BUGALIMA - Ketenangan di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terusik oleh rentetan ratusan gempa susulan sejak gempa utama yang terjadi pada 9 April 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 134 kali gempa susulan di wilayah tersebut antara tanggal 10 hingga 14 April 2026, pukul 23.17 WIB. Angka ini memang terdengar mengkhawatirkan, namun BMKG melalui Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, memberikan sedikit kelegaan: jumlah gempa susulan tersebut menunjukkan tren penurunan setiap harinya. "Dilihat dari jumlah kejadian gempa bumi susulan yang semakin berkurang setiap hari, menandakan bahwa telah terjadi pengurangan energi dari gempa bumi utama," ujar Arief, Rabu (15/4/2026). Pernyataan ini tentu memberikan sedikit angin segar di tengah kekhawatiran masyarakat yang masih merasakan getaran-getaran susulan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur sendiri telah mengambil langkah sigap dengan menetapkan status tanggap darurat bencana. Status ini berlaku selama tiga bulan, mulai dari 9 April hingga 8 Juli 2026. Keputusan ini diambil sebagai respons cepat terhadap peningkatan aktivitas gempa yang berdampak pada kehidupan warga. Data sementara hingga Selasa (14/4/2026) mencatat dampak yang cukup memprihatinkan: 354 unit rumah mengalami kerusakan, dengan total 403 kepala keluarga atau sekitar 1.939 jiwa terdampak. Bahkan, ada 18 warga yang dilaporkan mengalami luka ringan. Kerusakan tidak hanya menimpa rumah warga, tetapi juga fasilitas umum. Tercatat 15 fasilitas umum ikut rusak, dan bahkan ada laporan mengenai kerusakan pada fasilitas pendidikan seperti madrasah.
| Sumber: Pixabay |
Situasi ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat Flores Timur. Gempa bumi susulan, meskipun biasanya memiliki kekuatan lebih kecil dari gempa utama, tetap berpotensi menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada bangunan yang sudah rapuh, serta memicu ketakutan dan trauma psikologis. Oleh karena itu, himbauan dari BMKG agar masyarakat tidak terpengaruh oleh berita yang tidak memiliki dasar ilmiah kuat terkait potensi gempa besar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan menjadi sangat penting. Kepercayaan pada informasi dari kanal resmi BMKG adalah kunci untuk menjaga ketenangan dan kewaspadaan yang proporsional.
Sejarah Panjang Bencana di Tanah Flores
Flores Timur dan sekitarnya bukanlah wilayah yang asing dengan gempa bumi dahsyat. Sejarah mencatat beberapa kali bencana serupa pernah melanda kawasan ini. Salah satu yang paling diingat adalah gempa dan tsunami Flores pada 12 Desember 1992. Gempa berkekuatan 7,8 magnitudo ini meluluhlantakkan Maumere dan sekitarnya, merusak lebih dari 1.000 bangunan, dan memicu tsunami hebat yang menelan ribuan korban jiwa. Gempa 1992 ini merupakan salah satu gempa paling mematikan di Indonesia pada abad ke-20, dengan perkiraan korban tewas mencapai 2.500 orang dan lebih dari 90.000 orang kehilangan tempat tinggal. Peristiwa ini juga memicu longsor di perbukitan dan likuifaksi di beberapa area, menunjukkan betapa kompleksnya dampak dari gempa berkekuatan besar.
Selain gempa 1992, catatan sejarah juga menyebutkan gempa kuat lainnya di Flores pada tahun 1820 yang juga memicu tsunami. Wilayah Nusa Tenggara, termasuk Flores, memang dikenal sebagai "sarang gempa" karena lokasinya yang berada di Cincin Api Pasifik dan pertemuan lempeng tektonik yang aktif. Sesar Naik Flores, yang juga menjadi penyebab gempa besar di Lombok pada 2018, merupakan salah satu sumber potensi gempa kuat di wilayah ini.
Respons dan Mitigasi Bencana
Menghadapi situasi gempa susulan yang terus terjadi, berbagai upaya penanganan dan mitigasi terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait. Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, mengungkapkan bahwa aparat kepolisian bersama pemerintah daerah terus melakukan penanganan intensif. Sebanyak 44 personel dikerahkan untuk membantu evakuasi, pengamanan, distribusi bantuan logistik, pelayanan kesehatan, trauma healing, hingga pembersihan puing-puing. Sinergi antara TNI, BPBD, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam penanganan bencana ini, mulai dari pendataan korban hingga pemulihan psikologis warga.
Bantuan sosial berupa sembako telah disalurkan, termasuk dari Kapolda NTT. Tenda-tenda pengungsian juga telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan darurat warga. Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, juga turun langsung meninjau korban dan menyalurkan bantuan, serta menekankan pentingnya edukasi pembangunan rumah tahan gempa.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur juga menetapkan status tanggap darurat bencana selama tiga bulan ke depan untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Tim teknis BPBD, Dinas PUPR, dan Dinas Perumahan Flores Timur terus melakukan identifikasi kerusakan rumah.
BMKG secara konsisten mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, tidak panik, dan selalu mengikuti arahan dari petugas di lapangan demi keselamatan bersama. Mempercayai informasi dari sumber resmi seperti BMKG adalah langkah bijak untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu dan menyebarnya hoaks. Keberadaan ratusan gempa susulan ini memang menjadi pengingat akan kekuatan alam yang luar biasa, namun dengan kesiapsiagaan, informasi yang tepat, dan kerjasama yang solid, masyarakat Flores Timur diharapkan dapat melewati masa sulit ini dengan lebih tangguh.
Source: Kompas.com
#Flores Timur #Gempa Susulan #BMKG