merespons dinamika kebutuhan pembangunan. Pengajuan anggaran baru untuk sarana dan prasarana pendukung sub sentra ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah daerah untuk memastikan kelancaran transisi dan keberhasilan program peternakan di masa depan.
Besaran anggaran baru yang diajukan beserta rincian item kegiatan sarana prasarana pendukungnya memang belum diungkapkan secara detail dalam pidato paripurna tersebut. Namun, hal ini dapat dipahami karena detail tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam forum pembahasan antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dengan Badan Anggaran DPRD Flores Timur. Yang terpenting adalah adanya inisiatif dan pengajuan anggaran yang telah disuarakan, membuka jalan bagi realisasi program ini.
Potensi dan Tantangan Peternakan Sapi di Flores Timur
Flores Timur, layaknya provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya, memiliki potensi besar dalam sektor peternakan sapi. Tanah yang luas dan kondisi geografis yang beragam menjadi modal dasar yang kuat untuk pengembangan usaha ternak. Namun, tantangan juga selalu menyertai. Keterbatasan pakan hijauan, akses terhadap teknologi peternakan modern, serta infrastruktur yang memadai sering kali menjadi kendala klasik yang dihadapi para peternak.
Transformasi menuju skema sub sentra ini diharapkan dapat menjadi solusi atas beberapa tantangan tersebut. Dengan adanya sub sentra, pemerintah dapat lebih fokus dalam menyediakan dukungan teknis, pelatihan, dan infrastruktur yang dibutuhkan di setiap titik pengembangan. Hal ini termasuk penyediaan fasilitas seperti kandang yang memadai, sumber air bersih, akses jalan usaha tani untuk ternak, serta program-program peningkatan kualitas genetik ternak.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Flores Timur sendiri telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 12 miliar untuk pengembangan program peternakan modern terintegrasi, yang mencakup pengadaan 700 ekor sapi dan 5.000 ekor ayam petelur. Anggaran untuk sapi saja mencapai Rp 7,22 miliar, yang diperuntukkan bagi pengadaan bibit sapi, penyediaan sarana dan prasarana, sewa lahan, upah tenaga kandang, serta jasa konsultan lingkungan. Sebanyak 200 hektare lahan juga telah disiapkan di Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga, untuk pengembangan peternakan sapi.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya berbagai kendala, termasuk terbakarnya sentra HMT Sapi Bali di Wulo Kolo. Hal ini semakin memperkuat argumen perlunya diversifikasi model pengembangan, dari sentra tunggal menjadi jaringan sub sentra yang lebih resilien.
Anggaran Baru untuk Infrastruktur Pendukung
Pengajuan anggaran baru untuk penyiapan sarana prasarana pendukung sub sentra peternakan sapi ini menjadi krusial. Sarana dan prasarana ini bisa mencakup berbagai hal, mulai dari pembangunan atau perbaikan kandang, penyediaan sumber air minum ternak, pembangunan jalan akses menuju lokasi peternakan, hingga fasilitas penunjang lainnya seperti tempat penyimpanan pakan. Ketersediaan infrastruktur yang memadai adalah fondasi utama agar peternakan dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Pemerintah Provinsi NTT sendiri pada tahun 2015 telah mengalokasikan dana sebesar Rp 16,5 miliar untuk pengembangan ternak sapi, yang mencakup pembangunan sarana dan prasarana pembibitan, pengadaan vaksin dan pakan, serta pengadaan ternak. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya alokasi anggaran yang memadai untuk sektor peternakan.
Dengan adanya perubahan skema menjadi sub sentra, diharapkan alokasi anggaran yang baru ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membangun ekosistem peternakan sapi yang kuat di berbagai wilayah di Flores Timur. Ketersediaan anggaran untuk sarana prasarana pendukung akan menjadi katalisator penting dalam meningkatkan produktivitas, kesejahteraan peternak, dan pada akhirnya, kontribusi sektor peternakan terhadap perekonomian daerah.
Perubahan skema ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk terus mengevaluasi program-program unggulan, termasuk program "Big Push" peternakan. Evaluasi yang intensif, termasuk kajian oleh tim ahli yang ditugaskan Bupati Anton Doni Dihen, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan keberlanjutan dan efektivitas program pembangunan.
Transformasi peternakan sapi di Flores Timur dari model sentra menjadi sub sentra ini merupakan langkah maju yang patut diapresiasi. Dengan kepemimpinan Bupati Antonius Doni Dihen dan dukungan anggaran yang memadai, sektor peternakan sapi di Flores Timur diharapkan dapat tumbuh lebih pesat, merata, dan berkelanjutan, memberikan manfaat yang signifikan bagi seluruh masyarakat.
Source: FloresPos Net
#Peternakan Sapi #Flores Timur #Sub Sentra