Trauma Gempa Flores Timur: Warga Pilih Tidur di Tenda Demi Keamanan

BUGALIMA - Peristiwa gempa bumi yang mengguncang Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara Timur (NTT), meninggalkan luka mendalam, bukan hanya pada fisik bangunan, tetapi juga pada psikologis warganya. Hingga kini, banyak korban gempa yang masih memilih untuk tidur di tenda darurat. Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan buah dari trauma yang belum terobati dan kekhawatiran akan terjadinya gempa susulan yang terus menghantui.

Gempa bermagnitudo 4,7 yang terjadi pada Jumat, 9 April 2026 lalu, memang terbilang cukup kuat hingga merusak ratusan rumah warga di dua desa, yakni Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur. Kerusakan ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga menciptakan rasa was-was yang mendalam bagi para penghuninya. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, Maria Goretty Nebo Tukan, menyatakan bahwa warga masih merasa trauma, sehingga banyak yang memilih tidur di luar rumah dengan mendirikan tenda.

Sumber: Pixabay

Ketakutan Akan Gempa Susulan

Kekhawatiran akan gempa susulan memang menjadi alasan utama mengapa warga enggan kembali ke rumah mereka. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa hingga Kamis malam, terdapat 74 kali gempa susulan (aftershock) yang masih dirasakan oleh warga di Pulau Adonara. Bahkan, hingga hari itu, BMKG masih memantau adanya aktivitas gempa bumi susulan. Frekuensi gempa susulan ini tentu saja menambah rasa cemas dan trauma para korban. Mereka merasa lebih aman berada di tenda darurat yang didirikan di dekat rumah atau bahkan di halaman rumah, daripada harus kembali ke dalam bangunan yang berpotensi roboh kapan saja.

Tenda Darurat: Simbol Keamanan Sementara

Tenda-tenda darurat yang didirikan warga di halaman atau samping rumah menjadi simbol keamanan sementara bagi mereka. BPBD Flores Timur sendiri tidak mendirikan satu tenda khusus untuk pengungsi, melainkan tenda-tenda didirikan di beberapa lokasi yang dekat dengan rumah warga dan dipastikan aman dari potensi bencana susulan. Tenda berukuran 6x12 meter ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat istirahat, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pos layanan kesehatan dan posko darurat sementara. Namun, penting untuk dicatat bahwa hingga saat ini tidak ada lokasi pengungsian terpusat. Warga lebih memilih mendirikan tenda mandiri di dekat kediaman mereka, mungkin untuk tetap dekat dengan lokasi harta benda mereka yang masih tersisa dan juga untuk mempermudah akses jika ada bantuan.

Dampak Psikologis dan Kebutuhan Mendesak

Di balik tenda-tenda sederhana itu, tersimpan trauma mendalam yang dialami warga, terutama anak-anak. Kepanikan saat gempa terjadi, kehilangan tempat tinggal, dan ketidakpastian masa depan tentu meninggalkan bekas yang tak mudah hilang. Polres Flores Timur bahkan menerjunkan tim trauma healing dari Polwan untuk memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi rasa takut dan trauma, serta mengembalikan keceriaan mereka melalui permainan edukatif dan pendekatan yang hangat.

Selain dukungan psikologis, kebutuhan logistik para pengungsi juga menjadi perhatian utama. BPBD Flores Timur terus berupaya mendistribusikan bantuan, namun pengakuan dari Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty Nemo, mengakui adanya keterbatasan distribusi bantuan. Persediaan di gudang bahkan ada yang sudah habis. Kebutuhan mendesak yang dilaporkan meliputi air bersih, perlengkapan mandi dan cuci, sembako, terpal, tikar, perlengkapan bayi dan balita, kasur lipat, kursi roda, hingga pampers dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemulihan pasca-gempa memerlukan perhatian yang komprehensif, tidak hanya pada perbaikan fisik, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan dasar dan pemulihan mental masyarakat.

Upaya Penanganan dan Status Tanggap Darurat

Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama empat bulan, terhitung mulai 9 April hingga 8 Juli 2026. Penetapan ini diharapkan dapat mempercepat penanganan pasca-gempa, termasuk pendistribusian bantuan logistik dan tenda, serta pendataan kerusakan. Upaya pemulihan juga melibatkan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, dan dinas teknis terkait. Pemerintah juga terus mendorong akselerasi rekonstruksi pascabencana.

Namun, tantangan masih ada. Distribusi bantuan yang terbatas dan persediaan yang menipis menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan semua pihak yang terlibat. Dukungan psikologis, seperti yang dilakukan oleh tim trauma healing, juga perlu terus digalakkan. Trauma yang dialami warga Flores Timur adalah luka yang membutuhkan waktu dan penanganan yang tepat untuk pulih.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya sebatas mitigasi fisik, tetapi juga kesiapan mental dan emosional. Peran serta masyarakat, pemerintah, dan berbagai lembaga terkait sangat dibutuhkan untuk membantu warga Flores Timur bangkit dari keterpurukan, memulihkan trauma mereka, dan membangun kembali kehidupan yang lebih aman dan tangguh. Source: https://www.metrotvnews.com/read/bw6C29Od-masih-trauma-korban-gempa-di-flores-timur-pilih-tidur-di-tenda



#Gempa Flores Timur #Trauma Gempa #Tidur di Tenda

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama