BUGALIMA - Keresahan kembali menyelimuti warga Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara (NTT). Gunung Lewotobi Laki-Laki, sang primadona alam yang kerap menunjukkan pesonanya, kini kembali mengamuk. Minggu (26/4/2026), letusan dahsyatnya meluncurkan kolom abu vulkanik setinggi ± 1.800 meter di atas puncak, menebarkan ancaman tak kasat mata ke dua kecamatan di Kabupaten Flores Timur: Wulanggitang dan Ilebura. Hujan abu vulkanik yang turun bagai selimut kelabu ini memaksa warga untuk waspada, terutama saat beraktivitas di luar rumah. Imbauan untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut tak henti digaungkan demi melindungi sistem pernapasan dari ancaman debu vulkanik yang halus namun mematikan.
Status Gunung Lewotobi Laki-Laki saat ini masih berada pada Level II atau Waspada. Namun, jangan salah, tingkat aktivitas gunung ini tercatat sangat tinggi dan cenderung terus meningkat. Kepala Penyelamat Balai Gunung Api, Ghele Radja, menegaskan bahwa erupsi belakangan ini semakin sering terjadi. Pihaknya tak tinggal diam, mengeluarkan rekomendasi tegas: masyarakat, pengunjung, maupun wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas apa pun dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi. Ancaman abu vulkanik saja sudah cukup mengerikan, ditambah lagi potensi banjir lahar hujan yang mengintai di sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung, terutama jika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur.
| Sumber: Pixabay |
Sejarah Erupsi dan Dampaknya yang Mengerikan
Gunung Lewotobi Laki-Laki bukanlah pendatang baru dalam dunia erupsi. Sejarah mencatat berbagai letusannya yang dahsyat. Pada 4 November 2024, misalnya, gunung ini memuntahkan puing-puing lava hingga menghancurkan rumah-rumah warga di desa sekitar radius 4 kilometer. Peristiwa pilu itu merenggut nyawa sedikitnya 10 orang, termasuk satu keluarga yang tertimbun reruntuhan rumah di Desa Klatanlo. Puluhan lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar dalam kondisi berat. Tak hanya itu, pada 23 Desember 2023, letusan Lewotobi Laki-laki memaksa 6.500 orang mengungsi, dan aktivitas erupsi berlanjut hingga Januari 2024.
Dampak abu vulkanik dari erupsi ini bahkan sampai menutup sementara Bandar Udara Internasional Komodo. Di lain waktu, pada 15 Oktober 2025, erupsi dahsyat lainnya melontarkan abu vulkanik setinggi 10.000 meter ke udara, menaikkan status gunung menjadi "Awas". Hujan kerikil dan pasir pun melanda sejumlah kawasan di Flores Timur. Bandara Frans Seda Maumere bahkan sempat ditutup pada 23 April 2026 akibat sebaran abu vulkanik yang mengancam keselamatan penerbangan.
Erupsi yang terjadi pada 17 Juni 2025 bahkan lebih parah, menghamburkan awan abu setinggi sekitar 10.000 meter dan memaksa ribuan penduduk mengungsi. Statusnya pun dinaikkan ke Level IV atau "Awas", dengan zona bahaya diperluas hingga radius 8 kilometer. Erupsi pada 22 April 2026 melontarkan kolom abu setinggi 1,6 kilometer, sementara pada 3 Maret 2026, tercatat dua kali erupsi dengan kolom abu mencapai 1.000 hingga 1.500 meter. Belum lama ini, pada 26 April 2026, letusan kembali terjadi dengan tinggi kolom abu vulkanik ± 1.800 meter.
Potensi Banjir Lahar Hujan dan Kerugian Ekonomi
Ancaman tak berhenti pada abu vulkanik semata. Potensi banjir lahar hujan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat yang bermukim di sekitar sungai yang berhulu di puncak gunung. Khususnya saat musim hujan, akumulasi material vulkanik di lereng gunung bisa longsor dan menimbulkan banjir bandang yang menghanyutkan apa saja. Warga di wilayah seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote selalu diminta waspada terhadap ancaman ini.
Dampak ekonomi dari erupsi ini tak bisa dianggap remeh. Lahan pertanian masyarakat menjadi korban utama. Kerugian materiil untuk tanaman padi dan jagung di Kecamatan Wulanggitang mencapai Rp3,8 miliar, dan di Kecamatan Ilebura berjumlah Rp2,8 miliar. Bahkan, sudah dua musim tanam petani gagal panen dan gagal tanam akibat tertutup abu vulkanik.
Mitigasi dan Peran Kearifan Lokal
Menghadapi keganasan alam, upaya mitigasi terus dilakukan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara konsisten mengeluarkan rekomendasi dan menetapkan status kewaspadaan. Radius aman dari pusat erupsi terus dievaluasi dan diperluas jika diperlukan. BNPB dan kementerian terkait juga berupaya dalam penanganan bencana.
Namun, di tengah teknologi dan mitigasi modern, kearifan lokal tetap memegang peranan penting. Masyarakat Desa Nobo, misalnya, pernah menjalankan ritual adat sebagai bentuk kepercayaan pada leluhur dan pelestarian budaya dalam merespons bencana. Di sisi lain, semangat pantang menyerah terlihat dari warga Desa Boru yang mulai menggarap sawah dan kebun mereka meskipun berada di zona merah.
Penting bagi semua pihak untuk terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan waspada terhadap setiap gejala alam yang muncul. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para ahli adalah kunci untuk meminimalkan dampak bencana gunung berapi di masa depan.
Source: iNews.ID
#Gunung Lewotobi #Erupsi Flores Timur #Abu Vulkanik