Kebakaran Lahan Larantuka: Asap Pekat Selimuti Sekolah, Siswa Terganggu, Aktivitas Belajar Terhambat

BUGALIMA - Langit Larantuka kembali diselimuti tabir kelabu. Kali ini, bukan karena mendung biasa, melainkan asap pekat yang membubung tinggi dari insiden kebakaran lahan yang melanda lapangan bola dan kebun warga di Kelurahan Weri, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 11.25 Wita ini, tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga merenggut kenyamanan, bahkan sempat menghentikan sementara denyut aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah terdekat.

Betapa tidak, api yang berkobar dengan cepat, diburu oleh angin kencang, membuat kepulan asap semakin tebal dan menyesakkan. Saksi mata, Ima, yang kebetulan melintas di jalan negara Trans Weri, sempat mengira suara gemuruh seperti hujan. "Dengar macam hujan turun. Ini Lapangan Bola Weri. Cepat sekali karena angin besar," tuturnya, diliputi rasa heran bercampur cemas. Tak berselang lama, Ruth Daton, seorang pegawai Telkomsel yang sedang bertugas memasang jaringan IndiHome di sekitar lokasi, justru dikejutkan dengan pemandangan api yang merayap cepat di tengah lapangan bola. "Apinya dari tengah,(lapangan)," ungkapnya dengan nada terkejut.

Sumber: Pixabay

Peristiwa ini sontak menarik perhatian banyak pihak. Warga berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk menyaksikan upaya pemadaman api. Tak ketinggalan, para guru dan siswa dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Weri yang letaknya tak jauh dari lokasi kebakaran, juga turut keluar kelas untuk melihat kobaran api dan kepulan asap yang kian membesar. Hal ini tentu saja mengganggu konsentrasi belajar mereka, mengubah suasana kelas yang seharusnya tenang menjadi riuh rendah oleh rasa penasaran dan kekhawatiran. Ini adalah pengingat pahit akan kerentanan lingkungan kita, terutama saat memasuki musim kemarau yang memang kerap memicu kebakaran lahan di Flores Timur.

Tim pemadam kebakaran dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Flores Timur, bersama dengan sepuluh personel dan dua unit mobil pemadam, segera bergerak cepat menuju lokasi. Mereka berjuang keras memadamkan api yang terus menjalar, dibantu oleh angin yang seolah tak mau kompromi. Petugas pemadam kebakaran, Syafrudin Ruing, mengkonfirmasi bahwa laporan awal datang dari pegawai Telkomsel yang melihat api. "Pegawai Telkomsel lihat api dari tengah tiba-tiba dia bel saya. Lalu langsung ke call center. Lalu Pol PP bidang pemadam kebakaran turun kerja sudah selesai," ujarnya, menjelaskan alur laporan yang cepat.

Insiden ini bukanlah kejadian pertama yang melanda Larantuka dan sekitarnya. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang menjadi ancaman nyata, terutama saat musim kemarau tiba. Beberapa tahun lalu, Gunung Ile Mandiri di Larantuka juga pernah terdampak karhutla, menunjukkan betapa rentannya wilayah ini terhadap bencana serupa. Selain itu, kebakaran lahan yang meluas dan menjalar ke area permukiman juga kerap terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, membawa dampak yang serius bagi kesehatan dan aktivitas sehari-hari masyarakat. Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang Agustus hingga pertengahan September 2026, luas lahan terbakar di tujuh provinsi sudah mencapai puluhan ribu hektare, dan asapnya berdampak luas.

Dampak asap tebal akibat kebakaran lahan memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di berbagai daerah, kabut asap telah memaksa sekolah untuk meliburkan siswanya, menghentikan pembelajaran tatap muka, dan beralih ke sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Kualitas udara yang memburuk akibat asap dikhawatirkan akan membahayakan kesehatan siswa, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Bahkan, di beberapa kasus, asap karhutla sampai melintasi batas negara, seperti yang terjadi di Manila, Filipina, akibat asap dari kebakaran lahan di Kalimantan, yang menyebabkan sekolah diliburkan dan warga diimbau memakai masker. Di Malaysia pun, 108 sekolah di Serawak terpaksa ditutup karena dampak asap dari kebakaran di Kalimantan.

Melihat situasi ini, penting bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Pencegahan kebakaran lahan harus menjadi prioritas utama. Musim kemarau yang membawa suhu panas tinggi dan lahan yang kering merupakan kombinasi berbahaya yang mempermudah terjadinya bencana kebakaran. Keterlibatan aktif dari pemerintah desa dan kelurahan dalam melakukan pemantauan dan pengawasan wilayah yang rawan kebakaran sangat diperlukan. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan, yang seringkali menjadi pemicu awal kebakaran, juga krusial.

Kebakaran lahan di Larantuka ini, meskipun skala kecil, memberikan pelajaran berharga. Asapnya yang pekat bukan hanya mengganggu penglihatan, tetapi juga mengusik ketenangan aktivitas sehari-hari, termasuk di dunia pendidikan. Semoga kejadian ini menjadi momentum untuk meningkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan agar Larantuka dan wilayah lainnya terhindar dari ancaman serupa di masa mendatang. Kita tidak ingin anak-anak kita kehilangan jam belajar berharga hanya karena asap yang seharusnya bisa dihindari.

Source: https://news.detik.com/bali/d-6297613/kebakaran-lahan-di-larantuka-asap-pekat-ganggu-aktivitas-sekolah



#Kebakaran Lahan #Larantuka #Pendidikan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama