BUGALIMA - Ada kabar gembira dari ujung timur Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Flores Timur. Setelah bertahun-tahun bergulat dengan masalah ketidakcukupan konsumsi pangan, kini ada sinyal positif yang patut kita syukuri. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa prevalensi ketidakcukupan pangan di Flores Timur mengalami penurunan signifikan. Dalam lima tahun terakhir, angka ini susut sebesar 3,25%, sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah berbagai tantangan yang ada.
Angka ini, jika dirinci lebih lanjut, menunjukkan bahwa pada tahun 2025, prevalensi ketidakcukupan pangan (Prevalence of Undernourishment/PoU) di Flores Timur tercatat sebesar 12,58%. Angka ini merupakan penurunan sebesar 0,87% dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 13,45% pada tahun 2024. Mari kita bedah lebih dalam apa arti angka ini dan bagaimana pencapaian ini bisa diraih.
| Sumber: Pixabay |
Memahami Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan
Sebelum melangkah lebih jauh, penting bagi kita untuk memahami apa yang dimaksud dengan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan atau PoU. Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU adalah suatu kondisi di mana seseorang secara reguler mengonsumsi jumlah makanan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi yang dibutuhkan untuk hidup normal, aktif, dan sehat. Indikator ini sangat penting karena menjadi alat ukur untuk melihat kondisi kerawanan pangan dan gizi di suatu wilayah. Dengan kata lain, angka 12,58% pada tahun 2025 berarti tidak sampai 12,58% dari total penduduk Flores Timur yang mengalami kondisi di mana asupan makanan mereka tidak mencukupi kebutuhan energi harian.
Perbandingan dengan Nasional dan Daerah Lain
Menariknya, meskipun angka PoU di Flores Timur telah menunjukkan tren penurunan, angka tersebut masih tergolong lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata PoU nasional pada tahun 2025, yang sebesar 7,89%. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan untuk mencapai ketahanan pangan yang merata di seluruh Indonesia.
Jika dibandingkan dengan 21 kabupaten/kota lain di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Flores Timur berada di urutan ke-13 dalam hal PoU pada tahun 2025. Wilayah dengan PoU terendah di NTT pada tahun itu adalah Kabupaten Sumba Timur (8,96%), sementara Kabupaten Kupang memiliki PoU tertinggi (13,85%). Ini menunjukkan bahwa ada disparitas yang cukup signifikan dalam tingkat ketahanan pangan antar wilayah di NTT.
Tantangan dan Upaya Perbaikan
Penurunan angka PoU di Flores Timur bukanlah sebuah kebetulan. Di balik angka positif ini, terdapat berbagai upaya yang telah dan terus dilakukan oleh pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait. Salah satu upaya yang gencar dilakukan adalah pengembangan pangan lokal. Di berbagai kampung di Flores Timur, kelompok perempuan aktif membudidayakan pangan dan benih-benih lokal. Mereka menyadari bahwa ketergantungan pada beras, yang sering kali harus didatangkan dari luar daerah, membuat masyarakat rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan.
Pemerintah Desa Hokeng Jaya, misalnya, menganggarkan dana untuk membagikan bibit sayuran dan polybag secara gratis kepada keluarga agar dapat ditanam di pekarangan rumah. Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan pangan bergizi di tingkat keluarga, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya diversifikasi pangan. Sayuran yang ditanam meliputi bayam, kacang panjang, buncis, kangkung, sawi, terung, dan mentimun. Inisiatif seperti ini sangat penting untuk membangun kemandirian pangan di tingkat akar rumput.
Selain itu, pengembangan komoditas lokal seperti sorgum, jagung, dan kelor juga menjadi fokus utama untuk memperkuat ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur, termasuk di Flores Timur. Sorgum, khususnya, dikenal sebagai tanaman yang cocok ditanam di lahan kering dan lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, menjadikannya alternatif yang menjanjikan di tengah perubahan iklim. Maria Loretha, yang dikenal sebagai "mama sorgum", telah berperan penting dalam mendampingi petani di delapan kabupaten, termasuk Flores Timur, dalam budidaya sorgum.
Namun, perjalanan menuju ketahanan pangan yang sepenuhnya belum berakhir. Masih ada tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan air bersih, serangan hama, hingga akses pasar yang terbatas bagi produk pangan lokal. Produktivitas lahan pertanian di Flores Timur juga masih menjadi pekerjaan rumah, dengan rata-rata hasil panen padi yang masih di bawah standar nasional. Distribusi pupuk subsidi yang belum merata dan minimnya dukungan teknis bagi petani juga menjadi kendala.
Harapan ke Depan
Penurunan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Flores Timur adalah bukti nyata bahwa dengan komitmen dan kerja keras, perubahan positif dapat dicapai. Ini menjadi momentum untuk terus memperkuat upaya-upaya yang sudah berjalan dan mencari solusi inovatif untuk mengatasi tantangan yang tersisa. Pemerintah daerah perlu terus mendorong ekosistem produksi dan distribusi yang berpihak pada petani lokal, mulai dari penyediaan bibit unggul, pelatihan teknik pertanian modern, hingga penyerapan hasil panen dengan harga yang layak.
Masyarakat juga memegang peranan penting dalam perubahan pola konsumsi, dengan lebih mengutamakan pangan lokal yang bergizi dan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa Flores Timur, dan daerah-daerah lain yang masih bergulat dengan ketidakcukupan pangan, dapat mencapai kedaulatan pangan yang sesungguhnya. Perjalanan ini mungkin masih panjang, tetapi langkah kecil yang telah diambil menunjukkan arah yang benar menuju masa depan yang lebih baik, di mana setiap penduduk dapat menikmati pangan yang cukup, bergizi, dan sehat.
#Ketidakcukupan Pangan #Flores Timur #Ketahanan Pangan