BUGALIMA - Tanah Larantuka dan sekitarnya kembali bergetar. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 yang melanda Flores Timur pada Rabu (8/4/2026) malam, tepatnya pukul 23.17:47 WIB atau Kamis (9/4) dinihari pukul 00.17:47 WITA, meninggalkan jejak nestapa. Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka, mencari tempat berlindung yang aman dari ancaman gempa susulan yang tak kunjung henti. Hingga Sabtu, 11 April 2026, data sementara mencatat sedikitnya 1.131 orang telah mengungsi, sebuah angka yang memilukan dan menunjukkan betapa dahsyatnya dampak bencana ini.
Gempa yang berpusat di darat, sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka dengan kedalaman hanya lima kilometer, terasa cukup kuat selama dua hingga empat detik. Getaran yang singkat namun intens ini cukup untuk merobohkan ratusan bangunan dan memicu kepanikan massal. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur mencatat ratusan bangunan, baik rumah warga maupun fasilitas umum, mengalami kerusakan. Data terbaru menyebutkan 238 unit rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga berat, bahkan tiga rumah ibadah, empat fasilitas pendidikan, dan dua fasilitas umum juga tak luput dari amukan gempa.
| Sumber: Pixabay |
Kerusakan terparah terjadi di delapan desa yang tersebar di dua kecamatan. Di Kecamatan Adonara Timur, enam desa terdampak, yaitu Desa Terong, Lamahala Jaya, Dawa Taa, Karing Lamalouk, Kelurahan Waiwerang, dan Desa Ipi Ebang. Sementara di Kecamatan Solor Timur, dua desa yang terdampak adalah Desa Moton Wutun dan Desa Wato Buku. Desa Terong menjadi desa yang paling parah hancur, dengan 110 rumah warga rusak berat dan tiga fasilitas umum, termasuk mushola, Polindes, dan sekolah dasar, ikut rata dengan tanah. Di desa ini, tercatat 147 kepala keluarga atau 621 jiwa harus kehilangan tempat tinggal, dan 17 orang mengalami luka ringan.
Di Desa Lamahala Jaya, 104 rumah warga rusak, berdampak pada 104 kepala keluarga atau 544 jiwa. Kerusakan juga melanda fasilitas umum di desa ini, seperti satu mushola, satu masjid, dan dua sekolah. Satu orang dilaporkan mengalami luka ringan. Sementara itu, di Desa Dawa Taa, enam rumah warga rusak, menimpa 6 kepala keluarga atau 31 jiwa. Di Desa Karing Lamalouk, satu rumah warga rusak, berdampak pada 1 kepala keluarga atau 4 jiwa.
Kondisi di Kecamatan Solor Timur tidak kalah memprihatinkan. Di Desa Moton Wutun, 10 rumah warga rusak, memaksa 10 kepala keluarga atau 55 jiwa mengungsi. Di Desa Wato Buku, delapan rumah rusak, membuat 8 kepala keluarga atau 32 jiwa harus meninggalkan rumah mereka. Total, tercatat 257 unit rumah warga mengalami kerusakan, dan lebih dari seribu jiwa terpaksa mengungsi. Angka pengungsi mandiri tercatat mencapai 285 keluarga atau 1.313 jiwa.
Gempa bumi susulan terus terjadi, menambah rasa cemas warga yang telah kehilangan harta benda dan tempat tinggal. BMKG mencatat adanya 48 aktivitas gempa bumi susulan, bahkan ada yang terjadi hampir setiap 10 menit sekali. Hal ini membuat warga enggan kembali ke rumah mereka, meskipun beberapa memilih mendirikan tenda mandiri di dekat reruntuhan bangunan.
Situasi darurat ini menuntut perhatian serius dari pemerintah dan berbagai pihak. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, serta dinas teknis terkait, bahu-membahu dalam penanganan kedaruratan. Mereka fokus pada pendistribusian logistik, pendataan korban, pemasangan tenda, serta memastikan keamanan dan kesehatan para pengungsi. BPBD telah mendirikan tenda pengungsi dan tenda keluarga di lokasi yang mudah dijangkau dan aman dari potensi bencana susulan. Tenda-tenda ini juga dimanfaatkan sebagai pos layanan kesehatan dan posko darurat sementara.
Namun, upaya penanganan ini dihadapkan pada keterbatasan personel. Hanya 35 personel dari BPBD yang disiagakan, dibantu 27 personel dari TNI/Polri. Meskipun demikian, mereka terus berupaya memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi. Kebutuhan utama yang sangat dibutuhkan saat ini adalah air bersih, perlengkapan mandi dan cuci, sembako, terpal, tikar, perlengkapan bayi dan balita, kasur lipat, kursi roda, dan popok dewasa.
Kisah pilu dari Flores Timur ini mengingatkan kita akan kerapuhan hidup manusia di hadapan bencana alam. Di balik data angka pengungsi dan kerusakan bangunan, tersimpan cerita tentang kehilangan, ketakutan, dan perjuangan untuk bertahan hidup. Pemerintah perlu terus hadir, tidak hanya dalam penanganan darurat, tetapi juga dalam upaya pemulihan jangka panjang, agar warga Flores Timur dapat kembali bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka yang lebih baik. Bantuan dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk meringankan beban mereka yang sedang tertimpa musibah.
Source: MetroTVNews.com
#Gempa Flores Timur #Pengungsi Gempa #Bencana Alam NTT