Proyek Fisik Flores Timur 2025 Gagal Total? Daftar Belasan Proyek Mangkrak dan Bikin Geram!

BUGALIMA - Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara (NTT), kembali dihadapkan pada masalah klasik proyek fisik yang berantakan. Tahun anggaran 2025 ini, setidaknya ada 15 proyek fisik yang dilaporkan mangkrak, terbengkalai, atau menunjukkan progres yang jauh dari harapan. Anggaran miliaran rupiah terancam menguap tanpa hasil yang jelas, menimbulkan kekecewaan mendalam bagi masyarakat yang telah menanti realisasi pembangunan.

Proyek Mangkrak: Catatan Buram Pembangunan Flores Timur

Kondisi ini bukan hal baru di Flores Timur. Setiap tahun, hampir selalu ada saja laporan mengenai proyek yang tidak selesai tepat waktu, bahkan ada yang terbengkalai begitu saja. Tahun 2025 ini, sorotan tajam tertuju pada daftar panjang proyek yang gagal total. Mulai dari proyek rabat beton yang hanya mencapai 27,8 persen progres fisik hingga pembangunan kampung nelayan yang desainnya dirombak tiga kali.

Rabat Beton di Lamanabi-Latonliwo 1: Anggaran Rp11 Miliar Terancam Lenyap

Salah satu proyek yang paling disorot adalah proyek rabat beton di ruas jalan Lamanabi-Latonliwo 1, senilai Rp10,92 miliar. Proyek yang dikerjakan oleh CV Valentine ini seharusnya selesai pada 24 Desember 2025, namun hingga kontrak berakhir, progres fisiknya hanya mencapai 27,8 persen. Bahkan, masa kontrak sempat diperpanjang hingga April 2026, namun kontraktor tetap tidak sanggup melanjutkan pekerjaan. Dugaan rekayasa dalam proses lelang pun mencuat, dengan keterlibatan Unit Layanan Pengadaan (ULP) dan seorang pejabat yang diduga mengarahkan pemenang tender. Polda NTT pun telah turun tangan untuk memeriksa proyek yang diduga mangkrak ini.

Kampung Nelayan Terpadu: Desain Berubah Tiga Kali, Progres Mandek

Proyek pembangunan Kampung Nelayan Terpadu di Flores Timur juga menjadi sorotan. Progres fisiknya masih jauh dari target, bahkan desain bangunan telah dirombak hingga tiga kali tanpa peninjauan langsung ke lapangan. Hal ini menyebabkan terbitnya beberapa Contract Change Order (CCO) dan menyulitkan penyelesaian proyek. Pengawas proyek mengeluhkan material yang tidak sesuai spesifikasi teknis, seperti seng yang didatangkan kontraktor. Data pengawasan per 17 Desember 2025 menunjukkan progres fisik baru 60,83 persen, namun review independen menemukan angka yang jauh lebih rendah.

Proyek 100 Hari Kerja: Realisasi Jauh dari Harapan

Sejumlah paket proyek fisik yang masuk dalam program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur juga banyak yang belum rampung. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Flores Timur menangani 17 paket, namun hanya 8 paket yang selesai Provisional Hand Over (PHO), 7 paket masih dalam pengerjaan, dan 2 paket dibatalkan. Beberapa proyek yang masih dalam proses pengerjaan antara lain pemugaran Taman Herman Fernandez dan pembangunan gapura selamat datang.

Akar Masalah: Perencanaan Buruk dan Pengawasan Lemah

Berbagai masalah yang terjadi menunjukkan adanya kelemahan dalam perencanaan dan pengawasan proyek fisik di Flores Timur.

Perencanaan yang Tidak Matang

Perubahan desain yang berulang kali, seperti pada proyek kampung nelayan, mengindikasikan perencanaan awal yang tidak matang dan kurang mempertimbangkan kondisi riil di lapangan. Hal serupa juga terjadi pada proyek rabat beton, di mana progres fisik yang sangat rendah menunjukkan ketidaksesuaian antara rencana awal dan realisasi.

Pengawasan yang Kurang Ketat

Minimnya progres fisik dan banyaknya proyek yang mangkrak juga menyoroti lemahnya sistem pengawasan. Organisasi seperti Aliansi Rakyat Anti Korupsi (Araksi) NTT mendesak audit menyeluruh terhadap proyek-proyek yang bermasalah. Mereka mempertanyakan apakah keterlambatan disebabkan oleh faktor teknis seperti cuaca ekstrem atau adanya faktor manajerial yang lain.

Dampak Bagi Masyarakat

Kegagalan proyek-proyek fisik ini berdampak langsung pada masyarakat Flores Timur. Pembangunan infrastruktur yang tertunda atau terbengkalai berarti hilangnya akses terhadap fasilitas yang memadai, terhambatnya roda perekonomian, dan pada akhirnya menurunkan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur diharapkan segera mengevaluasi secara menyeluruh penyebab kegagalan proyek-proyek ini dan mengambil langkah perbaikan yang tegas. Transparansi dalam setiap tahapan proyek, mulai dari perencanaan, lelang, hingga pelaksanaan, mutlak diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan publik dan memastikan anggaran negara benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Source: ntt-express.com



#ProyekFisikFloresTimur #PembangunanMangkrakNTT #AnggaranGagal

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama