Gempa Flores Timur: Ratusan Bangunan Rusak Akibat 99 Kali Gempa Susulan, BMKG Catat Kerusakan di Adonara Timur

BUGALIMA - Keresahan melanda Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah serangkaian gempa bumi mengguncang wilayah tersebut sejak Rabu, 8 April 2026. Pusat data, informasi, dan komunikasi kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya 215 rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan bervariasi. Tidak hanya itu, lebih dari seribu jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari tempat yang lebih aman, mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat atau mendirikan tenda darurat di lokasi yang dianggap lebih aman.

Gempa utama yang terjadi pada Rabu malam itu, tepatnya pukul 23.12 WIB dengan magnitudo 4,7, telah memicu kepanikan warga. Namun, ketakutan warga tidak berhenti di situ. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya 99 kali gempa susulan atau *aftershock* hingga Sabtu, 11 April 2026, pukul 13.40 Wita. Aktivitas seismik yang intens ini menambah kekhawatiran masyarakat dan meningkatkan potensi kerusakan lebih lanjut.

Sumber: Pixabay

Kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di sejumlah desa, terutama di Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara. Desa Terong menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, dengan 134 unit rumah dilaporkan rusak. Selain rumah warga, dua fasilitas umum di desa ini juga mengalami kerusakan. Di Desa Lamahala Jaya, 70 unit rumah rusak, bersama dengan 14 fasilitas umum. Desa Dawataa melaporkan enam unit rumah rusak, Desa Karing Lamalouk satu unit rumah rusak, dan Desa Motonwutun mengalami kerusakan pada empat unit rumah serta dua fasilitas umum. Total kerugian materiil ini masih terus didata oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur bersama tim gabungan.

Gempa Susulan, Potensi Ancaman Nyata

Fenomena gempa susulan yang mencapai 99 kali ini menjadi perhatian serius. Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa banyaknya gempa susulan merupakan hal yang lumrah terjadi setelah gempa utama, terutama jika energi yang terakumulasi cukup besar dan jarak tempuh getaran relatif dekat dengan pusat gempa. "Semakin besar energi yang terkumpul-lepas dan juga jarak tempuh yang terbilang dekat menimbulkan dampak kerusakan yang besar," ungkap Arief. Ia menambahkan bahwa lokasi episenter yang tidak terlalu jauh dari pemukiman warga menjadi salah satu faktor mengapa getaran gempa sering dirasakan begitu nyata.

Gempa bumi yang terjadi di Flores Timur ini merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Posisi geografis Flores Timur yang berada di jalur "Cincin Api" Pasifik memang menjadikan wilayah ini rentan terhadap aktivitas seismik. Sejarah mencatat bahwa kawasan ini kerap dilanda gempa bumi, termasuk gempa bumi Laut Flores pada tahun 2021 yang berkekuatan magnitudo 7.4 dan sempat memicu peringatan dini tsunami, menyebabkan ratusan rumah rusak.

Upaya Penanganan dan Bantuan Darurat

Menanggapi situasi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses penanganan bencana, termasuk pembangunan posko dan dapur umum, serta memastikan distribusi bantuan berjalan optimal. Tim gabungan dari BPBD, Taruna Siaga Bencana (TAGANA), TNI, dan Polri telah dikerahkan untuk menyalurkan bantuan darurat seperti tenda, terpal, dan kasur, mengingat banyak warga yang terpaksa tidur di luar rumah.

Meskipun demikian, warga terdampak memilih untuk mengungsi secara mandiri. Hingga Sabtu (11/4/2026), tidak ada lokasi pengungsian terpusat. Sebanyak 285 Kepala Keluarga (KK) atau 1.313 jiwa memilih mendirikan tenda mandiri di dekat rumah mereka demi keamanan dan kenyamanan. Pemkab Flores Timur juga aktif dalam menyebarkan informasi keselamatan melalui kanal resmi BPBD dan grup WhatsApp "Salam Tangguh", serta mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik.

Dampak Psikologis dan Kesiapsiagaan Jangka Panjang

Selain kerusakan fisik dan kebutuhan logistik, gempa yang beruntun ini juga menimbulkan dampak psikologis bagi masyarakat Flores Timur. Ketakutan akan gempa susulan yang terus menerus terjadi dapat menimbulkan kecemasan dan trauma. Oleh karena itu, selain penanganan darurat, upaya kesiapsiagaan jangka panjang juga menjadi krusial. Peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana, sosialisasi mitigasi bencana yang lebih masif, serta pembangunan infrastruktur yang lebih tahan gempa menjadi agenda penting ke depan.

Pemerintah daerah terus berupaya memulihkan kondisi dan memberikan dukungan kepada warga terdampak. Pendataan kerusakan yang lebih rinci terus dilakukan, dan bantuan logistik yang mendesak terus disalurkan. Harapannya, dengan kerja sama semua pihak, Flores Timur dapat segera bangkit dari bencana ini dan memperkuat ketahanan wilayahnya terhadap ancaman gempa bumi di masa mendatang.

Source: https://regional.kompas.com/read/2026/04/11/134000077/gempa-flores-timur-bangunan-di-adonara-timur-dilaporkan-rusak-bmkg-catat-99-kali-susulan



#Gempa Flores Timur #Adonara Timur #Gempa Susulan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama