Koramil Adonara Gelar Trauma Healing Pasca Gempa Flores Timur: Memulihkan Jiwa yang Terluka

BUGALIMA - Bencana alam, khususnya gempa bumi, kerap kali meninggalkan luka yang tak kasat mata. Di samping kerusakan fisik yang nyata terlihat, dampak psikologis berupa trauma kerap kali menghantui para penyintas. Di tengah situasi sulit pascagempa di Flores Timur, jajaran Koramil Adonara mengambil peran penting untuk memulihkan trauma tersebut, terutama pada anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan. Kehadiran mereka di tengah masyarakat bukan hanya sekadar memberikan bantuan fisik, tetapi juga sentuhan penyembuhan bagi jiwa-jiwa yang terguncang.

Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Flores Timur pada awal April 2026, tepatnya pada Kamis, 9 April 2026, menyisakan cerita pilu. Guncangan berkekuatan magnitudo 4,7 yang berpusat di laut sekitar 21 kilometer tenggara Kota Larantuka dengan kedalaman 5 kilometer, memang tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, dampak kerusakannya cukup signifikan. Ratusan rumah warga di Kecamatan Adonara Timur mengalami kerusakan, mulai dari rusak berat hingga ringan. Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya menjadi wilayah yang paling terdampak, dengan ratusan rumah yang rusak. Selain itu, fasilitas umum seperti SPBU dan masjid pun turut mengalami kerusakan.

Sumber: Pixabay

Menyikapi kondisi tersebut, aparat TNI dari Koramil Adonara, di bawah Komando Kodim 1642 Flores Timur, bergerak cepat memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. Tindakan mereka tidak hanya sebatas mendirikan tenda darurat dan menyalurkan bantuan logistik seperti tenda, terpal, dan kasur. Lebih dari itu, mereka menyadari bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal fisik, melainkan juga mental dan psikologis.

Peran Krusial Trauma Healing

Pengalaman menghadapi gempa bumi, menyaksikan kehancuran, dan kehilangan tempat tinggal dapat menimbulkan trauma mendalam. Anak-anak, dengan kerentanan mereka, seringkali menjadi yang paling terdampak secara psikologis. Mereka bisa mengalami ketakutan yang berlebihan, kesulitan tidur, kecemasan, hingga *flashback* kejadian gempa. Menyadari hal ini, Koramil Adonara, bersama dengan Tim Trauma Healing Polwan Polres Flores Timur, turun langsung ke lokasi pengungsian.

Tim trauma healing ini hadir untuk memberikan dukungan emosional dan psikologis kepada anak-anak yang menjadi korban gempa. Melalui berbagai metode yang edukatif dan menyenangkan, mereka berupaya membantu anak-anak mengekspresikan perasaan mereka, mengurangi kecemasan, dan mengembalikan rasa aman. Pendekatan seperti bermain, bercerita, atau aktivitas seni kerap digunakan untuk menciptakan suasana yang nyaman dan tidak mengintimidasi.

Kepala Polres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, S.I.K., menekankan pentingnya penanganan trauma ini. "Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan mengalami trauma pasca gempa. Karena itu kami menurunkan tim Polwan untuk memberikan trauma healing di lokasi pengungsian agar mereka merasa lebih tenang dan aman," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen aparat keamanan dalam memberikan penanganan yang holistik bagi para penyintas bencana.

Mengembalikan Senyum di Tengah Keterpurukan

Upaya pemulihan trauma yang dijalankan oleh Koramil Adonara dan tim gabungan lainnya bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah langkah nyata untuk mengembalikan senyum dan keceriaan anak-anak yang sempat hilang. Di tengah kondisi serba terbatas, kehadiran mereka memberikan harapan dan kekuatan bagi masyarakat untuk bangkit kembali.

Proses trauma healing ini bertujuan untuk memulihkan kondisi psikologis anak-anak pascabencana, mengurangi gejala stres pasca-trauma (PTSD), serta meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan interaksi yang positif dan suportif, anak-anak diajak untuk kembali berani berbicara tentang perasaan mereka, menghadapi ketakutan, dan membangun kembali kepercayaan diri.

Selain trauma healing, upaya penanganan darurat lainnya juga terus dilakukan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur bersama tim gabungan dari TNI, Polri, dan pemerintah daerah bergerak cepat mendistribusikan logistik, melakukan pendataan, dan memastikan situasi keamanan tetap terjaga. Bantuan berupa tenda, terpal, kasur, serta kebutuhan dasar lainnya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi.

Jarak Gempa 14 Desember 2021 dan Gempa April 2026

Penting untuk dicatat bahwa gempa yang terjadi pada April 2026 ini berbeda dengan gempa besar yang pernah melanda Flores Timur pada 14 Desember 2021. Gempa Desember 2021 itu memiliki magnitudo 7,4 dan berpusat di Laut Flores, menimbulkan dampak yang jauh lebih luas, termasuk peringatan tsunami. Gempa yang baru saja terjadi di Adonara Timur, meskipun cukup merusak, memiliki magnitudo yang lebih kecil dan dampaknya terkonsentrasi di area yang lebih spesifik. Namun, trauma yang ditimbulkan, terutama bagi anak-anak, tetap memerlukan perhatian serius.

Belajar dari Pengalaman Bencana

Pengalaman gempa bumi di Flores Timur, baik yang terjadi pada Desember 2021 maupun April 2026, menjadi pengingat penting akan kerentanan wilayah ini terhadap bencana alam. Upaya pemulihan pascabencana haruslah komprehensif, mencakup penanganan fisik, psikologis, dan sosial. Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, relawan, hingga masyarakat, sangat krusial dalam proses pemulihan ini.

Program seperti trauma healing yang dijalankan oleh Koramil Adonara dan Polwan Polres Flores Timur adalah contoh nyata bagaimana kepedulian dan tindakan nyata dapat memberikan perbedaan besar bagi penyintas bencana. Dengan memberikan dukungan emosional dan psikologis, mereka tidak hanya membantu memulihkan luka batin, tetapi juga menumbuhkan kembali harapan dan kekuatan bagi masyarakat Flores Timur untuk membangun kembali kehidupan yang lebih baik.

Source: https://jambi.antaranews.com/berita/3521716/koramil-adonara-jalankan-pemulihan-trauma-pascagempa-di-flores-timur



#Trauma Healing #Gempa Flores Timur #Koramil Adonara

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama