Dua Kali Erupsi, Gunung Lewotobi Laki-laki Tetap Siaga: Ancaman Nyata di Nusa Tenggara Timur

BUGALIMA - Langit Flores Timur kembali diselimuti mendung, bukan oleh awan biasa, tapi oleh abu vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki. Pagi ini, Selasa, 2 Juni 2026, gunung yang menjulang gagah di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan amarahnya. Dua kali letusan terjadi, mengirimkan kolom abu hingga ribuan meter ke udara, memaksa status Siaga (Level III) terus dipertahankan. Ini bukan kali pertama, dan sepertinya bukan yang terakhir. Gunung yang dijuluki "kembar" dengan Lewotobi Perempuan ini, kembali mengingatkan kita akan kekuatan alam yang dahsyat dan tak terduga.

Status Siaga ini bukanlah sekadar angka, melainkan peringatan nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana. Ironisnya, banyak dari mereka, para penyintas erupsi sebelumnya, terpaksa kembali ke daerah yang sama karena tekanan ekonomi yang tak kunjung usai. Sebuah dilema pelik antara keselamatan dan kebutuhan hidup yang mendesak. Herman Yosef Mboro, sang penjaga pos pengamatan, melaporkan erupsi pertama terjadi pukul 05.20 Wita dengan kolom abu setinggi 600 meter. Tak lama berselang, pukul 07.47 Wita, letusan kedua menyusul, bahkan lebih dahsyat, dengan kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu kelabu pekat itu bergerak mengarah ke barat daya dan barat, sebuah pemandangan yang tak asing lagi bagi warga setempat.

Sumber: Pixabay

Sejarah mencatat, Gunung Lewotobi Laki-laki bukanlah gunung yang pendiam. Sejak abad ke-17, gunung ini telah mengalami puluhan kali erupsi. Puncak aktivitasnya tercatat pada akhir tahun 2024, di mana statusnya sempat naik menjadi Awas (Level IV) setelah serangkaian letusan dahsyat yang merenggut nyawa dan memaksa ribuan orang mengungsi. Tragedi kelam itu masih membekas, namun kini, statusnya kembali turun menjadi Siaga, sebuah siklus yang terus berulang, menguji ketahanan masyarakat Flores Timur.

Mengapa Lewotobi Laki-laki Begitu Aktif?

Aktivitas vulkanik yang tinggi pada Gunung Lewotobi Laki-laki tidak lepas dari posisinya yang strategis di Cincin Api Pasifik, zona pertemuan lempeng-lempeng tektonik aktif. Struktur geologis ini memungkinkan magma dari dalam perut bumi naik ke permukaan, memicu berbagai fenomena vulkanik. Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, pernah menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas seringkali ditandai dengan lonjakan gempa vulkanik dalam dan tremor. Analisis visual dan instrumental menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan, yang menandakan suplai magma atau fluida magmatik yang cukup kuat menuju sistem gunung api. Ini seperti jantung gunung yang berdetak lebih kencang, memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di bawah sana.

Erupsi Kali Ini: Catatan dan Peringatan

Erupsi pada Selasa pagi ini, 2 Juni 2026, terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 11 milimeter dan durasi sekitar 2 menit 28 detik. Meskipun intensitasnya mungkin tidak separah erupsi di akhir tahun 2024, namun tetap saja ini adalah peringatan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan radius aman sejauh 5 kilometer dari pusat erupsi. Lebih jauh lagi, untuk sektor barat daya hingga barat laut, radius pembatasan ditingkatkan hingga 7-8 kilometer. Ini bukan sekadar angka, melainkan garis batas yang harus dihormati demi keselamatan.

Herman Yosef Mboro, kepala pos pengamatan, tak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah, dan tidak mudah percaya isu yang tidak jelas sumbernya. Selain itu, kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan juga harus ditingkatkan, terutama di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak gunung, seperti Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen. Abu vulkanik yang terlontar pun bisa mengganggu pernapasan, sehingga penggunaan masker menjadi sangat penting.

Masyarakat di Zona Merah: Dilema Kemanusiaan

Yang paling memilukan adalah kondisi para penyintas yang terpaksa kembali ke zona merah. Tekanan ekonomi membuat mereka harus mengais rezeki di daerah yang secara teknis berbahaya. Marsel, salah seorang warga, mengakui bahwa meskipun tahu risikonya, kebutuhan hidup memaksa mereka kembali. Ini adalah potret nyata dari kerentanan sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat korban bencana. Mereka membutuhkan solusi jangka panjang, bukan sekadar bantuan tanggap darurat. Relokasi yang memadai, dukungan ekonomi berkelanjutan, dan pemulihan psikologis adalah kunci agar mereka tidak lagi terjebak dalam siklus berbahaya ini.

Sejarah dan Kepercayaan Lokal

Gunung Lewotobi, yang terdiri dari Laki-laki dan Perempuan, memiliki makna mendalam bagi masyarakat Flores. Mereka menganggap gunung ini sebagai tempat leluhur, dan erupsi seringkali diartikan sebagai tanda kemarahan para leluhur, mungkin akibat konflik antarsuku. Kepercayaan ini, meskipun bersifat mistis, menunjukkan betapa eratnya hubungan antara masyarakat dan alam di sekitar mereka. Namun, di era modern ini, sains dan kearifan lokal harus berjalan beriringan untuk mitigasi bencana yang efektif.

Kejadian erupsi dua kali pada pagi ini, 2 Juni 2026, kembali menempatkan Gunung Lewotobi Laki-laki dalam sorotan. Status Siaga yang terus dipertahankan adalah pengingat bahwa alam memiliki kekuatannya sendiri, dan kita sebagai manusia harus senantiasa waspada dan bijaksana dalam menyikapinya. Semoga masyarakat Flores Timur selalu diberi perlindungan dan kekuatan dalam menghadapi ancaman dari gunung berapi yang aktif ini.

Source: https://www.kompas.id/baca/nusantara/2026/06/02/dua-kali-erupsi-status-gunung-lewotobi-laki-laki-siaga



#Gunung Lewotobi Laki-laki #Erupsi #Status Siaga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama