BUGALIMA - Alam kembali menunjukkan kekuatannya. Gunung Lewotobi Laki-Laki yang terletak di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan kembali erupsi pada Selasa, 22 April 2026. Kali ini, ketinggian kolom abu vulkanik yang dimuntahkan mencapai kurang lebih 1.500 meter di atas puncak gunung. Kejadian ini menambah daftar panjang aktivitas vulkanik gunung yang cukup aktif ini.
Erupsi tercatat terjadi pada pukul 18.31 Wita (waktu setempat). Ketinggian abu teramati membumbung hingga kurang lebih 1.500 meter dari puncak gunung berapi itu, yang berada pada ketinggian 3.084 meter di atas permukaan laut. Kolom abu yang dikeluarkan berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan teramati condong ke arah barat daya. Insiden ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat sekitar, meskipun belum ada laporan mengenai dampak langsung yang signifikan.
| Sumber: Pixabay |
***
Sejarah Panjang Aktivitas Vulkanik Lewotobi Laki-Laki
Gunung Lewotobi Laki-Laki bukanlah nama baru dalam peta vulkanologi Indonesia. Sejarah panjang aktivitas vulkanik tercatat pernah terjadi pada tahun 1921, 1935, 1970, dan 1991. Karakter letusannya pun bervariasi, mulai dari tipe Strombolian hingga Vulkanian, dan seringkali disertai dengan hujan abu, lontaran material pijar, serta potensi terjadinya awan panas.
Erupsi yang terjadi pada 14 Januari 2024 lalu, tercatat sebagai salah satu periode paling aktif, di mana Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Lewotobi Laki-laki erupsi sebanyak 12 kali hanya dalam waktu enam jam. Kemudian, pada 17 Juni 2025, gunung ini kembali menunjukkan aktivitas eksplosifnya dengan erupsi besar yang ditandai semburan awan panas dan kolom abu vulkanik yang membumbung lebih dari 10 kilometer ke atmosfer, menjadikannya salah satu letusan terkuat pada semester pertama tahun 2025. Aktivitas ini bahkan membuat PVMBG menaikkan status Gunung Lewotobi Laki-laki menjadi Level IV (Awas).
Bahkan, laporan dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 25 April 2025 menyebutkan bahwa dalam delapan hari pemantauan, Gunung Lewotobi Laki-laki mengalami 110 kali letusan dengan ketinggian kolom abu bervariasi antara 500 hingga 3.500 meter. Rata-rata tinggi kolom erupsi mencapai 2.500 hingga 3.000 meter, dengan sinar api yang masih tampak jelas di puncak menandakan adanya material pijar di kedalaman dangkal.
***
Kewaspadaan dan Langkah Mitigasi
Meskipun erupsi kali ini dilaporkan dengan ketinggian kolom abu 1.500 meter, dan belum ada laporan dampak langsung yang signifikan, kewaspadaan tetap menjadi kunci. PVMBG secara rutin memantau aktivitas gunung berapi ini. Petugas Pos Pemantauan Gunung Lewotobi Laki-laki, Emanuel Rofinol Bere, menyatakan bahwa kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat daya.
Dalam kasus erupsi sebelumnya, PVMBG seringkali memberikan peringatan terkait potensi banjir lahar ketika hujan turun di lereng-lereng gunung. Oleh karena itu, masyarakat yang berada di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki, terutama yang bermukim di area yang berpotensi terdampak, dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang. Tindakan antisipatif seperti kesiapan untuk evakuasi, jika diperlukan, harus selalu menjadi prioritas.
Dampak dan Implikasi Lingkungan
Setiap erupsi gunung berapi, sekecil apapun, memiliki implikasi bagi lingkungan sekitarnya. Hujan abu vulkanik dapat mengganggu aktivitas pertanian, mempengaruhi kualitas udara, dan bahkan berdampak pada kesehatan jika terhirup dalam jumlah besar. Lontaran kerikil dan material vulkanik lainnya juga dapat menimbulkan kerusakan.
Meskipun informasi mengenai dampak spesifik dari erupsi 22 April 2026 ini masih terbatas, pengalaman dari erupsi-erupsi sebelumnya menunjukkan perlunya kesiapan dari pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Kesiapan logistik, jalur evakuasi yang jelas, serta edukasi mengenai mitigasi bencana adalah beberapa hal yang perlu terus diperhatikan.
Analisis Tren Aktivitas Vulkanik
Peningkatan frekuensi dan intensitas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa gunung ini masih berada dalam fase aktif. Pemantauan yang berkelanjutan oleh PVMBG sangat krusial untuk mendeteksi perubahan aktivitas dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat.
Perubahan pola kegempaan, seperti yang dilaporkan pada April 2025, di mana penurunan gempa hembusan mengindikasikan tekanan dalam gunung yang lebih kuat, memerlukan analisis mendalam dari para ahli vulkanologi. Hal ini dapat menjadi indikator penting mengenai potensi letusan di masa depan.
Kawasan Flores Timur, sebagai daerah yang sering dilanda aktivitas vulkanik, perlu terus meningkatkan kesiapsiagaan. Kerjasama antara badan penanggulangan bencana, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam upaya mitigasi bencana gunung berapi. Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki ini menjadi pengingat bahwa kita hidup di tengah-tengah alam yang dinamis dan memerlukan kearifan serta kewaspadaan untuk menghadapinya.
Source: VOI.id
#Gunung Lewotobi #Erupsi #Flores Timur