BUGALIMA - Gempa bumi, sebuah fenomena alam yang tak terduga, kerap kali meninggalkan luka yang mendalam, bukan hanya pada bangunan fisik, namun juga pada jiwa manusia, terutama anak-anak. Di Kabupaten Flores Timur, pasca serangkaian gempa yang mengguncang, tim dari Koramil Adonara bersama Persit Kartika Chandra Kirana Ranting III Ramil Adonara Kodim 1624/Flotim menunjukkan kepedulian luar biasa. Mereka tidak hanya hadir sebagai garda terdepan dalam penanganan bencana, namun juga sebagai penyembuh luka batin melalui kegiatan pemulihan trauma atau trauma healing.
Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Lamahala Jaya dan Desa Terong, Kecamatan Adonara Timur, ini merupakan manifestasi nyata dari peran TNI dalam membantu masyarakat melewati masa sulit pascabencana. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 yang terjadi pada Kamis (9/4/2026) dini hari, telah menyebabkan kepanikan dan kerusakan yang cukup parah. Ratusan rumah dilaporkan rusak, bahkan ada fasilitas umum seperti sekolah dan rumah ibadah yang turut terdampak. Dalam situasi seperti ini, dampak psikologis, terutama trauma pada anak-anak, menjadi perhatian serius.
| Sumber: Pixabay |
Pentingnya Trauma Healing bagi Anak
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan mengalami trauma pascagempa. Mereka kerap kali sulit memahami apa yang terjadi, dan rasa takut serta kecemasan bisa membekas dalam waktu lama jika tidak ditangani dengan baik. Kehadiran anggota TNI, khususnya Babinsa, bersama ibu-ibu Persit, di tengah pengungsian bukan sekadar memberikan bantuan logistik, tetapi lebih dari itu, mereka hadir untuk menghapus air mata dan menggantinya dengan senyuman. Melalui pendekatan yang humanis, mereka mengajak anak-anak bermain, bernyanyi, dan melakukan berbagai kegiatan edukatif yang menyenangkan. Tujuannya sederhana: mengembalikan keceriaan anak-anak, membuat mereka merasa aman, dan perlahan melupakan pengalaman menakutkan yang baru saja mereka alami.
Peran TNI dalam Penanggulangan Bencana: Lebih dari Sekadar Fisik
Peran Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam penanggulangan bencana alam di Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Sejak lama, TNI hadir di setiap lini bencana, mulai dari evakuasi korban, pendistribusian logistik, perbaikan infrastruktur darurat, hingga pemulihan psikologis masyarakat. Dalam kasus gempa Flores Timur ini, Koramil Adonara menunjukkan bahwa peran mereka melampaui tugas-tugas fisik semata. Mereka memahami bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya tentang membangun kembali rumah yang roboh, tetapi juga tentang membangun kembali harapan dan ketahanan mental masyarakat.
Komandan Kodim 1624/Flotim, Letkol Inf Erly Merlian, S.I.P., menegaskan bahwa kegiatan trauma healing ini adalah bagian integral dari tugas kemanusiaan TNI dalam tahap rehabilitasi pascabencana. "Kami hadir tidak hanya untuk membantu secara fisik, tetapi juga memastikan kondisi psikologis masyarakat, khususnya anak-anak, tetap terjaga. Kami ingin mereka kembali merasa aman dan bahagia. Senyum mereka adalah harapan bagi masa depan," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen TNI untuk memberikan dukungan menyeluruh, memastikan bahwa korban bencana tidak hanya mendapatkan bantuan materiil, tetapi juga dukungan emosional dan psikologis yang sangat dibutuhkan.
Sinergi Antarlembaga untuk Pemulihan Menyeluruh
Keberhasilan penanganan pascagempa di Flores Timur tidak lepas dari sinergi yang terjalin antara berbagai pihak. Selain Koramil Adonara, Kepolisian Resor (Polres) Flores Timur juga aktif dalam upaya pemulihan psikologis. Tim Polwan Polres Flores Timur turut memberikan dukungan trauma healing kepada anak-anak, menunjukkan kolaborasi yang solid antara TNI dan Polri dalam menghadapi bencana. Pendekatan yang dilakukan oleh Polwan, misalnya, melalui permainan edukatif dan pendekatan komunikasi yang hangat, berhasil menciptakan suasana ceria dan aman di tenda-tenda pengungsian.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur juga berperan penting dalam mendistribusikan logistik dan melakukan asesmen cepat. Meskipun menghadapi tantangan akibat gempa susulan dan keterbatasan sumber daya, BPBD terus berupaya memenuhi kebutuhan mendesak warga, termasuk tenda, bahan pangan, dan dukungan psikologis. Kehadiran berbagai elemen masyarakat, seperti Persit Kartika Chandra Kirana, juga memperkuat upaya gotong royong yang menjadi kunci dalam pemulihan pascabencana.
Harapan di Tengah Keterpurukan
Gempa bumi memang meninggalkan trauma, dan kekhawatiran akan gempa susulan membuat sebagian warga masih memilih bertahan di tenda pengungsian. Namun, di tengah situasi yang penuh tantangan ini, upaya pemulihan trauma yang dilakukan oleh Koramil Adonara dan berbagai pihak lainnya memberikan secercah harapan. Senyum anak-anak yang kembali terlihat, tawa mereka yang terdengar lagi, adalah bukti bahwa luka batin bisa disembuhkan. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap bencana, selalu ada kekuatan untuk bangkit, saling menguatkan, dan membangun kembali kehidupan yang lebih baik. Kehadiran personel TNI, seperti yang dilakukan oleh Koramil Adonara, bukan hanya sekadar menjalankan tugas, tetapi sebuah bentuk pengabdian kemanusiaan yang tulus, menyentuh hati, dan membawa harapan bagi masa depan Flores Timur.
#Gempa Flores Timur #Trauma Healing #TNI AD